Aku dan kamu berjalan menyusuri malam. Lenganmu merangkul
tubuh kecilku dengan erat dan indah bagai persahabatan. Dengan diam-diam aku
hirupi aroma tubuhmu, yang terserap indah ke dalam pori-pori jaket hitammu. Aku
menyukainya. Aku menyukainya. Dengan diam-diam juga kutatapi wajahmu yang bagai
kanak-kanak. Kanak-kanak yang menghirup tembakau berkulit putih.
“Aku
begitu menyukai kopi, karena ada rasa manis dan pahit yang terasa bersamaan.
Namun itu dulu, kini aku hanya ingin menikmatinya dengan rasa pahit, karena
kini aku bersamamu. Aku ingin menyediakan sedikit ruang untukmu. Untuk
memberikan rasa manis pada kopi pahit ini. Karena kamu sahabatku. Sahabat
termanisku.”
Begitu katamu, sembari mengacak-acak ubun-ubunku. Aku
hanya tertawa dan menganggapnya lucu, sembari menatap mata bulat jenakamu. Yang
terkabur oleh asap tembakau berkulit putih itu.
***
Malam tak pernah menghatarkan kantuk
kepadaku, ketika aku bersamamu, Rama sahabatku. Kuhisapi asap tembakau yang
sama denganmu, diiringi hirupan kopi pahit yang menjadi manis dengan kehadiran
mata bulat jenakamu.
“Jata,
aku begitu merindukan Shinta. Saat-saat kita bersama, melalui senja di
belantara rimba manusia.”
Aku tahu Rama, kamu begitu
merindukannya.
“Kamu
tahu Jata? Kamu begitu mirip dengannya. Kamu suka membaca kitab-kitab tanpa
gemerlap. Kamu suka berjalan di antara hujan. Kamu suka bersyair dalam bahasa
negeri seberang. Kamu suka menghirup udara pantai di kala petang. Kamu begitu
mirip dengannya. Kamu begitu hebat dan mengagumkan.”
Tidak Rama, aku tidak mirip
dengannya. Pakaian Shinta anggun seakan bukan pendosa. Ia bukan penghisap
tembakau berkulit putih seperti aku, kita. Ia bahkan ingin menyiramkan air
pemadam tembakaumu itu, sedangkan aku? Setiap kamu menghisap satu, aku juga
menghisap satu. Setiap kamu menghisap dua, aku menghisap dua. Ia berdoa kepada Dewata. Sedang aku hidup
berkubang dalam dosa.
Hembusan asap tembakau berkulit
putih itupun usai. Kamu alirkan bulir-bulir kopi pahit ke dalam rongga
kerongkonganmu. Mendesah sebentar, lalu menatapku. Menatapku dan terus
menatapku. Menelanjangi. Seakan mereka memiliki tangan untuk mengelupasi
pakaian kebohonganku, terhadapmu. Semakin dalam kamu menelanjangiku, semakin
dalam aku hisap asap tembakauku. Agar tersembunyi segala yang kumiliki untukmu.
Kamu menghirup nafas sebentar, lalu melanjutkan.
“Jata,
aku selalu berfikir Shinta mencintaiku. Aku selalu berfikir Shinta menganggapku
berharga. Namun ternyata tidak. Ia mencintai Rahwana. Ia tergoda dengan pesona
Rahwana. Ia meninggalkanku tanpa sedikitpun meninggalkan kata-kata. Padahal aku
begitu mencintainya.”
Tidak Rama, sahabatku. Ia berfikir
kamu belum cukup mengejarnya, karena kamu menjebaknya dalam kubangan prasangka.
Ia juga mencintaimu, namun merasa tak diinginkan olehmu. Pertanyaan-pertanyaan
yang kamu ajukan padanya hanya melukainya, meragukan perasaannya. Ia tidak
tergoda oleh Rahwana. Namun ia seakan harus berjalan bersamanya. Dan kamu..
kamu tidak mencintainya. Kamu hanya menginginkan keberadaannya. Kamu hanya
merindukannya, merindukan keberadaan Shinta yang tak pernah bertanya tentang
cinta.
***
Malam
merayap tanpa mau dihentikan. Purnama tenggelam tanpa suara berlebihan. Kulihat
kamu terlelap dalam kelelahan perasaanmu sendiri. Kehilangan Shinta yang kamu
anggap cinta. Padahal di sini ada aku yang mencintaimu, wahai sahabatku Rama.
Akulah
Trijata di masa kini. Pengawal dan sahabat setia Shinta. Shinta yang wujudnya
telah dirampas oleh Rahwana. Dan aku tahu, hati Shinta tak pernah dirampas oleh
Rahwana. Shinta hanya mencintai Rama, Rama yang kini sahabatku juga. Sayangnya,
aku jatuh cinta kepadanya.
Cinta.
Cinta. Cinta. Apa itu cinta aku tak begitu mengerti. Mengapa bisa aku
terkalahkan olehnya. Aku adalah Trijata, ditakdirkan untuk bersama dan
mencintai Hanoman saja. Hnoman sang wanara buruk rupa yang ksatria dan setia. Meski
sampai sekarang aku belum menemuinya. Dan kini aku bertemu Rama, kekasih
sahabatku Shinta, yang dianggap meninggalkannya. Aku telah mengkhianati
takdirku. Bukan, bukan aku, namun hatiku. Hati. Apakah hati itu? digerakkan
oleh apakah sang hati hingga mampu mengkhianati suratan yang telah dituliskan? Bilamana
Dewata penggerak hati adalah sama dengan penulis suratan takdir, maka siapakah
yang khianat? Aku? Ataukah sang penggerak hati dan penulis takdir? Entahlah.
Yang
aku tahu cinta tidak buta. Cinta memiliki segala pengindra. Sempurna. Namun segala
indra itu ditumpulkan oleh cinta, secara sengaja. Maka begitulah aku,
menumpulkan segala wujud asli Trijata yang harusnya menanti Hanoman, namun
justru mencintai Rama. Rama sahabatku di masa kini.
***
Pagi
demi pagi berputar melingkar berganti dengan purnama. Namun cintaku tak begitu
mudah bertukar dengan yang lainnya. Aku Trijata, khianat dengan takdir karena
cinta. Cinta kepada sahabatku Rama, yang dahulu adalah kekasih Shinta.
Dan
begitulah aku kini. Mendengarkan keluh dan kesah dari Rama mengenai Shinta. Aku
menjadi lemah karenanya. Aku bukan menjadi Trijata yang seharusnya menolong
Shinta keluar dari cengkeraman Rahwana, seperti halnya Trijata yang terdahulu. Namun,
ingin ditolongkah Shinta? Bahagiakah ia dengan Rahwana? Sedihkah ia bila jauh
dari Rama? Aku tak begitu ingin mengetahuinya.
Kini
aku duduk berhadap-hadapan dengan Rama, sahabatku. Ia mengambil tembakau
berkulit putih, satu. Aku mengambil pula, satu. Ia membakar ujung tembakau itu,
aku juga membakar ujung tembakauku. Ia menghembuskan asap tembakau, sembari
menatapiku. Lagi, lagi, terus dan terus. Semakin ia menatapiku, semakin aku menghisap
tembakau beracun itu. Semakin lama hatiku semakin lemah, namun buncah. Tatapannya
menelanjangiku untuk yang kesekian kali. Namun hisapan tembakau ini tak
menolong menyembunyikan segala yang kumiliki untuknya sama sekali. Maka aku
biarkan Rama, sahabatku menelanjangiku hingga bulat-bulat. Tak lagi
kusembunyikan segalanya. Dan ia masih terus menelanjangiku tanpa paksa, aku,
Trijata, rela. Kini aku telah telanjang bulat. Segala milikku yang tersimpan
untuknya mulai diambil dan dirampas ke dalam sisinya. Aku telah bulat,
telanjang tanpa sekat, lalu bersama kami melupakan suratan takdir. Dan bersama,
kami telah berkhianat.