Rabu, 08 Mei 2013

Jata



            Aku dan kamu berjalan menyusuri malam. Lenganmu merangkul tubuh kecilku dengan erat dan indah bagai persahabatan. Dengan diam-diam aku hirupi aroma tubuhmu, yang terserap indah ke dalam pori-pori jaket hitammu. Aku menyukainya. Aku menyukainya. Dengan diam-diam juga kutatapi wajahmu yang bagai kanak-kanak. Kanak-kanak yang menghirup tembakau berkulit putih.

“Aku begitu menyukai kopi, karena ada rasa manis dan pahit yang terasa bersamaan. Namun itu dulu, kini aku hanya ingin menikmatinya dengan rasa pahit, karena kini aku bersamamu. Aku ingin menyediakan sedikit ruang untukmu. Untuk memberikan rasa manis pada kopi pahit ini. Karena kamu sahabatku. Sahabat termanisku.”

            Begitu katamu, sembari mengacak-acak ubun-ubunku. Aku hanya tertawa dan menganggapnya lucu, sembari menatap mata bulat jenakamu. Yang terkabur oleh asap tembakau berkulit putih itu.
***
            Malam tak pernah menghatarkan kantuk kepadaku, ketika aku bersamamu, Rama sahabatku. Kuhisapi asap tembakau yang sama denganmu, diiringi hirupan kopi pahit yang menjadi manis dengan kehadiran mata bulat jenakamu.

“Jata, aku begitu merindukan Shinta. Saat-saat kita bersama, melalui senja di belantara rimba manusia.”
Aku tahu Rama, kamu begitu merindukannya.

“Kamu tahu Jata? Kamu begitu mirip dengannya. Kamu suka membaca kitab-kitab tanpa gemerlap. Kamu suka berjalan di antara hujan. Kamu suka bersyair dalam bahasa negeri seberang. Kamu suka menghirup udara pantai di kala petang. Kamu begitu mirip dengannya. Kamu begitu hebat dan mengagumkan.”

Tidak Rama, aku tidak mirip dengannya. Pakaian Shinta anggun seakan bukan pendosa. Ia bukan penghisap tembakau berkulit putih seperti aku, kita. Ia bahkan ingin menyiramkan air pemadam tembakaumu itu, sedangkan aku? Setiap kamu menghisap satu, aku juga menghisap satu. Setiap kamu menghisap dua, aku menghisap  dua. Ia berdoa kepada Dewata. Sedang aku hidup berkubang dalam dosa.

            Hembusan asap tembakau berkulit putih itupun usai. Kamu alirkan bulir-bulir kopi pahit ke dalam rongga kerongkonganmu. Mendesah sebentar, lalu menatapku. Menatapku dan terus menatapku. Menelanjangi. Seakan mereka memiliki tangan untuk mengelupasi pakaian kebohonganku, terhadapmu. Semakin dalam kamu menelanjangiku, semakin dalam aku hisap asap tembakauku. Agar tersembunyi segala yang kumiliki untukmu. Kamu menghirup nafas sebentar, lalu melanjutkan.

“Jata, aku selalu berfikir Shinta mencintaiku. Aku selalu berfikir Shinta menganggapku berharga. Namun ternyata tidak. Ia mencintai Rahwana. Ia tergoda dengan pesona Rahwana. Ia meninggalkanku tanpa sedikitpun meninggalkan kata-kata. Padahal aku begitu mencintainya.”

Tidak Rama, sahabatku. Ia berfikir kamu belum cukup mengejarnya, karena kamu menjebaknya dalam kubangan prasangka. Ia juga mencintaimu, namun merasa tak diinginkan olehmu. Pertanyaan-pertanyaan yang kamu ajukan padanya hanya melukainya, meragukan perasaannya. Ia tidak tergoda oleh Rahwana. Namun ia seakan harus berjalan bersamanya. Dan kamu.. kamu tidak mencintainya. Kamu hanya menginginkan keberadaannya. Kamu hanya merindukannya, merindukan keberadaan Shinta yang tak pernah bertanya tentang cinta.
***
Malam merayap tanpa mau dihentikan. Purnama tenggelam tanpa suara berlebihan. Kulihat kamu terlelap dalam kelelahan perasaanmu sendiri. Kehilangan Shinta yang kamu anggap cinta. Padahal di sini ada aku yang mencintaimu, wahai sahabatku Rama.
Akulah Trijata di masa kini. Pengawal dan sahabat setia Shinta. Shinta yang wujudnya telah dirampas oleh Rahwana. Dan aku tahu, hati Shinta tak pernah dirampas oleh Rahwana. Shinta hanya mencintai Rama, Rama yang kini sahabatku juga. Sayangnya, aku jatuh cinta kepadanya.
Cinta. Cinta. Cinta. Apa itu cinta aku tak begitu mengerti. Mengapa bisa aku terkalahkan olehnya. Aku adalah Trijata, ditakdirkan untuk bersama dan mencintai Hanoman saja. Hnoman sang wanara buruk rupa yang ksatria dan setia. Meski sampai sekarang aku belum menemuinya. Dan kini aku bertemu Rama, kekasih sahabatku Shinta, yang dianggap meninggalkannya. Aku telah mengkhianati takdirku. Bukan, bukan aku, namun hatiku. Hati. Apakah hati itu? digerakkan oleh apakah sang hati hingga mampu mengkhianati suratan yang telah dituliskan? Bilamana Dewata penggerak hati adalah sama dengan penulis suratan takdir, maka siapakah yang khianat? Aku? Ataukah sang penggerak hati dan penulis takdir? Entahlah.
Yang aku tahu cinta tidak buta. Cinta memiliki segala pengindra. Sempurna. Namun segala indra itu ditumpulkan oleh cinta, secara sengaja. Maka begitulah aku, menumpulkan segala wujud asli Trijata yang harusnya menanti Hanoman, namun justru mencintai Rama. Rama sahabatku di masa kini.
***
Pagi demi pagi berputar melingkar berganti dengan purnama. Namun cintaku tak begitu mudah bertukar dengan yang lainnya. Aku Trijata, khianat dengan takdir karena cinta. Cinta kepada sahabatku Rama, yang dahulu adalah kekasih Shinta.
Dan begitulah aku kini. Mendengarkan keluh dan kesah dari Rama mengenai Shinta. Aku menjadi lemah karenanya. Aku bukan menjadi Trijata yang seharusnya menolong Shinta keluar dari cengkeraman Rahwana, seperti halnya Trijata yang terdahulu. Namun, ingin ditolongkah Shinta? Bahagiakah ia dengan Rahwana? Sedihkah ia bila jauh dari Rama? Aku tak begitu ingin mengetahuinya.
Kini aku duduk berhadap-hadapan dengan Rama, sahabatku. Ia mengambil tembakau berkulit putih, satu. Aku mengambil pula, satu. Ia membakar ujung tembakau itu, aku juga membakar ujung tembakauku. Ia menghembuskan asap tembakau, sembari menatapiku. Lagi, lagi, terus dan terus. Semakin ia menatapiku, semakin aku menghisap tembakau beracun itu. Semakin lama hatiku semakin lemah, namun buncah. Tatapannya menelanjangiku untuk yang kesekian kali. Namun hisapan tembakau ini tak menolong menyembunyikan segala yang kumiliki untuknya sama sekali. Maka aku biarkan Rama, sahabatku menelanjangiku hingga bulat-bulat. Tak lagi kusembunyikan segalanya. Dan ia masih terus menelanjangiku tanpa paksa, aku, Trijata, rela. Kini aku telah telanjang bulat. Segala milikku yang tersimpan untuknya mulai diambil dan dirampas ke dalam sisinya. Aku telah bulat, telanjang tanpa sekat, lalu bersama kami melupakan suratan takdir. Dan bersama, kami telah berkhianat.