“Aku melihat kamu, saat ini.
Dalam ruangan yang hampa, tanpa
udara.
Segalanya berwarna oranye, dan aku
adalah titik di sudut kanan.
Kamu mendatangiku, kamu menyentuh
wajahku.
Wajah… mengapa wajahku begitu peka
dan perasa…
Pipiku memerah dengan keberadaanmu
yang begitu menyejukkan…
Aku merasa seperti seorang gadis
lugu yang percaya akan kedatangan seorang pangeran.
Dan begitulah kamu…
Wajah.. wajah yang begitu tampan…
Tangan yang begitu perkasa…
Lalu hilang perkasanya.
Kala ia meraba dada, dua buah dada…
Begitu lembut, menenangkan,
menyamankan…
Mengapa menyamankan, bila dua buah
dada yang diraba ini membuatku begitu malu?
Karena dibaliknya, ada hati yang
turut diraba, lalu digenggam.
Dimiliki, lalu dilindungi.
Aku kamu miliki.
Aku kamu lindungi.
Bila cahaya sekitarku adalah
oranye.
Aku adalah titik hitamnya.
Bila aku adalah titik hitamnya,
begitu juga dengan kamu.
Titik hitam..
Mengapa aku harus titik hitam?
Mengapa kamu juga harus titik
hitam?
Mengapa lalu, hitam dianggap cemar?
Mengapa kini aku merasa cemar?
Kita beradu, kita berpadu, kita
menyatu
Oranye menjadi hitam, titik dua
menjadi lebur.
Aurora menjadi abu-abu.
Segalanya menjadi mengabu.
Mengabu lalu menghitam.
Aku terisak, kamu mendesak.
Aku tersengal, kamu menjejal.
Aku tak kunjung menjadi binal.
Tak ada binal, hanyalah sesal.
Segalanya menggelap dan menjadi suram.
Peluh pun bercucuran tanpa bisa
diredam.
Airmata menetes kala kamu pergi
dari sisi.
Arah sesembahan menjadi lebih
berarti dari diri.
Kesucian hilang, engkau melayang.
Kembali aku sendiri menjadi titik
hitam di sudut kanan.
Dalam warna oranye dari sebuah
ruang.
Warna oranye adalah warna yang
muncul dalam citra mataku.
Nyatanya, di dalam warna itu,
merahlah yang menjadi pewarna.
Dan aku hanyalah kuning di balik
hitam yang sendiri.
Merahpun mencuat,
Merahpun menghujat,
Merahpun menghantam,
Merah yang muncul di awal sebelum
kemunculanku,
Merah yang mengalir dari sisiku.
Merah yang berisi catatan hampir
sama denganku.
Merah yang menunjukkan kami sedarah.
Lalu aku melihat dua wajah, dan
kulihat kamu berdarah.
“Bajingan!”
Teriak sang merah, sembari
tangannya mendarat di permukaan .
Aku menangis terisak, menolak kamu
dinamai bajingan.
Aku menangis terisak, menyetujui
bahwa kamu bajingan.
Aku tersengal dan memegangi dada.
Tak ada sayatan namun terasa luka.
Pejaman matapun tak mampu
menghilangkan lara.
Lalu dirikupun terbelah menjadi
dua.
Kulihat wujudnya yang begitu sama.
Namun lihatlah matanya, begitu
berbeda.
Aku tidak melihat diriku yang
kukenal di sana.
Tubuhnya sintal, geriknya binal.
Dengan matanya yang menyala, ia
berbisik namun berteriak kepadaku,
“Kamu bukanlah korban
Kamu tahu persis apa yang akan dia
lakukan
Kamu hanya merasa dirimu perempuan
Kamu merasa pantas menyalahkan
Kamu tahu akan banyak iba
berdatangan
Kamu memang berduka atas keberadaan
ukuran kesucian
Namun kamu tak pantas merasa
kehilangan”
Aku tak ingin tahu menau tentang
pendapatnya
Kesucianku telah dirobek paksa
Aku pantas merasa sia-sia
Aku pantas merasa terhina
Aku adalah korban
Aku ditinggalkan
Dan aku pantas merasa kehilangan.”