Senin, 01 Juli 2013

Oranye



“Aku melihat kamu, saat ini.
Dalam ruangan yang hampa, tanpa udara.
Segalanya berwarna oranye, dan aku adalah titik di sudut kanan.
Kamu mendatangiku, kamu menyentuh wajahku.
Wajah… mengapa wajahku begitu peka dan perasa…
Pipiku memerah dengan keberadaanmu yang begitu menyejukkan…
Aku merasa seperti seorang gadis lugu yang percaya akan kedatangan seorang pangeran.
Dan begitulah kamu…
Wajah.. wajah yang begitu tampan…
Tangan yang begitu perkasa…
Lalu hilang perkasanya.
Kala ia meraba dada, dua buah dada…
Begitu lembut, menenangkan, menyamankan…
Mengapa menyamankan, bila dua buah dada yang diraba ini membuatku begitu malu?
Karena dibaliknya, ada hati yang turut diraba, lalu digenggam.
Dimiliki, lalu dilindungi.
Aku kamu miliki.
Aku kamu lindungi.

Bila cahaya sekitarku adalah oranye.
Aku adalah titik hitamnya.
Bila aku adalah titik hitamnya, begitu juga dengan kamu.
Titik hitam..
Mengapa aku harus titik hitam?
Mengapa kamu juga harus titik hitam?
Mengapa lalu, hitam dianggap cemar?
Mengapa kini aku merasa cemar?
Kita beradu, kita berpadu, kita menyatu
Oranye menjadi hitam, titik dua menjadi lebur.
Aurora menjadi abu-abu.
Segalanya menjadi mengabu.
Mengabu lalu menghitam.
Aku terisak, kamu mendesak.
Aku tersengal, kamu menjejal.
Aku tak kunjung menjadi binal.
Tak ada binal, hanyalah sesal.

Segalanya menggelap dan menjadi suram.
Peluh pun bercucuran tanpa bisa diredam.
Airmata menetes kala kamu pergi dari sisi.
Arah sesembahan menjadi lebih berarti dari diri.
Kesucian hilang, engkau melayang.
Kembali aku sendiri menjadi titik hitam di sudut kanan.
Dalam warna oranye dari sebuah ruang.

Warna oranye adalah warna yang muncul dalam citra mataku.
Nyatanya, di dalam warna itu, merahlah yang menjadi pewarna.
Dan aku hanyalah kuning di balik hitam yang sendiri.
Merahpun mencuat,
Merahpun menghujat,
Merahpun menghantam,
Merah yang muncul di awal sebelum kemunculanku,
Merah yang mengalir dari sisiku.
Merah yang berisi catatan hampir sama denganku.
Merah yang menunjukkan kami sedarah.

Lalu aku melihat dua wajah, dan kulihat kamu berdarah.
“Bajingan!”
Teriak sang merah, sembari tangannya mendarat di permukaan .
Aku menangis terisak, menolak kamu dinamai bajingan.
Aku menangis terisak, menyetujui bahwa kamu bajingan.
Aku tersengal dan memegangi dada.
Tak ada sayatan namun terasa luka.
Pejaman matapun tak mampu menghilangkan lara.

Lalu dirikupun terbelah menjadi dua.
Kulihat wujudnya yang begitu sama.
Namun lihatlah matanya, begitu berbeda.
Aku tidak melihat diriku yang kukenal di sana.
Tubuhnya sintal, geriknya binal.
Dengan matanya yang menyala, ia berbisik namun berteriak kepadaku,

“Kamu bukanlah korban
Kamu tahu persis apa yang akan dia lakukan
Kamu hanya merasa dirimu perempuan
Kamu merasa pantas menyalahkan
Kamu tahu akan banyak iba berdatangan
Kamu memang berduka atas keberadaan ukuran kesucian
Namun kamu tak pantas merasa kehilangan”

Aku tak ingin tahu menau tentang pendapatnya
Kesucianku telah dirobek paksa
Aku pantas merasa sia-sia
Aku pantas merasa terhina
Aku adalah korban
Aku ditinggalkan
Dan aku pantas merasa kehilangan.”