Minggu, 12 Februari 2012

Shall I Compare Thee To a Summer's Day by: William Shakespeare


Shall I compare thee to a Summer's day?
Thou art more lovely and more temperate:
Rough winds do shake the darling buds of May,
And Summer's lease hath all too short a date:
Sometime too hot the eye of heaven shines,
And oft' is his gold complexion dimm'd;
And every fair from fair sometime declines,
By chance or nature's changing course untrimm'd:
But thy eternal Summer shall not fade
Nor lose possession of that fair thou owest;
Nor shall Death brag thou wanderest in his shade,
When in eternal lines to time thou growest:

So long as men can breathe, or eyes can see,
So long lives this, and this gives life to thee.

Absurd, Don't read !!

x: "Eh, akhirnya ak bisa renang loh xxx, yeahh !"
y: "I feel like a shit"
x: "walah, kenapa e? Miss u darl :*"
y: "Thank you banget yaa. hwaa aku stress banget, really in the depth."
x: "Semangat lhoo,"
y: "Miss you darl, huhu. One more round to go. Wish me bite."
x: "OK, good luck yaaa !!"
y: "I don't need luck, I need to bite people, hwaaaa"
x: "Use your tits then to bite people, oops I mean, teeth :3"
y: "Many tits here, -_-, Ah no me mean teeth"
x: "So use your teeth to bite those tits!! hahaha"
y: "Euh, not gonna happen in million years -_-"
x: "It's gonna, for your punishment in hell !! hahahaha"
y: "-_-"

Jumat, 10 Februari 2012

Kabisat Ini Istimewa by: Rainy Ayu Gustira, 25 Desember 2008

Malam ini sunyi senyap. Bahkan bulan pun tak sudi muncul dan membagi cahayanya untukku. Apalagi bintang yang biasanya genit menggoda anak cucu Adam. Berkerlip… bergoyang dan berkilauan. Namun kini hanya ada jangkrik yang berdendang sumbang seakan mencibir makhluk yang nyata-nyata lebih sempurna darinya…AKU…karena mereka bersama dan aku…??sendiri…        

Aku hanya terkatup beku di sudut ruangan ini. Hanya mampu duduk meringkuk…menunduk…memaklumi sendiri yang kejam ini. Tanganku hanya mampu memegang dada yang sesak menahan ledakan kesedihan yang nista, sakit dan entah berwarna apa. Mungkin merah…semerah darahku yang mulai beku… Beku karena dinginya sikapmu yang hanya mau menyakiti. Begitu dingin hingga aromanya ku hirup dan masuk ke dalam paru-paru, menyebar hingga ke bilik jantung, memproduksi hemoglobin pada setiap kepingan sel darahku… menyebar hingga ke otak,sumsum tulang dan segala rupa isi dalam tubuhku yang entah sampai kapan mampu bernafas ini… Itulah darah yang selama ini mengaliri setiap ,batang urat nadiku… Darah dari aroma dinginnya sikapmu.
         
Saat itu aku rapuh…merana …lunglai… Tak ku sangka pula Tuhan turut campur dalam hal ini. Dia tak lagi berpijak tegar dalam dimensi umat manusia. Aku memang lemah, kecil, tanpa daya. Hanya mampu menjerit dan mengisak tangisan yang tumpah ruah dalam hingar bingar segelintir mereka. Euforia penyambutan malaikat bergigi panjang hitam yang hobby nyengir saat manusia ketakutan. Euforia yang aneh…huh… dunia memang panggung sandiwara.         

Tiga kali sudah berlalu, rembulan yang sudi menemani tumpah ruah air mataku… Di tiap malam ku renungi kenangan buruk terakhir dengannya. Sifatku yang kekanakkan dan nakal. Menyesal aku kini…mengapa dulu tak kujadikan ia sahabat saja? sehingga tiap saat aku bisa bersamanya… Tapi apa daya… saat itu aku hanyalah anak kecil yang nakal…         

Adakah cadangan air mata di dunia ini..?? Atau di salah satu bagian tubuhku..?? Itulah tanyaku selama tiga dewi malam selanjutnya. Apakah kehilangan ini begitu agung??sehingga terkultus menjadi puncak kesedihanku?? Sebegitu agungnya hingga tak rela lagi ku titikkan air mata hanya demi sakit, luka dan nista yang remeh temeh saja. Hingga aku sendiri pun heran. Apakah aku bertambah dewasa sehingga air mataku sulit untuk sudi menumpahkan dirinya?? Atau karena airmataku memang sudah habis terkuras doa yang ku tujukan pada Tuhanku tercinta?? Atau karena rasa kecewa pada Tuhan pula hingga makhluk kecil hina sepertiku ini ingin unjuk gigi di hadapan-Nya…??? Entahlah… Tapi ku pikir ini memang puncak kesedihan yang menggiringku dalam kedewasaan supaya dapat ku lenyapkan dendam untuk kembali dekat dengan-Nya.         

Bulan pertama di tahun kabisat. Mahkotaku ku papak habis. Tubuhku mengurus, bibirku pecah, wajahku pucat pasi. Hanya karena sandaranku yang pergi entah ke mana. Di dunia antah berantah tempat manusia tau wajah surga dan neraka mungkin. Selama itu yang ku renungi hanyalah malam. Kehilangan yang teramat sangat itu menggiringku dalam ikatan luka yang nikmat untuk dihayati. Maka waktu yang indah untuk luka itu adalah malam. Hari-hariku yang harusnya indah justru seperti tanpa arti saja. Sepenuh daya kulakukan demi airmata itu. Tapi nihil saja, seperti berusaha menangkap angin dengan tangan… mustahil… Tak ada kesedihan manapun juga yang mampu membuatku terkejut hingga membuat rangsangan di mataku supaya menganaksungaikan airmata. Tanpa peresmian apapun juga jadilah aku manusia gila tanpa duka. Dengan ribuan kedok yang membungkusku dalam sosok manis, baik dan kuat. Tanpa ada yang tau betapa tulangbelulangku rapuh, hatiku kering dan darahku hampir beku… Segala tentangku hanya tinggal menunggu hancur saja. Tapi apa daya…luka ini nikmat… Maka ku nikmati saja.         

Masih di bulan pertama di tahun kabisat ini. Dan sandaran hatiku masih juga tak mau kembali. Masih juga aku yang lugu namun gila didampingi rasa rindu yang tak dapat tertahankan. Namun kembali, tangis yang ku nantikan tak kunjung juga datang. Sakit, nyeri, ngilu rasanya dadaku tersesakkan oleh rindu yang teramat sangat ini. Saat jiwaku kosong inilah… aku bertemu kamu… Sesosok matahari yang sederhana saja… Sepertinya kamu yang sadarkan aku dari kecintaanku terhadap malam. Kau dongakkan kepalaku ke arah timur supaya ku sadari terangnya fajar yang awali hariku…            Kepalaku memang keras, tapi kepalamu lebih keras. Berbenturan dan… PRAKKK…!! Aku kalah. Sepertinya kau gemas dengan sikapku yang terlalu naïf meletakkan pandangan pengorbanan. Kau ingatkan aku… goncang-goncangkan tubuhku supaya sadar bahwa nyawaku masih di sini. Hidupku masih panjang. Pernahkah aku sebegitu bergairah pada pengorbanan, tapi bukan untuk satu orang… melainkan untuk Tuhanku… Tanyamu padaku…         

Kau juga yang berani mengusik mimpi-mimpiku di malam yang sepi. Membangunkanku dengan suaramu yang lembut, merdu namun menusuk. Kaulah orang pertama… cahaya pertama yang berani mengusik luka yang terpendam jauh di pusat hati. Mengoreknya, mengusiknya bahkan menusuknya hingga pecah terburai berantakan. Apakah kau tau apa kemudian??? Kemudian tangisku pecah menggaung hingga ke dinding angkasa. Mengingatkan kebodohanku dan harapan-harapan kosong tanpa nutrisi dan guna. Kau bangunkan aku dari kelamnya malam yang membungkus hatiku hingga tak ada duka manapun yang mampu melunakkannya. Dan ternyata penantianku akan tangis tak terjadi di dalam bekunya malam. Tapi justru di waktu fajar yang sempat ku tinggalkan demi dendam yang tak bermuka.         

Kini aku tau kaulah matahari yang sanggup membuatku ingat cara menangis. Itulah tangisan pertamaku setelah sakit yang terlalu lama aku kultuskan dalam kemakluman di kehilangan yang teramat sangat. Karena cahayamu lah matahari… tangisku yang beku terendap dalam lara di hati sanggup mencair, meleleh seperti es di kutub utara yang meleleh menimbulkan gelombang ombak kesadaranku akan betapa berharganya aku. Bagai ombak yang meninggi karena pemanasan global itu aku membabi buta. Berani menerjang dunia yang mulai panas dan kejam ini. Kau angkat paksa aku dari kubangan Lumpur kebohongan yang ku buat sendiri dengan tanganmu yang halus , meraih hatiku yang sudah terjerembab jatuh jauh dalam dasar kubangan gelap dan menyesatkan itu. Kau sinari aku dengan cahayamu yang indah memberikan semangat baru untuk cinta pada Tuhan, diriku, hari-hariku, kemampuan dan kebergunaanku bagi lingkungan sekitarku yang seharusnya sangat strategis untuk menumbuhkan bunga kecil yang berangsur ranum sapertiku agar menjadi indah dan berguna bagi duniaku yang kecil ini. Aku mulai tumbuh mengikuti sinar matahari di atas sana. Berani menerjang angin, menatap ke depan dengan segala yang aku punyai. Bukan semata keindahan fana warna-warni dan lekuk yang memabukkan. Namun kualitas yang ditimbulkan dari nutrisi sesosok matahari yang menemani siang hariku yang kian berarti. Itulah arti kamu di masa penyembuhanku dari luka yang kadang muncul entah di mana.         

Cinta kadang muncul karena terbiasa, atau karena ada kebahagiaan yang diberikan… materi, atau juga senyuman. Tapi cinta yang kurasakan dan yang tumbuh di ladang hatiku adalah karena tangis yang kau berikan. Banyak wanita yang bersimpati dan mengalami cinta karena sang pria sanggup memberi tanda rekahan di bibir hawa milik mereka. Tapi aku…??? Aku jatuh cinta karena cahayamu yang sanggup melelehkan airmataku.. mendamaikanku dengan dunia dan dengan diriku sendiri. Mendekatkanku dengan Tuhan. Bahkan tak ada satu orang pun yang tega membangunkanku di tengah malam buta. Namun kau melakukannya. Bahkan sempat pula kau selamatkan aku dari mimpi buruk. Demi membantuku berinteraksi dengan Sang Pencipta. Itulah kamu. Kamu berbeda matahari… Sungguh berbeda…

            Hujan…itulah aku… Matahari… itulah kamu. Tak pernah kulihat di dunia mereka hadir bersama. Dan pada kenyataannya pun begitu. Aku cinta kamu… Mungkin kamu tau itu. Tapi entah pernahkah terlintas di benakmu bahwa kita sangat amat berbeda…???           

Kamu adalah orang yang taat pada Tuhanmu.. Santri mungkin. Begitu santun cahaya memancar dari wajahmu. Keindahan dari seorang pecinta rumah Tuhan. Sedangkan aku…??? Aku hanyalah manusia semrawut, liberal dan radikal. Terutama egoku yang sering memuncak. Mahkotaku yang ku biarkan terurai bebas dipermainkan ingin. Kain-kain penutup tubuhku yang tak selebar kurungan merpati. Tak seagung baju gamis yang dikenakan bunga-bunga cantik di lingkungan santri juga. Aku pribadi bebas, lepas, unik… Tak ingin terikat aturan para konservatif di ujung dunia manapun… Itulah aku…         

 Begitu bertolak belakang dasar-dasar diri kita wahai matahari… Dan satu hal yang sama… Sialnya kita keras kepala… sial sekali… mengapa justru ini kesamaannya??? Walau terkadang aku terkapar sendirian. Dan kembali… kau datang dengan kata-katamu yang sejuk…

           Matahari… Kita beranjak dewasa…Aku pun tumbuh menjadi hujan yang berani. Tak lagi terpaku akan kenikmatan luka di malam yang sepi. Kau pun begitu… Semakin indah dan hangat cahayamu. Tapi bagiku, kau menjadi lebih beku untuk aku. Mengapa wahai matahari?? Pertanyaan yang belum sempat terjawab meski telah bertemu kembali. Sebenarnya apa yang kau tunggu?? Haruskah ku ungkapka cinta ini padahal kau telah tau?? Tak dapat ku pahami sikapmu yang penuh misteri dan berjuta arti. Namun memang teduh yang ku rasa saat balas tatapanmu. Walau aku tau kau lelah… Apa kau pikir aku tak lelah?? Begitu lelah aku menunggu cahayamu untuk kembali memelukku.            Huh… apa semua ini karena kau tak sanggup untuk bersama dengan yang berbeda?? Yah…aku pun lebih yakin lagi bahwa aku pun tak akan sanggup bersama dengan yang berbeda. Tapi asal kau tau… Aku lebih tak sanggup lagi untuk dapat jatuh cinta dan rela berkorban sebergairah sekarang ini. Tapi entah… mungkin aku akan sanggup untuk rela bila melihatmu bersama dengan bunga yang jauh lebih indah dariku… Tapi mutlak… Hujan ini tak akan rela bila mengetahui kau tak lagi ada dalam dimensi ini…         

Matahari… Kita tak akan tau apa yang akan terjadi di masa depan… Bahkan yang akan terjadi di satu mikron detik selanjutnya sekalipun. Lalu cinta ini apakah akan bersemi dengan indahnya denganmu?? Yang jelas, Hujan ini mencintaimu dengan segenap hati, jiwa dan raga. Hanya Tuhan yang tau… Manusia semrawut dan seorang pecinta rumah Tuhan yang taat apakah akan dapat bersatu dalam cinta yang suci atau hanya akan dipasung oleh malaikat bergigi panjang hitam ke dalam liang kematian?? Apakah cukup sampai di sini saja cinta yang begitu besar ini?? Hanya Tuhan Yang tau. Yang aku tau adalah… Kabisat ini begitu indah dan istimewa… itulah bisikan dari arah telinga kiriku… dan… Kabisat ini begitu rumit dan sial… Itulah bisikan dari arah telinga kananku…  Itulah yang ku tau… Atau… sebenarnya aku tak pernah tau apa yang ku anggap aku mengetahuinya…???

Percakapan (relatif) Goblok Tahun 2011, jaman Intro to Prose nya Bu Niken :)

Aku: "nik, bakwan kawi enak deh,beli g ya?"
Niki: "beli aja,tak tungguin wes"
Aku: "gag ah,mamahku masak sop banyak bgt,pasti ak suruh ngabisin sepanci,huhu"
Tiara: (bengong)
Aku: "yah,bakwan kawine ngawe-ngawe je"
Niki&tiara: "beli aja to ah"
Aku: "yaudah tak beli,tp ewangi ngabisin,:D"
Niki: "iyooo, wuu dasar labil"
Aku: "kestabilan kan diawali dr kelabilan nik,wek,tak bli sek yo !"
Niki: "preeettt"
Tiara: (baca Animal Farm)

*silahkan analysis menggunaka teori moral criticism atau apapun itu, atau mungkin deconstruction? monggo...

Seized in Pride

learn well not to obey,
there is enemy to know then may we convey,
thought comes when I find my way is "wrong",
like I know, I am controlled by an eye in time, long,
nothing can be changed,
all words I say so sure, for the eye, are to be laughed,
I am seized in pride of understanding,
I help them to smirk, as king...

by: Rainy

(December, 9 2011)

PLAY: ACCIDENTALLY IN LOVE ON THE STREET, by: Rainy Ayu Gustira

SCENE 1
Narrator : “Rain and Nikki are good friends,. They are studying in the same university, in Yogyakarta State University in the study program of English Language and Literature. They are so close and knowing each other. One day after the tutorial…”

Rain:” Nik, how was the  writing test? Wasn’t it so hard to solve? I’m afraid of the mark, pfiuhh,,, Do you want it?? It’s a cassava crispy, without fat of course..”

Nikki: “ Yes that was so hard, even I feel something shaking in my head… Oh, of course I like it..heummm…yummyyy…

Rain : “ Wait, Oh Idham is calling.. Hello hunny, Yes I’m done, just take me here, well OK bye…”

Nikki : “ Oh..so sweet, you were just called by him… You must love him so much don’t you?”

Rain: “ Euuummm, of course…”

Idham : “ Hi hunny, how is the test? Isn’t it easy for you?”

Rain : “ hhh… are you kidding me? That’s so hard you know?? When will we leave hunny? I really want to get my new dress..”

Idham : “ Oh, Ok we’ll leave now.. hi hello Nikki ! Is it OK if we leave now?”

Nikki : “ Hi Idham!! It’s OK just leave me it’s OK.. Have fun Rain and Idham..”

Rain : “ OK Nikk, see you…”

SCENE 2

Narrator : “ Idham took rain home, then in rain’s house…”

Rain : “ Thank’s a lot for taking me home…”

Idham : “ Oh yes, you’re welcome rain…”

Jaf : “ Heiiii… my little girl is coming home…!!!”

Rain : “Hi Daddy… Dad,, this is Idham, Idham,, this is my dad…”

Jaf : “ Hi son,,, what’s up?? Are you rain’s boyfriend…?? Keep her well for me Ok!”

Idham : “ Sure yes Sir, nice to meet you…”

Jaf: “ Nice to meet you too…”

SCENE 3

Narrator : “ Rain was just arriving at home, she bought a new dress for her mom, She thought that her mom must be happy of it, but in fact She just Ignored her…”

Rain : “ Mom, I get a new dress for you, I think it’s good to you… would you love to…”

Arista : “ Just put it there dear, I’m busy, Thankyou…”

Rain : “ Well OK mom…”

SCENE 4

Narrator : “ Some days latter, rain wanted to go to the mall to buy some stuff, then…”

Jaf : “ Rain, where will you go hunny??”

Rain : “ I’ll go to the mall Dad… Where’s mom..??”

Jaf : “ Mom is in the beauty parlor, she wanted to cut her hair, Do you need me to take you there hunny??”

Rain : “ Oh, no thak’s Dad, I can go there alone by bus, it’s OK…”

Jaf : “ OK, be  careful…!!”

SCENE 5

Narrator : “ Rain was tired and felt so hungry, then she went to the food court, But she couldn’t believe in what she was seeing with her eyes,,,”

Rain : “ Mama…??? What are you doing here..???!!! Who is he??? You’re  dishonest with my Daddy… I can’t believe it mom…!!!”

Arista : “ Dear… what are you doing here…?? It’s not like what are you thinking of hunny… please let me explain it to you…”

Rain : “ Explain what mama???!!! Nothing to explain again, it’s clear… You’re wrong mama,,, absolutely…!!!

Arista : “ Please … please dear.. listen to me…”

Dimas : “ Hei, what’s going on… I’m your mama’s  ex boyfriend girl…!!! Understand it…!!!

Rain : “ I don’t care I’m not interested of who  a hell you are, But both of you have made my heart broken… I hate you all..!!!

Narrator: “ Knowing that kind of reality, rain was so sad, then rain phoned Idham,,,”

Rain : “ Idham,, I’m sad… I can’t believe in what…”

Idham : “ Sorry hunny, I can’t talk now,,, I’m busy… Call me latter Ok!!”

Rain : “ But, Idham, hello… Arrrgghhh… I’ll find you…”

SCENE 6

Narrator : “ Rain looked for Idham in Idham’s house, but there’s something unbelievable happened there…”

Nikki : “ Idham, do you think that what we are doing now is good to us?? You have rain right there, and she is so loyal of you, do you not think of her right now??”

Idham : “ Pordon me… Rain…??? hahahh,, she is just a little girl, I just make her like my Barbie doll, like a toy you know, You’re different. I prefer you to her. I’m so sorry to knew her first before you, hahaha”
Nikki : “ Idham I like you, but don’t you think that it’s not fear for her? It’s so cruel you know,, “

Idham : “ Who cares about it hunny??  Tomorrow I will break this relationship up with rain, hah,, what a little girl…”

Rain : “ Idham… Nikki, absolutely… I can’t believe it… “

Nikki : “ Rain…!! What are you doing here…?? I can explain it to you… we are friend aren’t we?”

Rain : “ What a fuck is the meaning of  friend?? Is this what you mean Nikki? I love you so much as my best friend, But you’re so cruel to me… I can’t believe it…”

Idham : “ Rain please…”

Rain : “ No…!! Don’t touch me,,, Let’s end it now, I wanna end this relationship… We must..!!!”

Idham : “ Rain … wait…!!!”

SCENE 7

Narrator : “ Rain was running so far away, she didn’t know anymore about the direction. That was so dark and the rain was pouring so hard. Rain was sitting under the  tree, and she was so cold and wet. Suddenly, there was a boy with a guitar came to her…”

Heru : “ Emmh, hello excusme mbak... are you OK? Who are you?”

Rain : “ hikz hikz hikz… brrrr… I’m cold, everyone is breaking my heart today,,,”

Heru : “ Sorry…?? “

Rain : “. . . . . . . . . . “

Heru : “ Well Ok, you don’t answer my question, well, what’s your name?? Let me introduce myself to you, I’m Heru.. What about you..??”

Rain : “ Rain…”

Heru : “ I’m sorry ?? Are you kidding me? I know that it rains, I asked you what’s your name mbak, not what happens now… So what’s your name?? And what are you doing here…?”

Rain : “ My name is rain OK!!! I’m eating here…!!! Don’t you see that I’m now sitting here and cold??? I hate today, everyone is cruel and lie to me today…!!!”

Heru : “ Well mbak, would you share it to me?? I think you must.”

Rain : “ What??? Share??? You think who you are…!!! Hatchuuiiiihhh (sneeze) ….!!! It’s so cold,,,”

Heru : “ It’s Ok it’s OK if you don’t want to share it to me, but you must warm yourself, here’s my jacket…  You should eat something and dry yourself… Don’t worry you are safe with me…”

Rain : “ Should I do your advice??? Should I believe in you??? “

Heru : “ OK, if you don’t want to, I’ll leave you here, bye,,, be  careful rain…“

Rain : “ Oh no  wait…!!!”

SCENE 8

Narrator : “ Nikki and Idham were eating in the restaurant, suddenly, Idham’s phonecell was ringing…”

Idham : “ I’m sorry Nikki, my mom is calling me, wait me for a while Ok..!!”
Nikki : “ OK…”

Idham : “ Hello hunny… what’s up ?? Oh,,, of course I miss you so much… What?? Having a date right now??? I’m so sorry hunny, I can’t, now I’m meeting with my lecture… How about tomorrow?? Well OK, see you ???”

Nikki : “ Good… Nice…”

Idham : “ Nikki??? What are you doing here???”

Nikki : “ Phoning my daddy?? What about you…!!! Was that your mom??”

Idham : “ Eummm… Nikki… please…”

Nikki : “ Please what…!!! Idham… Now I know that I have taken a wrong decision, I’ve broken my friendship with rain just because a bad boy like you…!!! Damn it all…!!! You must have said to your new girl friend that I’m just a little girl, or I’m just a little Barbie doll… Like what you said to me about rain. What an unlucky girls they are to love you.”

Idham : “ Nikki…”

Nikki : “ No… Don’t touch me…!!!  Just go to hell you…!!!”

SCENE 9

Narrator : “ Nikki came to rain’s house to apologize to rain because of the mistake  she made…”

Nikki : “ Assalamualaikum Pak…
Is rain in the house right now???”

Jaf : “ Wa’alaikumsalam nduk…”
What??  I think she is with you, she phoned me that she would sleep in your house..”

Nikki: “OMG… But now she is not with me pak, there must be something wrong about her…Let me phone her…
OMG, the number is not actuve…”

Jaf : “ OK, if that’s it, let’s look for her… mamaaaa…!!! Rain is lost; we must look for her…”

Arista: “What??? OK… let’s go…”

SCENE 10

Narrator: “Heru and Rain is now getting closer. Although actually Rain had not told Heru about what happened to her, but Rain began to believe in him, and now they are singing on the street to earn some money.

Rain : “ Waw,, Heru.. It’s a great job… I like it.. I can just forget my problem with it…”

Heru : “ Of course… It’s great… I also like it…”

Rain : “ How long have you been a singing beggar like now??”

Heru : “ Sorry??? Singing beggar??? I think I’m an artist…hahaha… It’s been 5 years since I graduated from the high school…”

Rain: “Artist??? Good… How a confidence boy you are…”

Narrator: “When rain and Heru were singing, Rain saw his father walking around the place she’s there… Rain held Heru’s hand and ran away …”

Rain: “ Heru run…!!!”

Heru: “ Hei,, what are you…”
Rain: “ Pssst… I saw my daddy; actually I escape from the house right now. But I just wanna make my self quiet. A little bit I’m tired of my situation…”

Heru: “Just share it to me Rain… I hope I can help you to solve it…”

Narrator: “Rain explained all the things that happened to Her to Heru… Then…

Heru: “I think you should go home Rain…”

Rain : “ Yes, I think so, but not now… I’m not ready yet… Thank’s Her for anything…”

Heru : “ you are welcome…”

SCENE 11

Narrator : “ Rain was buying a bread in a shop. Her mother, Arista saw her and came to her…”

Arista : “ Dear…”

Rain : “ Mom… what are you doing here?? Where is your boyfriend???”

Arista : “ Look, dear, he is not my boyfriend, please, believe in me. He is just my ex boyfriend when I was in the high school and now we have a business, that’s why I met him…”

Rain: “Mom I’m tired, you should know that I’m trying to believe in you… If you do it again, I feel like I wanna kill myself mom, you know???”

 Arista: “I promise Dear, I will care of you more than what you get now… Please go home now, I miss you, Dad is also missing you…”

Rain: “Mom, actually I really wanna go home, but I’m not ready yet for that… Please tell Daddy that I’m all right, and I miss him too…”

SCENE 12

Narrator: “Rain was starting to fall in love with Heru. She planed to say it when they ate. “

Rain: “Here’s the bread Her…”

Heru : “Thanks…”

Rain : “ Her, do you know…? Now I’m falling in love,, And I think it’s something like a little accident…”

Heru : “ Oh ya?? Something like accidentally in love?? Hahaha .. With whom…??”

Rain: “With you…”

Heru : “ What...!!!! uhuk uhuhuhuhuhkkk… (Choke)”

Rain: “Oh I’m sorry Her, I think you need it, drink it…”

Heru : “ Rain, you must be kidding me…”

Rain: “No… look… I’m serious… I don’t know why but I’m happy and comfortable when I’m with you, and I think it’s just wasting much time and energy if I don’t tell you this, so I just want you to know…”

Heru: “Rain, I’m sorry I can’t…”

Rain: “Her, I don’t need your answer, I’m not questioning you, I just tell it to you…”

Heru : “ No, I mean, actually I love you too…”

Rain: “Really???”

Heru: “yes…”

SCENE 13

Narrator: “Rain phoned Nikki to apologize to her, because however she missed her so much…”

Rain : “ Hello, Assalamualaikum, this is rain speaking…”

Nikki : “ Wa’alaikumsalam, rain… I’m sorry,  I didn’t mean to make it… Now I know that Idham is a playboy.

Rain : “ That’s not a big problem Nik, I always forgive you all time you apologize to me… tomorrow I will go home,, see you…”

Nikki : “ Oh, thankyou, u’re my best friend,,, see you…”

SCENE 14

Narrator: “In the following day, Heru took rain home and saw Jaf…”

Rain: “Daddy… I’m coming,,,”

Jaf: “Hi my little girl,, how are you …? Are you Ok?? Is anything allright??? Who is he???”

Rain : “ Everything’s just alright again Dad, I ‘m sorry for leaving you so long… Dad this is Heru, Heru this is my Daddy…”

Jaf : “ It’s OK dear, I’m sure that you have your own reason to do anything that you wanna do, Hey hello Her, hei nice guitar, can you sing ???”

Heru : “ Hei Pak, nice to meet you… of course let’s sing…”








Written by: Rainy Ayu Gustira
Played in Speaking 1 class
Lectured by Tamas Inzedy
 
*catatan: sakjane jayus, neng weslah, mingkem !!

please

This is my new blog after my two broken blogs, please, enjoy reading the articles :)