Jumat, 10 Februari 2012

Kabisat Ini Istimewa by: Rainy Ayu Gustira, 25 Desember 2008

Malam ini sunyi senyap. Bahkan bulan pun tak sudi muncul dan membagi cahayanya untukku. Apalagi bintang yang biasanya genit menggoda anak cucu Adam. Berkerlip… bergoyang dan berkilauan. Namun kini hanya ada jangkrik yang berdendang sumbang seakan mencibir makhluk yang nyata-nyata lebih sempurna darinya…AKU…karena mereka bersama dan aku…??sendiri…        

Aku hanya terkatup beku di sudut ruangan ini. Hanya mampu duduk meringkuk…menunduk…memaklumi sendiri yang kejam ini. Tanganku hanya mampu memegang dada yang sesak menahan ledakan kesedihan yang nista, sakit dan entah berwarna apa. Mungkin merah…semerah darahku yang mulai beku… Beku karena dinginya sikapmu yang hanya mau menyakiti. Begitu dingin hingga aromanya ku hirup dan masuk ke dalam paru-paru, menyebar hingga ke bilik jantung, memproduksi hemoglobin pada setiap kepingan sel darahku… menyebar hingga ke otak,sumsum tulang dan segala rupa isi dalam tubuhku yang entah sampai kapan mampu bernafas ini… Itulah darah yang selama ini mengaliri setiap ,batang urat nadiku… Darah dari aroma dinginnya sikapmu.
         
Saat itu aku rapuh…merana …lunglai… Tak ku sangka pula Tuhan turut campur dalam hal ini. Dia tak lagi berpijak tegar dalam dimensi umat manusia. Aku memang lemah, kecil, tanpa daya. Hanya mampu menjerit dan mengisak tangisan yang tumpah ruah dalam hingar bingar segelintir mereka. Euforia penyambutan malaikat bergigi panjang hitam yang hobby nyengir saat manusia ketakutan. Euforia yang aneh…huh… dunia memang panggung sandiwara.         

Tiga kali sudah berlalu, rembulan yang sudi menemani tumpah ruah air mataku… Di tiap malam ku renungi kenangan buruk terakhir dengannya. Sifatku yang kekanakkan dan nakal. Menyesal aku kini…mengapa dulu tak kujadikan ia sahabat saja? sehingga tiap saat aku bisa bersamanya… Tapi apa daya… saat itu aku hanyalah anak kecil yang nakal…         

Adakah cadangan air mata di dunia ini..?? Atau di salah satu bagian tubuhku..?? Itulah tanyaku selama tiga dewi malam selanjutnya. Apakah kehilangan ini begitu agung??sehingga terkultus menjadi puncak kesedihanku?? Sebegitu agungnya hingga tak rela lagi ku titikkan air mata hanya demi sakit, luka dan nista yang remeh temeh saja. Hingga aku sendiri pun heran. Apakah aku bertambah dewasa sehingga air mataku sulit untuk sudi menumpahkan dirinya?? Atau karena airmataku memang sudah habis terkuras doa yang ku tujukan pada Tuhanku tercinta?? Atau karena rasa kecewa pada Tuhan pula hingga makhluk kecil hina sepertiku ini ingin unjuk gigi di hadapan-Nya…??? Entahlah… Tapi ku pikir ini memang puncak kesedihan yang menggiringku dalam kedewasaan supaya dapat ku lenyapkan dendam untuk kembali dekat dengan-Nya.         

Bulan pertama di tahun kabisat. Mahkotaku ku papak habis. Tubuhku mengurus, bibirku pecah, wajahku pucat pasi. Hanya karena sandaranku yang pergi entah ke mana. Di dunia antah berantah tempat manusia tau wajah surga dan neraka mungkin. Selama itu yang ku renungi hanyalah malam. Kehilangan yang teramat sangat itu menggiringku dalam ikatan luka yang nikmat untuk dihayati. Maka waktu yang indah untuk luka itu adalah malam. Hari-hariku yang harusnya indah justru seperti tanpa arti saja. Sepenuh daya kulakukan demi airmata itu. Tapi nihil saja, seperti berusaha menangkap angin dengan tangan… mustahil… Tak ada kesedihan manapun juga yang mampu membuatku terkejut hingga membuat rangsangan di mataku supaya menganaksungaikan airmata. Tanpa peresmian apapun juga jadilah aku manusia gila tanpa duka. Dengan ribuan kedok yang membungkusku dalam sosok manis, baik dan kuat. Tanpa ada yang tau betapa tulangbelulangku rapuh, hatiku kering dan darahku hampir beku… Segala tentangku hanya tinggal menunggu hancur saja. Tapi apa daya…luka ini nikmat… Maka ku nikmati saja.         

Masih di bulan pertama di tahun kabisat ini. Dan sandaran hatiku masih juga tak mau kembali. Masih juga aku yang lugu namun gila didampingi rasa rindu yang tak dapat tertahankan. Namun kembali, tangis yang ku nantikan tak kunjung juga datang. Sakit, nyeri, ngilu rasanya dadaku tersesakkan oleh rindu yang teramat sangat ini. Saat jiwaku kosong inilah… aku bertemu kamu… Sesosok matahari yang sederhana saja… Sepertinya kamu yang sadarkan aku dari kecintaanku terhadap malam. Kau dongakkan kepalaku ke arah timur supaya ku sadari terangnya fajar yang awali hariku…            Kepalaku memang keras, tapi kepalamu lebih keras. Berbenturan dan… PRAKKK…!! Aku kalah. Sepertinya kau gemas dengan sikapku yang terlalu naïf meletakkan pandangan pengorbanan. Kau ingatkan aku… goncang-goncangkan tubuhku supaya sadar bahwa nyawaku masih di sini. Hidupku masih panjang. Pernahkah aku sebegitu bergairah pada pengorbanan, tapi bukan untuk satu orang… melainkan untuk Tuhanku… Tanyamu padaku…         

Kau juga yang berani mengusik mimpi-mimpiku di malam yang sepi. Membangunkanku dengan suaramu yang lembut, merdu namun menusuk. Kaulah orang pertama… cahaya pertama yang berani mengusik luka yang terpendam jauh di pusat hati. Mengoreknya, mengusiknya bahkan menusuknya hingga pecah terburai berantakan. Apakah kau tau apa kemudian??? Kemudian tangisku pecah menggaung hingga ke dinding angkasa. Mengingatkan kebodohanku dan harapan-harapan kosong tanpa nutrisi dan guna. Kau bangunkan aku dari kelamnya malam yang membungkus hatiku hingga tak ada duka manapun yang mampu melunakkannya. Dan ternyata penantianku akan tangis tak terjadi di dalam bekunya malam. Tapi justru di waktu fajar yang sempat ku tinggalkan demi dendam yang tak bermuka.         

Kini aku tau kaulah matahari yang sanggup membuatku ingat cara menangis. Itulah tangisan pertamaku setelah sakit yang terlalu lama aku kultuskan dalam kemakluman di kehilangan yang teramat sangat. Karena cahayamu lah matahari… tangisku yang beku terendap dalam lara di hati sanggup mencair, meleleh seperti es di kutub utara yang meleleh menimbulkan gelombang ombak kesadaranku akan betapa berharganya aku. Bagai ombak yang meninggi karena pemanasan global itu aku membabi buta. Berani menerjang dunia yang mulai panas dan kejam ini. Kau angkat paksa aku dari kubangan Lumpur kebohongan yang ku buat sendiri dengan tanganmu yang halus , meraih hatiku yang sudah terjerembab jatuh jauh dalam dasar kubangan gelap dan menyesatkan itu. Kau sinari aku dengan cahayamu yang indah memberikan semangat baru untuk cinta pada Tuhan, diriku, hari-hariku, kemampuan dan kebergunaanku bagi lingkungan sekitarku yang seharusnya sangat strategis untuk menumbuhkan bunga kecil yang berangsur ranum sapertiku agar menjadi indah dan berguna bagi duniaku yang kecil ini. Aku mulai tumbuh mengikuti sinar matahari di atas sana. Berani menerjang angin, menatap ke depan dengan segala yang aku punyai. Bukan semata keindahan fana warna-warni dan lekuk yang memabukkan. Namun kualitas yang ditimbulkan dari nutrisi sesosok matahari yang menemani siang hariku yang kian berarti. Itulah arti kamu di masa penyembuhanku dari luka yang kadang muncul entah di mana.         

Cinta kadang muncul karena terbiasa, atau karena ada kebahagiaan yang diberikan… materi, atau juga senyuman. Tapi cinta yang kurasakan dan yang tumbuh di ladang hatiku adalah karena tangis yang kau berikan. Banyak wanita yang bersimpati dan mengalami cinta karena sang pria sanggup memberi tanda rekahan di bibir hawa milik mereka. Tapi aku…??? Aku jatuh cinta karena cahayamu yang sanggup melelehkan airmataku.. mendamaikanku dengan dunia dan dengan diriku sendiri. Mendekatkanku dengan Tuhan. Bahkan tak ada satu orang pun yang tega membangunkanku di tengah malam buta. Namun kau melakukannya. Bahkan sempat pula kau selamatkan aku dari mimpi buruk. Demi membantuku berinteraksi dengan Sang Pencipta. Itulah kamu. Kamu berbeda matahari… Sungguh berbeda…

            Hujan…itulah aku… Matahari… itulah kamu. Tak pernah kulihat di dunia mereka hadir bersama. Dan pada kenyataannya pun begitu. Aku cinta kamu… Mungkin kamu tau itu. Tapi entah pernahkah terlintas di benakmu bahwa kita sangat amat berbeda…???           

Kamu adalah orang yang taat pada Tuhanmu.. Santri mungkin. Begitu santun cahaya memancar dari wajahmu. Keindahan dari seorang pecinta rumah Tuhan. Sedangkan aku…??? Aku hanyalah manusia semrawut, liberal dan radikal. Terutama egoku yang sering memuncak. Mahkotaku yang ku biarkan terurai bebas dipermainkan ingin. Kain-kain penutup tubuhku yang tak selebar kurungan merpati. Tak seagung baju gamis yang dikenakan bunga-bunga cantik di lingkungan santri juga. Aku pribadi bebas, lepas, unik… Tak ingin terikat aturan para konservatif di ujung dunia manapun… Itulah aku…         

 Begitu bertolak belakang dasar-dasar diri kita wahai matahari… Dan satu hal yang sama… Sialnya kita keras kepala… sial sekali… mengapa justru ini kesamaannya??? Walau terkadang aku terkapar sendirian. Dan kembali… kau datang dengan kata-katamu yang sejuk…

           Matahari… Kita beranjak dewasa…Aku pun tumbuh menjadi hujan yang berani. Tak lagi terpaku akan kenikmatan luka di malam yang sepi. Kau pun begitu… Semakin indah dan hangat cahayamu. Tapi bagiku, kau menjadi lebih beku untuk aku. Mengapa wahai matahari?? Pertanyaan yang belum sempat terjawab meski telah bertemu kembali. Sebenarnya apa yang kau tunggu?? Haruskah ku ungkapka cinta ini padahal kau telah tau?? Tak dapat ku pahami sikapmu yang penuh misteri dan berjuta arti. Namun memang teduh yang ku rasa saat balas tatapanmu. Walau aku tau kau lelah… Apa kau pikir aku tak lelah?? Begitu lelah aku menunggu cahayamu untuk kembali memelukku.            Huh… apa semua ini karena kau tak sanggup untuk bersama dengan yang berbeda?? Yah…aku pun lebih yakin lagi bahwa aku pun tak akan sanggup bersama dengan yang berbeda. Tapi asal kau tau… Aku lebih tak sanggup lagi untuk dapat jatuh cinta dan rela berkorban sebergairah sekarang ini. Tapi entah… mungkin aku akan sanggup untuk rela bila melihatmu bersama dengan bunga yang jauh lebih indah dariku… Tapi mutlak… Hujan ini tak akan rela bila mengetahui kau tak lagi ada dalam dimensi ini…         

Matahari… Kita tak akan tau apa yang akan terjadi di masa depan… Bahkan yang akan terjadi di satu mikron detik selanjutnya sekalipun. Lalu cinta ini apakah akan bersemi dengan indahnya denganmu?? Yang jelas, Hujan ini mencintaimu dengan segenap hati, jiwa dan raga. Hanya Tuhan yang tau… Manusia semrawut dan seorang pecinta rumah Tuhan yang taat apakah akan dapat bersatu dalam cinta yang suci atau hanya akan dipasung oleh malaikat bergigi panjang hitam ke dalam liang kematian?? Apakah cukup sampai di sini saja cinta yang begitu besar ini?? Hanya Tuhan Yang tau. Yang aku tau adalah… Kabisat ini begitu indah dan istimewa… itulah bisikan dari arah telinga kiriku… dan… Kabisat ini begitu rumit dan sial… Itulah bisikan dari arah telinga kananku…  Itulah yang ku tau… Atau… sebenarnya aku tak pernah tau apa yang ku anggap aku mengetahuinya…???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar