Malam ini sunyi senyap. Bahkan bulan pun tak sudi muncul dan membagi
cahayanya untukku. Apalagi bintang yang biasanya genit menggoda anak
cucu Adam. Berkerlip… bergoyang dan berkilauan. Namun kini hanya ada
jangkrik yang berdendang sumbang seakan mencibir makhluk yang
nyata-nyata lebih sempurna darinya…AKU…karena mereka bersama dan
aku…??sendiri…
Aku hanya terkatup beku di sudut ruangan ini.
Hanya mampu duduk meringkuk…menunduk…memaklumi sendiri yang kejam ini.
Tanganku hanya mampu memegang dada yang sesak menahan ledakan kesedihan
yang nista, sakit dan entah berwarna apa. Mungkin merah…semerah darahku
yang mulai beku… Beku karena dinginya sikapmu yang hanya mau menyakiti.
Begitu dingin hingga aromanya ku hirup dan masuk ke dalam paru-paru,
menyebar hingga ke bilik jantung, memproduksi hemoglobin pada setiap
kepingan sel darahku… menyebar hingga ke otak,sumsum tulang dan segala
rupa isi dalam tubuhku yang entah sampai kapan mampu bernafas ini…
Itulah darah yang selama ini mengaliri setiap ,batang urat nadiku… Darah
dari aroma dinginnya sikapmu.
Saat itu aku rapuh…merana
…lunglai… Tak ku sangka pula Tuhan turut campur dalam hal ini. Dia tak
lagi berpijak tegar dalam dimensi umat manusia. Aku memang lemah, kecil,
tanpa daya. Hanya mampu menjerit dan mengisak tangisan yang tumpah ruah
dalam hingar bingar segelintir mereka. Euforia penyambutan malaikat
bergigi panjang hitam yang hobby nyengir saat manusia ketakutan. Euforia
yang aneh…huh… dunia memang panggung sandiwara.
Tiga kali
sudah berlalu, rembulan yang sudi menemani tumpah ruah air mataku… Di
tiap malam ku renungi kenangan buruk terakhir dengannya. Sifatku yang
kekanakkan dan nakal. Menyesal aku kini…mengapa dulu tak kujadikan ia
sahabat saja? sehingga tiap saat aku bisa bersamanya… Tapi apa daya…
saat itu aku hanyalah anak kecil yang nakal…
Adakah cadangan
air mata di dunia ini..?? Atau di salah satu bagian tubuhku..?? Itulah
tanyaku selama tiga dewi malam selanjutnya. Apakah kehilangan ini begitu
agung??sehingga terkultus menjadi puncak kesedihanku?? Sebegitu
agungnya hingga tak rela lagi ku titikkan air mata hanya demi sakit,
luka dan nista yang remeh temeh saja. Hingga aku sendiri pun heran.
Apakah aku bertambah dewasa sehingga air mataku sulit untuk sudi
menumpahkan dirinya?? Atau karena airmataku memang sudah habis terkuras
doa yang ku tujukan pada Tuhanku tercinta?? Atau karena rasa kecewa pada
Tuhan pula hingga makhluk kecil hina sepertiku ini ingin unjuk gigi di
hadapan-Nya…??? Entahlah… Tapi ku pikir ini memang puncak kesedihan yang
menggiringku dalam kedewasaan supaya dapat ku lenyapkan dendam untuk
kembali dekat dengan-Nya.
Bulan pertama di tahun kabisat.
Mahkotaku ku papak habis. Tubuhku mengurus, bibirku pecah, wajahku pucat
pasi. Hanya karena sandaranku yang pergi entah ke mana. Di dunia antah
berantah tempat manusia tau wajah surga dan neraka mungkin. Selama itu
yang ku renungi hanyalah malam. Kehilangan yang teramat sangat itu
menggiringku dalam ikatan luka yang nikmat untuk dihayati. Maka waktu
yang indah untuk luka itu adalah malam. Hari-hariku yang harusnya indah
justru seperti tanpa arti saja. Sepenuh daya kulakukan demi airmata itu.
Tapi nihil saja, seperti berusaha menangkap angin dengan tangan…
mustahil… Tak ada kesedihan manapun juga yang mampu membuatku terkejut
hingga membuat rangsangan di mataku supaya menganaksungaikan airmata.
Tanpa peresmian apapun juga jadilah aku manusia gila tanpa duka. Dengan
ribuan kedok yang membungkusku dalam sosok manis, baik dan kuat. Tanpa
ada yang tau betapa tulangbelulangku rapuh, hatiku kering dan darahku
hampir beku… Segala tentangku hanya tinggal menunggu hancur saja. Tapi
apa daya…luka ini nikmat… Maka ku nikmati saja.
Masih di
bulan pertama di tahun kabisat ini. Dan sandaran hatiku masih juga tak
mau kembali. Masih juga aku yang lugu namun gila didampingi rasa rindu
yang tak dapat tertahankan. Namun kembali, tangis yang ku nantikan tak
kunjung juga datang. Sakit, nyeri, ngilu rasanya dadaku tersesakkan oleh
rindu yang teramat sangat ini. Saat jiwaku kosong inilah… aku bertemu
kamu… Sesosok matahari yang sederhana saja… Sepertinya kamu yang
sadarkan aku dari kecintaanku terhadap malam. Kau dongakkan kepalaku ke
arah timur supaya ku sadari terangnya fajar yang awali
hariku… Kepalaku memang keras, tapi kepalamu lebih keras.
Berbenturan dan… PRAKKK…!! Aku kalah. Sepertinya kau gemas dengan
sikapku yang terlalu naïf meletakkan pandangan pengorbanan. Kau ingatkan
aku… goncang-goncangkan tubuhku supaya sadar bahwa nyawaku masih di
sini. Hidupku masih panjang. Pernahkah aku sebegitu bergairah pada
pengorbanan, tapi bukan untuk satu orang… melainkan untuk Tuhanku…
Tanyamu padaku…
Kau juga yang berani mengusik mimpi-mimpiku
di malam yang sepi. Membangunkanku dengan suaramu yang lembut, merdu
namun menusuk. Kaulah orang pertama… cahaya pertama yang berani mengusik
luka yang terpendam jauh di pusat hati. Mengoreknya, mengusiknya bahkan
menusuknya hingga pecah terburai berantakan. Apakah kau tau apa
kemudian??? Kemudian tangisku pecah menggaung hingga ke dinding angkasa.
Mengingatkan kebodohanku dan harapan-harapan kosong tanpa nutrisi dan
guna. Kau bangunkan aku dari kelamnya malam yang membungkus hatiku
hingga tak ada duka manapun yang mampu melunakkannya. Dan ternyata
penantianku akan tangis tak terjadi di dalam bekunya malam. Tapi justru
di waktu fajar yang sempat ku tinggalkan demi dendam yang tak
bermuka.
Kini aku tau kaulah matahari yang sanggup membuatku
ingat cara menangis. Itulah tangisan pertamaku setelah sakit yang
terlalu lama aku kultuskan dalam kemakluman di kehilangan yang teramat
sangat. Karena cahayamu lah matahari… tangisku yang beku terendap dalam
lara di hati sanggup mencair, meleleh seperti es di kutub utara yang
meleleh menimbulkan gelombang ombak kesadaranku akan betapa berharganya
aku. Bagai ombak yang meninggi karena pemanasan global itu aku membabi
buta. Berani menerjang dunia yang mulai panas dan kejam ini. Kau angkat
paksa aku dari kubangan Lumpur kebohongan yang ku buat sendiri dengan
tanganmu yang halus , meraih hatiku yang sudah terjerembab jatuh jauh
dalam dasar kubangan gelap dan menyesatkan itu. Kau sinari aku dengan
cahayamu yang indah memberikan semangat baru untuk cinta pada Tuhan,
diriku, hari-hariku, kemampuan dan kebergunaanku bagi lingkungan
sekitarku yang seharusnya sangat strategis untuk menumbuhkan bunga kecil
yang berangsur ranum sapertiku agar menjadi indah dan berguna bagi
duniaku yang kecil ini. Aku mulai tumbuh mengikuti sinar matahari di
atas sana. Berani menerjang angin, menatap ke depan dengan segala yang
aku punyai. Bukan semata keindahan fana warna-warni dan lekuk yang
memabukkan. Namun kualitas yang ditimbulkan dari nutrisi sesosok
matahari yang menemani siang hariku yang kian berarti. Itulah arti kamu
di masa penyembuhanku dari luka yang kadang muncul entah di
mana.
Cinta kadang muncul karena terbiasa, atau karena ada
kebahagiaan yang diberikan… materi, atau juga senyuman. Tapi cinta yang
kurasakan dan yang tumbuh di ladang hatiku adalah karena tangis yang kau
berikan. Banyak wanita yang bersimpati dan mengalami cinta karena sang
pria sanggup memberi tanda rekahan di bibir hawa milik mereka. Tapi
aku…??? Aku jatuh cinta karena cahayamu yang sanggup melelehkan
airmataku.. mendamaikanku dengan dunia dan dengan diriku sendiri.
Mendekatkanku dengan Tuhan. Bahkan tak ada satu orang pun yang tega
membangunkanku di tengah malam buta. Namun kau melakukannya. Bahkan
sempat pula kau selamatkan aku dari mimpi buruk. Demi membantuku
berinteraksi dengan Sang Pencipta. Itulah kamu. Kamu berbeda matahari…
Sungguh berbeda…
Hujan…itulah aku… Matahari… itulah kamu.
Tak pernah kulihat di dunia mereka hadir bersama. Dan pada kenyataannya
pun begitu. Aku cinta kamu… Mungkin kamu tau itu. Tapi entah pernahkah
terlintas di benakmu bahwa kita sangat amat berbeda…???
Kamu
adalah orang yang taat pada Tuhanmu.. Santri mungkin. Begitu santun
cahaya memancar dari wajahmu. Keindahan dari seorang pecinta rumah
Tuhan. Sedangkan aku…??? Aku hanyalah manusia semrawut,
liberal dan radikal. Terutama egoku yang sering memuncak. Mahkotaku yang
ku biarkan terurai bebas dipermainkan ingin. Kain-kain penutup tubuhku
yang tak selebar kurungan merpati. Tak seagung baju gamis yang dikenakan
bunga-bunga cantik di lingkungan santri juga. Aku pribadi bebas, lepas,
unik… Tak ingin terikat aturan para konservatif di ujung dunia manapun…
Itulah aku…
Begitu bertolak belakang dasar-dasar diri kita
wahai matahari… Dan satu hal yang sama… Sialnya kita keras kepala… sial
sekali… mengapa justru ini kesamaannya??? Walau terkadang aku terkapar
sendirian. Dan kembali… kau datang dengan kata-katamu yang
sejuk…
Matahari… Kita beranjak dewasa…Aku pun tumbuh menjadi
hujan yang berani. Tak lagi terpaku akan kenikmatan luka di malam yang
sepi. Kau pun begitu… Semakin indah dan hangat cahayamu. Tapi bagiku,
kau menjadi lebih beku untuk aku. Mengapa wahai matahari?? Pertanyaan
yang belum sempat terjawab meski telah bertemu kembali. Sebenarnya apa
yang kau tunggu?? Haruskah ku ungkapka cinta ini padahal kau telah tau??
Tak dapat ku pahami sikapmu yang penuh misteri dan berjuta arti. Namun
memang teduh yang ku rasa saat balas tatapanmu. Walau aku tau kau lelah…
Apa kau pikir aku tak lelah?? Begitu lelah aku menunggu cahayamu untuk
kembali memelukku. Huh… apa semua ini karena kau tak sanggup
untuk bersama dengan yang berbeda?? Yah…aku pun lebih yakin lagi bahwa
aku pun tak akan sanggup bersama dengan yang berbeda. Tapi asal kau tau…
Aku lebih tak sanggup lagi untuk dapat jatuh cinta dan rela berkorban
sebergairah sekarang ini. Tapi entah… mungkin aku akan sanggup untuk
rela bila melihatmu bersama dengan bunga yang jauh lebih indah dariku…
Tapi mutlak… Hujan ini tak akan rela bila mengetahui kau tak lagi ada
dalam dimensi ini…
Matahari… Kita tak akan tau apa yang akan
terjadi di masa depan… Bahkan yang akan terjadi di satu mikron detik
selanjutnya sekalipun. Lalu cinta ini apakah akan bersemi dengan
indahnya denganmu?? Yang jelas, Hujan ini mencintaimu dengan segenap
hati, jiwa dan raga. Hanya Tuhan yang tau… Manusia semrawut dan seorang
pecinta rumah Tuhan yang taat apakah akan dapat bersatu dalam cinta yang
suci atau hanya akan dipasung oleh malaikat bergigi panjang hitam ke
dalam liang kematian?? Apakah cukup sampai di sini saja cinta yang
begitu besar ini?? Hanya Tuhan Yang tau. Yang aku tau adalah… Kabisat
ini begitu indah dan istimewa… itulah bisikan dari arah telinga kiriku…
dan… Kabisat ini begitu rumit dan sial… Itulah bisikan dari arah telinga
kananku… Itulah yang ku tau… Atau… sebenarnya aku tak pernah tau apa
yang ku anggap aku mengetahuinya…???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar