Jumat, 01 Juni 2012

Entahlah...

Saya kadang menganggap blog ini sebagai semacam buku harian saya, dikarenakan buku harian (harfiah) saya hilang..
iya, semua orang boleh membacanya..
semua orang boleh membaca pikiran saya, hidup saya.. pada akhirnya..
Tak apalah, toh saya bukan siapa-siapa..

Waktu itu aku bertemu seseorang dengan ciri fisik yang berbeda denganku. Bolehlah aku sebut dia laki-laki.  Awalnya, biasa saja. Ah, kok jadi seperti lagu.. Lama kelamaan kami mendekat, bukan mendekat, tapi dia yang mendekati.. Dia ternyata menyenangkan. Sangat menyenangkan.

Kami sering membicarakan hal-hal aneh dan ajaib, yang bukan dengan lawan jenis aku sering bicarakan, lebih tepatnya lawan jenis sesama usia. Orang malas seperti dia membicarakan teologi agama, hahaha. Ternyata dia pintar, sangat pintar menghafal. Entah yang lainnya...

Dari sekedar hal-hal sederhana, membahas puisi, membahas buku, membahas agama, lalu akhirnya, membahas wanita. Sialan, ternyata dia punya wanita. walaupun aku tau, wanitanya tidak bermutu. Waktu itu aku berfikir untuk tidak mengganggu. Namun yang aku tau, sudah lama wanita itu mau ditinggalkan. Ah, menurutku dia hanya butuh alasan tepat untuk segera mengakhirinya, kupikir aku bisa, ah, lewat juga kamu tan, setan.

Aku tau, laki-laki ini bukanlah laki-laki modern atau bahkan post-modern yang akan sudi mengakui keunggulan wanita. Maka mengalahlah aku. Aku tau laki-laki ini suka didengarkan dan tak suka dibantah, maka mendengar dan tak membantahlah aku. Aku tau laki-laki ini bangga menjadi laki-laki, maka berbanggalah aku. Lalu, datang juga saat kelemahannya tampak, maka menolonglah aku.

Hanya tolong-menolong seadanya. Aku ajarkan padanya hal-hal yang  kumampu untuk membantu. Tanpa bertindak seakan guru. Aku sentuh birahinya melalui seleranya makannya, lalu kukenyangkan perutnya. Aku kenyangkan juga keinginannya untuk mampu berbicara, mulai mampu berfikir, mau mengakui kaumku, kaum wanita. Tentu, dengan kelebihanku sebagai wanita juga.

Lalu terdengar slentingan gila, wanitanya dia campakkan, entah karena apa. Saat itu mana aku percaya? Hubungan bertahun-tahun itu kandas? Ah, gila dia. Tapi wajar juga, aku tau, wanita itu tidak bermutu, mungkin lelakinya juga.

Lama waktu berselang, aku mulai tak pernah memikirkannya, ingat kalau suka pun tidak. Ingat kalau pernah berfikir mendekati pun sulit untuk sudi. Ingat kalau dia itu tampan saja aku heran. tapi, lebih heran lagi saat dia mendekati kembali. Iya, dia mendekatiku kembali saat aku sudah bahagia menikmati hidup sebagai pribadi yang sendiri.

Dia bilang dia suka. Dia bilang dia sayang. Dia bilang aku berbeda. Ah yang terakhir itu sialan, seakan dia ingin membandingkan. Rayuan-rayuannya memang maut. Matanya pun bulat bagaikan mata anjing. Jernih dan tidak membosankan. Sayangnya aku sudah muak. Entah dimuakkan oleh hal apa. Dimuakkan oleh pertanyaan-pertanyaan atas perasaan yang kumiliki atasnya mungkin. Atau, perasaan muak karena perasaan mampu yang kumiliki untuk mendapatkannya.

Waktu masih berjalan dalam iringan senyumannya. Menyenangkan. Sayangnya aku tak mampu menjawab barang sepatah kata. Pikiran ini hanya berkecamuk dalam pencarian sifat-sifat yang sering tersesat di sela-sela semesta diri. Seperti santan perasan, yang keluar hanyalah senyuman, sembari menatap mata bulat dan indah itu. Aku sentuh pipinya. Aku dengarkan dan rasakan juga helaan nafas beraroma tembakau. Detakan jantung yang membuat penasaran, pundak dan dada yang nyaman untuk dijadikan sandaran. Tapi, benarkan yang aku rasakan? Atau hanya sekedar pelampiasan? Menguji kemampuan?

Aku pergi meninggalkannya sendirian. Memenangkan permainan. Kemenangan yang harusnya patut dihiasi dengan tawa dan perayaan. Namun, langkah ini hanya ditemani oleh tangisan. Hampir terisak saat pikiran ini tak sangaja mengenangkan siapa diri ini. Sambil menatap telapak kanan bekas menyentuh sebuah pipi, aku teringat kata-kata sahabat, "Kamu punya dirimu untuk kamu jaga, dirimu sendiri adalah tempat teraman untuk hatimu, sahabatku." Lalu aku menangis, tersenyum, bersorak... Aku menang...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar