Kamis, 25 April 2013

Malam Saksi

            Matanya membelalak menelanjangiku. Aku menunduk ketakutan dalam sebuah isakan yang lembut. Entah, aku tak berani membantah. Pukulan yang mendarat pada bahunya pun terasa sia-sia saja. Lenganku terlalu kecil, dibandingkan tubuhnya yang perkasa. Dan begitulah sebuah malam. Malam mengerahkan seluruh inderanya dalam sebuah kesaksian.


***

           Aku menatap seraut wajah di depanku. Aku ingin menanyainya tentang begitu banyak hal. Apa yang terjadi padanya? Matanya berkantung, bibirnya menghitam, rambutnya ikal mengering, setiap ia berbicara aroma tembakau begitu kuat menusuk hidungku. 

Apa yang terjadi padamu, kawanku?

            Dan setiap kali bertanya, aku hanya mendapatinya menghembus-hembuskan asap rokok ke hadapan wajahku. Lalu aku tersenyum. Ia turut tersenyum. Kami tersenyum.

Aku telah diperkosa.

      Katanya tanpa menghiba. Lalu kembali ia menghisap batangan putih itu di mulutnya. Menghembuskannya kembali, tepat di depan wajahku. Mataku begitu pedih, namun aku tak ingin mereka mengeluarkan airmata karena pedihnya asap pembunuh itu. Aku harus tegar. Aku sedang mendalami diri seorang wanita, yang kering airmatanya. Habis urat sedihnya. Lupa bagaimana rasa luka. Hanya mengenal senyum asimetris dan tembakau saja.

Bagaimana dia melakukannya? Maukah kau bercerita?

            Ia tersenyum, asimetris. Ia mematikan rokoknya, merapikan rambutnya. Lalu ia menunduk sebentar. Aku menunduk juga. Ia menatap mataku. Aku menatap matanya. Ia tersenyum, simetris. Aku turut tersenyum.

Kau pasti mengerti, aku dulu mencintainya, namun kini, hanya kebencian yang mengambil kuasa. Yang lebih buruk lagi, aku mulai tak mempedulikanya.

            Aku menunduk mendengar jawabannya, ia turut menunduk. Kulihat ia menyalakan rokok lagi. Ia meninggalkan mejaku. Aku beranjak meninggalkan mejaku. Airmataku menetes.

***
            Selang dua tahun aku tak berhadap-hadapan dengan ia, wanita berkantung mata, berbibir menghitam dan berambut ikal yang mengering itu. Entah aku harus merasa gagal atau berhasil. Aku gagal memahaminya, aku gagal membacanya. Tak pernah sama sekali aku gagal dalam membaca diri siapapun. Namun, membacanya pun aku gagal, bagaimana mungkin aku mengertinya.
            Namun di suatu siang ia mendatangiku lagi, di mejaku. Kantung matanya menghilang, bibirnya sudah tak lagi menghitam, namun terpulas dengan pewarna bibir yang mempercantiknya, rambutnya pun ikal, panjang dan begitu indah. Saat ia berbicara padaku, wajahku tak lagi diterpa aroma tembakau. Ia tersenyum, aku tersenyum.

Aku merindukanmu, kemana saja kau, kawanku?

            Ia menatapku dengan mata berbinar dan begitu bening, akupun menatapnya dengan tatapan yang sama. Ia memegang tanganku, aku memengang tangannya. Ia menarik napas pendek pendek, aku mengikutinya.

Aku jatuh cinta.

            Begitu ia berkata.

Siapakah laki-laki yang sedang kau cintai?

            Begitu aku bertanya.

Ialah seseorang yang begitu berbeda denganku. Ia bukan pecinta naskah sepertiku. Meskipun bukan pelajar naskah, ia bukanlah bajingan seperti ia yang memperkosaku. Ia belajar melalui kehidupan. Ia begitu baik padaku, dan aku mencintainya.
            
            Mataku berbinar, matanya berbinar. Mata kami sama berbinar. Lalu ia beranjak dari mejaku, mengucapkan selamat tinggal. Aku beranjak dari mejaku, mengucapkan selamat tinggal kepadanya juga.
***
            Suatu malam aku mendatangi mejaku, karena aku merindukan menatapi sebuah raut wajah. Lalu telah terududuk wanita yang dulu pernah aku temui dan mengatakan ia sedang jatuh cinta. Ia datang, ia mendatangiku lagi.
            Wajahnya kini pucat dan bibirnya menghitam lagi. Di antara tangannya terselip batangan putih dan berasap. Ia menatapku. Aku menatapnya. Ia menangis. Aku menangis. Ia mulai menjerit.

Malam suka sekali mengerahkan seluruh inderanya dalam melakukan kesaksian! Malam itu bajingan! Bajingan!

            Tenggorokanku tercekat. Aku menatapnya nanar. Ia turut menatapiku, nanar. Ia menelanjangiku dalam tatapan nanar dan jalangnya. Aku tercengang. Ia turut tercengang. Ia mulai menjerit lagi.

Dia sama saja! Dan aku dianggapnya sama saja!

Aku diam, menangis, ia melanjutkan jeritannya.

Kau tahu! Aku berubah karena bertemu dengannya! Lihat! Lihat ini! Tembakau! Tembakau ini! Aku tak sudi lagi menyentuhnya dulu! Karena aku mulai mencintai laki-laki itu!

            Ia terisak. Aku terisak.

Tapi baginya sama saja! Jalang tetaplah jalang! Aku tetaplah jalang!

            Terbata-bata aku berkata kepadanya.

Te.. tetapi ka.. kamu diperkosa.

            Ia malah tertawa mendengarkan kata-kataku. Makin lama tawanya semakin keras dan terdengar seperti jeritan. Ia terisak, sesak. Rambutnya mulai berantakan. Wajahnya pun mengusam, muram Ia mulai menakutkan. Aku ketakutan. Aku mundur dari arah mejaku. Namun tatapannya begitu menakutkanku. Semakin aku ketakutan, semakin ia menatapku dan tertawa sembari menjerit-jerit. Aku mulai menangis. Aku mulai terisak, sesak. Tatapannya mulai mengejarku. Tawanya mulai menghantuiku. Lalu kuambil asbak di atas meja. Aku lemparkan benda itu ke arahnya. Cermin di depanku pun pecah, terburai berantakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar