***
Aku
menatap seraut wajah di depanku. Aku ingin menanyainya tentang begitu banyak
hal. Apa yang terjadi padanya? Matanya berkantung, bibirnya menghitam,
rambutnya ikal mengering, setiap ia berbicara aroma tembakau begitu kuat
menusuk hidungku.
Apa yang terjadi padamu, kawanku?
Dan setiap kali bertanya, aku hanya
mendapatinya menghembus-hembuskan asap rokok ke hadapan wajahku. Lalu aku
tersenyum. Ia turut tersenyum. Kami tersenyum.
Aku telah diperkosa.
Katanya
tanpa menghiba. Lalu kembali ia menghisap batangan putih itu di mulutnya. Menghembuskannya
kembali, tepat di depan wajahku. Mataku begitu pedih, namun aku tak ingin
mereka mengeluarkan airmata karena pedihnya asap pembunuh itu. Aku harus tegar.
Aku sedang mendalami diri seorang wanita, yang kering airmatanya. Habis urat
sedihnya. Lupa bagaimana rasa luka. Hanya mengenal senyum asimetris dan
tembakau saja.
Bagaimana dia melakukannya? Maukah kau
bercerita?
Ia tersenyum, asimetris. Ia mematikan
rokoknya, merapikan rambutnya. Lalu ia menunduk sebentar. Aku menunduk juga. Ia
menatap mataku. Aku menatap matanya. Ia tersenyum, simetris. Aku turut
tersenyum.
Kau pasti mengerti, aku dulu
mencintainya, namun kini, hanya kebencian yang mengambil kuasa. Yang lebih
buruk lagi, aku mulai tak mempedulikanya.
Aku menunduk mendengar jawabannya,
ia turut menunduk. Kulihat ia menyalakan rokok lagi. Ia meninggalkan mejaku. Aku
beranjak meninggalkan mejaku. Airmataku menetes.
***
Selang dua tahun aku tak
berhadap-hadapan dengan ia, wanita berkantung mata, berbibir menghitam dan
berambut ikal yang mengering itu. Entah aku harus merasa gagal atau berhasil. Aku
gagal memahaminya, aku gagal membacanya. Tak pernah sama sekali aku gagal dalam
membaca diri siapapun. Namun, membacanya pun aku gagal, bagaimana mungkin aku
mengertinya.
Namun di suatu siang ia mendatangiku
lagi, di mejaku. Kantung matanya menghilang, bibirnya sudah tak lagi menghitam,
namun terpulas dengan pewarna bibir yang mempercantiknya, rambutnya pun ikal,
panjang dan begitu indah. Saat ia berbicara padaku, wajahku tak lagi diterpa
aroma tembakau. Ia tersenyum, aku tersenyum.
Aku merindukanmu, kemana saja kau,
kawanku?
Ia menatapku dengan mata berbinar
dan begitu bening, akupun menatapnya dengan tatapan yang sama. Ia memegang
tanganku, aku memengang tangannya. Ia menarik napas pendek pendek, aku
mengikutinya.
Aku jatuh cinta.
Begitu ia berkata.
Siapakah laki-laki yang sedang kau
cintai?
Begitu aku bertanya.
Ialah seseorang yang begitu berbeda
denganku. Ia bukan pecinta naskah sepertiku. Meskipun bukan pelajar naskah, ia
bukanlah bajingan seperti ia yang memperkosaku. Ia belajar melalui kehidupan. Ia
begitu baik padaku, dan aku mencintainya.
Mataku berbinar, matanya berbinar. Mata
kami sama berbinar. Lalu ia beranjak dari mejaku, mengucapkan selamat tinggal. Aku
beranjak dari mejaku, mengucapkan selamat tinggal kepadanya juga.
***
Suatu malam aku mendatangi mejaku, karena aku
merindukan menatapi sebuah raut wajah. Lalu telah terududuk wanita yang dulu pernah aku temui dan
mengatakan ia sedang jatuh cinta. Ia datang, ia mendatangiku lagi.
Wajahnya kini pucat dan bibirnya
menghitam lagi. Di antara tangannya terselip batangan putih dan berasap. Ia menatapku.
Aku menatapnya. Ia menangis. Aku menangis. Ia mulai menjerit.
Malam suka sekali mengerahkan
seluruh inderanya dalam melakukan kesaksian! Malam itu bajingan! Bajingan!
Tenggorokanku tercekat. Aku menatapnya
nanar. Ia turut menatapiku, nanar. Ia menelanjangiku dalam tatapan nanar dan
jalangnya. Aku tercengang. Ia turut tercengang. Ia mulai menjerit lagi.
Dia sama saja! Dan aku dianggapnya
sama saja!
Aku
diam, menangis, ia melanjutkan jeritannya.
Kau tahu! Aku berubah karena
bertemu dengannya! Lihat! Lihat ini! Tembakau! Tembakau ini! Aku tak sudi lagi
menyentuhnya dulu! Karena aku mulai mencintai laki-laki itu!
Ia terisak. Aku terisak.
Tapi baginya sama saja! Jalang tetaplah
jalang! Aku tetaplah jalang!
Terbata-bata aku berkata kepadanya.
Te.. tetapi ka.. kamu diperkosa.
Ia malah tertawa mendengarkan kata-kataku. Makin lama tawanya
semakin keras dan terdengar seperti jeritan. Ia terisak, sesak. Rambutnya mulai
berantakan. Wajahnya pun mengusam, muram Ia mulai menakutkan. Aku ketakutan. Aku mundur dari arah mejaku. Namun
tatapannya begitu menakutkanku. Semakin aku ketakutan, semakin ia menatapku dan
tertawa sembari menjerit-jerit. Aku mulai menangis. Aku mulai terisak, sesak. Tatapannya
mulai mengejarku. Tawanya mulai menghantuiku. Lalu kuambil asbak di atas meja. Aku
lemparkan benda itu ke arahnya. Cermin di depanku pun pecah, terburai
berantakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar