Minggu, 15 April 2012

Kamasena


            Gaun saya indah sekali. Warnanya merah hati. Cocok dengan kulit saya yang serupa warna mutiara pesisir. Sepatu saya hitam mengkilat menutupi jari jemari yang berkuku rapi. Betis saya terpampang bagaikan punggung pisang, panjang dan jenjang. Dada saya terhunus ke depan seakan menantang siapa saja untuk menerka, seberapa berat dan kerasnya. Belahannya pun terpajang, membuat geli siapapun untuk bersembunyi di antaranya. Tangan saya bersih mengkilat seperti ditaburi butiran emas berkarat maksimal. Rambut saya panjang berombak dan tergerai bagaikan barisan tirai satin yang siap disibak dan dibelai. Bibir pun merah muda, seperti susu yang tenoda setitik darah, siap pula diteguk. Mata saya bertengger manja di tempatnya, seperti minta dicongkel lalu diremas hingga tak bersisa. Begitu cantik, sepertinya.
            Seseorang di depan saya pun tersenyum, senyumnya pun begitu indah, dan gagah. Jari jemarinya memegang jari jemari saya, saya pun tersenyum pula. Cengkeramannya kuat namun lembut seperti mengharapkan sesuatu lain dari diri saya. Wajahnya pun indah terkena cahaya lampu di antara kami berdua. Dia tersenyum menghiba, agak.
            Telah dua tahun kami bersama. Di dalam satu ikatan perjanjian, ikatan upacara, ikatan keluarga, ikatan rumah tangga dan bahkan ikatan ranjang yang sering kami tumpang untuk berperang. Terkejutnya saya saat diajaknya ke tempat ini. Tempat yang penuh kenangan. Tempat yang sering saya datangi sendirian, sekedar mencari ketenangan, menyegarkan ingatan.
            Dia tersenyum, selalu, menceritakan dengan manis, harapannya akan hadirnya anak manis di antara kami, yang tak kunjung datang. Dia tetap manis pada saya, tidak mungkin tidak, di depan wanita semanis saya. Kata-katanya selalu beraturan, seperti bola-bola Kristal yang berkilapan, indah. Dan di tengah ke tercengangan saya menatap matanya, sakunya berbunyi dan bergetar dan dia pergi sebentar. Sebuah panggilan mungkin, dari kerabat atau atasan atau bawahan.
            Saya pandangi sekeliling tempat ini, mewah. Beberapa pasangan berdansa di samping sana, sepertinya menyenangkan, menari dengan cinta. Saya pindahkan bola mata saya ke arah lain, sedikit sepi. Saya suka. Saya suka melihat sudut sana, di mana saya sering mendapati diri saya sekedar meminum kopi sendirian saja, tanpa barang siapa, seperti dahulu kala hampir setiap senja tiba.
            Saya tundukan kepala saya, membenahi jemari yang lelah merangkai kata. Lama sekali dia tiba. Lalu leher saya dicengkeram paksa oleh pikiran, supaya menoleh ke arah saya menyambut senja, dahulu kala.
Saya ingin melonjak, terkejut. Saya terkejut, Demi Tuhan. Itu apa? Saya tidak percaya kamu di sana ! Sosok itu lagikah? Sosok yang kunanti kedatangannya setiap waktu senja sambil merangkai kata?
            Seorang pria, berkaus merah tua, sederhana. Duduk dan tiba-tiba melihat ke arah saya. Sama terkejutnya. Saya tak mampu berkata, hanya menoleh saja. Mulut kami tetap terkatup, namun ku lihat mata yang bulat jenaka itu pun semakin membulat. Buyar. Otak saya buyar, ambyar. Tak mungkin saya tahan dengan mata jenaka itu. Hati saya meluap, jiwa saya melayang berhamburan ke arahnya saja, hanya raga ini tak mungkin bergerak. Saya terikat. Terikat entah oleh apa.
            Bibirmu mulai tersenyum, menyembunyikan keterkejutan yang kecut. Saya masih terkatup, mencoba menyimpulkan mulut, mata saling mengenang, berbicara, bergelut. Mengindahkan kerinduan akut. Saya rindu kamu, mas, dan di sini lah aku bertemu kamu, lagi.
            Dia datang kembali, dengan senyum mengembang, sama kembangnya saat dia menggeluti saya di ranjang lalu berhasil membuat diri saya menggelinjang sembari mengerang. Lagi-lagi wajah indahnya memaparkan senyum penuh perhatian dan cinta. Dia ajak saya berdansa, seperti yang lainnya. Saya mau, harus mau, begitu sepertinya. Saya maju, setelah dia tentu saja.
            Dipegangnya tangan saya, dan saya pegang tangan dia. Dilingkarkan tangannya yang satu ke pinggang ramping saya, saya gelantungkan tangan saya yang satu ke pundak dekat dada bidangnya. Mulailah dia menggerakkan kakinya, mulailah saya gerakkan kaki saya. Saya tak mahir berdansa, tapi dia bisa. Dipermainkannya saya dalam dansa itu, putar  ke sana kemari, dan saya tak mampu melakukannya seperti dia. Dalam pelukan hangatnya itu, mataku tercuri oleh kehadiranmu, mas. Saya tengok ke arahmu, selalu saat saya mampu, saat dia putar saya menghadapmu. Kamu diam dan menatapku, tanpa tersipu. Tanpa tersipu. Wajah saya mungkin membiru, beku. Seperti mayat yang baru saja mati dalam salju. Dingin, tubuh saya merasa sangat dingin, dalam kehangatan tariannya.
Ahh !! saya memekik lesu, kaki saya terkilir, tak mampu melanjutkan apapun. Saya tak mampu, memang benar-benar tak mampu jika harus berdansa dengannya, dipermainkannya bagai boneka. Sakit sekali, seperti ditusuki jarum besar dan tumpul. Dia terkejut, tanpa melepaskan pegangannya dari saya, dia papah saya ke tempat semula. Dia berlutut melihat kaki saya, ungu warnanya di pergelangan bawah. Lagi, saya mencuri pandang ke arahmu, malu, saya malu. Tanganmu kudapati menggenggam seakan ingin menahan kaki supaya diam di tempat. Matamu tidak lagi bulat. Tapi menajam seperti pedang. Saya menunduk lagi, ngilu dalam dan luar.
Kami pulang. Kamu tidak. Tapi, hatiku tinggal di sana bersamamu, mas. Saya tak mungkin bertahan hidup tanpa hati saya. Saya akan ambil lagi lain waktu, semoga.
***
Hujan rintik menghantarkan kedatanganku dan dia. Rumah sedemikian mewah dengan tangga menjulang ke atas dan dinding kuning yang mempertegas kehangatan dalam kemewahan ini. Kecantikanku tak pudar, meskipun ribuan memar menerpa tubuhku, katanya. Saat dia memapahku ke ranjang kesukaannya, ah kesukaanku juga? Baiklah. Dia obati memar saya dengan lembutnya. Saya tidak tahan, mana bisa saya menolak kelebutan seindah ini, mana bisa? Selesai itu, dia peluk saya. Saya diam, saya hanya tersenyum. Baginya, itu penyambutan yang wajar dari seorang wanita seperti saya. Iya, penyambutan yang sangat wajar. Penyambutan wanita baik yang dibungkus dalam diam.
Dia belai rambut saya, dipermainkannya pipi saya, lembut, penuh cinta. Lagi, dia berkata, “rumah ini begitu luas, siapa lagi yang akan meramaikannya? Semoga segera datang malaikat cantik kita, ya ma?” dipeluknya lagi saya, lebih kencang dari sebelumnya. Seakan dia lupa, beberapa detik yang lalu saya adalah telur mentah yang rapuh dan mudah pecah. Sekarang saya adalah ikan asin yang harus dikuliti hingga tulang belulangnya, diangkat ke sana kemari. Diputar-putar, dihisap hingga berbunyi, dan diresapi hingga terasa betul asinnya. Tak lebih dari ini, pada akhirnya saya hanya seperti ikan asin yang ditindih oleh senyummya yang mengembang, saat menyaksikan saya menggelinjang sembari mengerang, meski seperti dendangan sumbang.
***
Pagi yang begitu indah. Hanya semangat untuk diri saya saja saya memapah diri untuk bertahan dari luka yang masih bernanah di dalam tubuh, semenjak hatiku tertinggal di tempat itu, mas. Saya ingin mengambilnya lagi, tak lengkap tubuh ini tanpanya mas, tolong kembalikan lagi hatiku itu. Tolong.
***
Butiran obat serupa mutiara mungil pun saya telan. Tentu saja hanya dalam diam, tak satupun yang mengetahui. Tak satupun juga yang ingin tau, bagaimana saya mau dicintai. Benar-benar hanya dicintai, sebagai semata diri saya ini. Bukan semata apa yang mungkin kemudian saya atau kami miliki. Bisakah dia melakukan apa yang saya maui? Tentu tidak. Sepertinya tidak. Bukan hanya dia, tapi juga mereka. Mana mau mereka tau apa yang saya ingini? Yang mereka tau hanya yang mereka mau, dari onggokan batang tubuh dan tulang kecil ini. Mereka tak mau tau saya tak mau. Ya sudah, saya biarkan mereka tidak tau apa yang saya tidak mau. Maka selalu saya telan butiran mutiara mungil untuk penghambat ini.
***
Saya habiskan sore ini dalam diam. Seperti kebanyakan sore yang saya miliki. Oh, tidak, tidak hanya sore. Pagi, siang, malam… semua. Saya hanya diam. Semua waktu yang saya miliki hanya terkulum dalam senyuman kecut tapi manis dari bibir saya. Dan saya pun tak berusaha sedikitpun untuk menyimpulkan bibir saat ini. Saat saya merangkai kata-kata, bagi mereka yang kehausan akan karya saya. Di tempat ini mas. di tempat di mana saya selalu habiskan senja saat dahulu kala. Ah, saya? Kita.
Saya mencoba mengingat semuanaya. Saya tuangkan dalam rangkaian cerita berbalut cinta. Cinta yang indah pada awalnya, tapi binasa hanya karena mereka. Orang-orang gila. Saya tertawa, tiba-tiba, mengingat semuanya. Aneh, nyata. Siapakah sebenarnya yang gila? Saya atau mereka? Oh, bagi mereka saya, bagi saya mereka. Gila.
***
Saat itu saya hanyalah gadis muda biasa. Belajar giat tentang sastra. Menjadi penulis, itu keinginan saya. Saya dianggap cerdas oleh mereka, begitulah penilaiannya. Menjadi ibu dengan suami tercinta sebagai ayahnya, sambil tetap berkarya, itu keinginan saya. Suami tercinta, ingat suami tercinta. Begitu weling saya untuk diri saya sendiri, bukan apa-apa, hanya supaya saya bisa rela. Sebagai wanita di sebuah belantara penuh pria yang bisa dibilang, sebagai “penguasa”nya.
Saya bukan cuma penggemar sastra, saya penggemar musik juga. Kata mereka, suara saya bagus, wajah saya jelita, kurang apa coba? Tidak ada. Dan saat itulah saya bertemu kamu, mas. Aduh klise sekali. Bertemu dengan seseorang yang sama sama menyukai sesuatu, mempelajari sesuatu yang tak lain pula. Kurang apa sih? Tidak ada.
Sejak pertama bertemu tanpa tau namamu pun saya telah jatuh cinta, mas. Mungkin cinta dangkal yang didasari keindahan yang ditangkap indera mata saya yang tanpa cacat. Saya tidak ingin memungkirinya lho. Namanya juga wanita muda, tidak buta, bagaimana bisa mengabaikan pemandangan seindah kamu? Hahaha, saya tertawa.
Ah, mas, saya kagum dengan kamu. Benar-benar kagum. Terutama saat kita bernyanyi bersama. Rambutmu terjatuh ke alis dengan sempurna, tertunduk matamu mengarah ke dawai gitar yang kamu petik dengan indahnya, mengiringi suara alto saya. Saya tersenyum menahan geli, bukan apa-apa, saya terlampau bahagia, meski belum terlalu mengenal kamu. Lalu sesekali kamu melirik saya, dengan mata anak anjing yang bulat dan jenaka. Saya jadi teringat anak anjing yang kakak perempuan saya pelihara, manis dan jenaka. Senyumanmu pun menyimpul dengan sempurna saat saya gagal mencapai nada di oktaf ke-tiga. Hahaha, saya merasa jenaka, menyanyikan lagu kita dengan tidak sempurna, hanya karena suara saya yang kurang mencapai nada. Lalu setiap saya malu karena itu, saya bersembunyi di ketiakmu sembari tersipu. Ah, mas, saya masih ingat. Tidak terlalu harum, tapi saya suka. Mesra, tanpa kata, tanpa ikatan… bebas seperti angin yang bisa lakukan apapun, bisa terbang kemanapun. Bisa mengecup apapun.
***
Mas, saya sayang sekali dengan kamu. Meskipun kamu tidak pernah berdoa dengan cara saya. Meskipun kamu menganggap peliharaan saya sebagai makhluk najis yang bahkan tak boleh tersentuh. Kamu pun sayang dengan saya, sepertinya. Saya tidak berani bilang kalau saya suka, mas. ah, pengecutnya saya. Iya saya pengecut. Pada akhirnya saya diam saja. Benarlah kediaman saya tidak percuma. Karena pada akhirnya, kita bersama. Hanya kita berdua saja yang mengikatnya. Mana sudi Tuhan turut mengakui? Tuhan? Tuhan pastilah sudi. Rumah-Rumah itu yang enggan menolong kami. Menolong? Mana butuh kami ditolong. Kami saling mencintai, itu sudahlah cukup, buat saya dan kamu, bukan begitu, mas?
***
Rumah kuning nan megah ini lagi. Saya tersenyum kecut setiap melangkah di dalamnya. Mengapa harus begini? Mengapa saya harus se kecut ini? Semua ada, semua tersedia. Saya dilayani bak istri raja, meski di malam hari saya tak lebih dari kuda tunggangannya. Tapi, sepertinya, begitu memang keadaan yang seharusnya. Hahaha, lagi-lagi saya tertawa.
Saya mengingat lagi, saat dulu dengan kamu. Di sawah, di kebun, di mana-mana. Tapi, bukan di gedung macam ini, mas. Gedung? Ah, maksudku, rumah. Di sana, saya kamu ajak berkeliaran, melihat petani yang tertawa lepas dan bahagia. Ah, saya juga bahagia melihat mereka. Entah saya bahagia karena mereka, atau karena lengan kirimu yang selalu tertempel di dada kananku setiap kita berlalu? Entahlah, yang jelas saya bahagia dengan keadaan itu, waktu itu.
Saat mengingat hal-hal itu, mas, saya ingin bertukar jiwa dengan para petani yang setiap waktu harus ke sawah-sawah itu. Menggarap tanah-tanah Tuhan lalu menghasilkan biji-biji dan buah-buah bermutu. Mereka semua melakukannya, sembari tertawa, mas. meski kaki kotor dipenuhi tanah. Walaupun begitu, saya percaya, tanah-tanah itu adalah tanah-tanah yang suci, diciptakan untuk kita, manusia. Maka merekalah orang-orang suci pemberi makan kita, sejatinya merekalah orang-orang suci itu, mas. Pembawa pesan dari Tuhan, tanah untuk diolah. Sedangkan kita? Saya? Hanyalah kapitalis serakah dan menyedihkan yang menguras tenaga mereka dengan uang. Saya tau wajah beras-beras itu, dan saya mampu membelinya dengan wajah uang. Ada uang ada barang, begitu mereka bilang. Tapi, di mana nilainya? Mungkin hampir tidak ada. Mana saya tau petani-petani itu makan dengan layak atau tidak? Apakah mampu mereka mendanai anak-anak mereka untuk belajar selayaknya? Berpakaian selayaknya? Mana saya tau? Yang saya tau, tenaga mereka dihargai oleh lembaran kertas dengan gambar orang-orang yang telah tewas. Iya, tenaga orang-orang nan suci itu. Adilkah ini Tuhanku? Beginikah wajah-wajah utusan-Mu di dunia? Yang mengolah titipan-Mu, memberi makan semua dan lalu tidak mampu melakukan semua? Mereka yang mulia itu Tuhan? Meskipun tidak semua tidak mampu, tapi ada. Iya kan Tuhan?
Sedikit banyak saya mencoba menyelami hati mereka. Sendiri, lagi-lagi hanya sendiri tanpa kata. Semata-mata tentang apa yang mereka pikirkan tentang orang yang memiliki kertas dengan gambar orang-orang tewas, yang lebih banyak dari mereka. Mungkinlah mereka berfikir saya ini beruntung. Tanpa perlu berlendhut sudah bisa ongkang-ongkang begitu saja. Tanpa harus menghanguskan punggung, hidup sudah tersambung. Hanya perlu suara sedikit keras, apa-apa sudah tersedia. Mereka pikir saya ini bahagia, karena onggokan kertas cetakan Negara. Sebentar, saya mau tertawa. Hahaha.
Mana mungkin saya menyalahkan pikiran mereka? Tak ada satupun orang yang tidak suka uang, di dunia ini, di dunia di mana orang-orang dihargai dengan gambar-gambar pendahulu mereka yang kini sudah pasti tidak lebih dari bangkai. Dan saya pun berada di rumah kuning ini semata-mata atau tidak semata-mata, karena uang kok. Itu semua, pikiran-pikiran gila, menurut saya. Pikiran gila kaum jelata, menurut saya. Dan, pikiran gila kapitalis tukang ongkang-ongkang, menurut mereka. Tapi, menurut kamu, pikiran-pikiran ini disebut Wang-Sinawang saja. Sederhana. Saya mau tertawa dulu, hahaha.
***
Sebuah surat undangan cantik dihantarkan ke rumah kami. Rupanya, sebuah reuni. Reuni dari tempat saya belajar dulu. Tempatmu belajar juga, mas. ah, benar-benar kebetulan yang bukanlah sebuah celaka. Terdengar seperti cerita murahan yang pernah saya baca. Bagaimana lagi? Ini nyata. Mungkin, saya bisa bertemu denganmu, mas. Di belantara pecinta bahasa dan sastra. Mungkin saya juga bisa melepas sakit rindu yang terbungkus dalam diam juga. Siapa pula yang tau, jikalah kamu masih menyukai warna yang saya suka juga. Merah.
***
Saya rias wajah saya, yang cantik kata mereka. Tak perlu saya tebalkan apapun, sudah lah saya merasa cukup dengan wajah ini. Rambut saya sudah cukup indah dengan digerai saja. Saya belah sedikit ke kanan. Saya lihat pula dada saya terlihat terbelah dengan sempurna, di tengah, bukan di kanan. Ah, mana ada belahan dada ke kanan. Saya pakai gaun ini. Gaun merah, bukan merah hati. Tapi merah yang menyala seperti api. Saya terlihat seperti biasa saja. Ah, berbeda, beda. Tetap berbeda. Kali ini saya lebih sumringah mas. saya tau saya akan bertemu denganmu, meski mungkin hanya sekilas saja. Namun, dia salah kira. Dia kira saya sumringah karena dia. Karena dia tak lagi sibuk bekerja, dan bersedia menemani saya dalam pesta reuni ini. Reuni kita, mas. Ya sudahlah. Saya biarkan dia salah kira. Dan bagaimana jadinya jika dia tidak salah kira? Entahlah. Mudah-mudahan dia tetap selembut ini. Mudah-mudahan, mas.
***
Sebuah ruangan yang dipenuhi oleh meja-meja berisi makanan siap makan. Sedikit saja kursi yang tersedia di sini. Dan dia dengan cepatnya bisa menemukan kursi dan meja buat kami berdua. Saat dia menawarkan lengannya untuk digandeng, saya melirik ke kanan dan tersenyum seperti biasa. Kami berjalan dengan serasi seperti pangeran dan putri, mungkin.
Lalu kami bertemu sahabat-sahabat lamaku yang juga telah membawa suami-suami. Beberapa membawa pula anak mereka. Tangan-tangan kecil mereka pun sering menyentuh jemariku ketika aku menggendongnya. Hatiku pun luluh seketika. Jiwa-jiwa tanpa dosa yang mengetahui asal mereka pun tidak. Mana mereka tau kalau dahulu mereka adalah kecebong dan telur dari selangkang masing-masing orang tua mereka? Yang mereka tau hanyalah menghisap puting susu, menangis saat tak mampu, dan tertawa di saat ada yang lucu. Tapi justru itu, mereka memanglah lucu. Pantaslah dia ingin sekali memiliki satu saja dari mereka. Mungkin karena itu, karena mereka memang lucu. Atau mungkin tidak? Entahlah. Namun, yang saya mau berbeda. Saya mau memiliki mereka, hanya dengan orang yang saya cinta. Itu saja. Mengapa? Salah? Biarlah.
Lalu sesekali ada yang bertanya, dimanakah putra saya. Mana saya bisa jawab? Bisa sebenarnya, namun sulit. Sedikit aneh bahwa kami sudah bertahun bersama dan tidak segera memiliki pemenang dalam pertandingan kecebong yang berenang-renang ke arah telur itu. Pasti mereka berfikir, yang mana yang payah? Kecebongnya atau telurnya? Begitu. Ah, menyebalkan. Tidak ada yang payah, percayalah. Tapi, si telur dikendalikan oleh butiran mutiara mungil dari si empunya tubuh. Biarlah, tubuh ini tubuh saya. Kenapa seakan jadi urusan mereka, mas? kenapa? Tak bolehkah saya memilih, barang sekali saja dalam hidup ini setelah kepatuhan-kepatuhan yang memuakkan di dunia yang saya huni? Sedikit banyak, pertemuan-pertemuan kami dengan mereka hanya menimbulkan kemuakkan yang merupakan sebuah niscaya untuk muncul di kerongkongan saya setelah pertanyaan menyebalkan itu.
Saat saya kelabakan dengan pertanyaan-pertanyaan memuakkan itu, kamu datang, mas. bukan sekedar datang. Kamu mendatangi kami, dengan berani. Kakimu tidak lagi terhalang oleh genggaman tangan manapun dan siapapun. Saat kamu datang, saya tidak melihat ada yang mengikuti, barang seorang istri, ataupun bayi. Kamu benar-benar hanya sendiri. Penampilanmu masih sama, tidak rapi. Dengan celana jeans sobek di lutut, kemeja hitam seadanya, rokok yang masih terselip di mulut yang buru-buru kamu matikan, rambut mengombak yang terlalu panjang untuk ukuran rambut laki-laki, dan sedikit banyak acak-acakan. Tidak lupa mata bulat dan jenakamu yang menggemaskan, yang saat menatapnya, mampu melemahkan lututku, dan di saat yang sama memberi kekuatan aneh untuk memerahkan pipi ini. Saya lihat jarimu, tidak ada bongkahan besi apapun yang kamu pakai, mas. apakah ini artinya kamu menepati janjimu? Mungkin.
Ramai suasana di meja ini mas, di meja di mana kita bertemu kembali, meskipun saya tidak lagi sendiri. Dan kamu berbicara seakan tanpa arti. Bukan, bukan tanpa arti saja. Tapi… seakan pertemuan kita waktu itu hanyalah tanpa arti. Pertemuan di tempat kita menghabiskan senja, dahulu kala, mas. Di mana saya tersipu malu dengan memar di kaki.
Tidak hanya di meja, mas, di tengah sana pun orang-orang ramai berdansa, menari dengan sangat gembira. Ada yang menari dengan pasangannya, ada yang menari dengan anak-anaknya juga. Menyenangkan sekali melihatnya. Saya pun mau, sebenarnya, menari, dengan kamu, tapi, seseorang merangkul saya dari belakang, mengajak saya berjalan ke tengah, ke arah mereka menari, mas. Saya pun mau, pada akhirnya.
Dia tersenyum padaku, mas. Lalu bersama kami melangkah ke tengah, ke arah mereka yang juga menjajakan langkah. Dia pegang tangan saya, saya pegang tangan dia. Dia lingkarkan tangannya ke pinggang saya, saya gelantungkan lenganku ke pundaknya. Dia dekatkan kepalaku ke dadanya, saya terkejut. Mengapa harus menari seperti ini, mas? mana bisa saya mencuri pandang ke arahmu jika begini? Belum selesai saya terkejut, dia mulai melangkah ke samping, sembari menunduk ke arah pundak kiri atasku. Terus menerus ke kanan ke kiri, sesekali ke belakang dan ke depan. Tarian yang begitu lembut darinya. Seakan dia sedang menari dengan cangkang rapuh yang sangat berharga dan mudah pecah. Nafasnya pun terasa berhembus di telinga kiriku. Saat saya mampu, saya jauhkan kepala saya dari dada kirinya, saya tersenyum padanya. Dan menunduk, lalu melihat ke arahmu. Kulihat rokok yang ber asap-asap mengepul berbentuk awan, putih, bukan kelabu. Kulihat pula mata jenakamu menatap ke arahku, bibirmu tersimpul sempurna, indah, sangat indah. Bagaikan mata air di tengah kegersangan, saya ingin meneguknya mas, senyumanmu memunculkan dahagaku. Saya ingin menyentuhnya lagi, seperti dulu, barang sekali saja, mas.
***
            Dahulu, saat kita bersama, saya dan kamu, mas. semuanya begitu indah. Saya sudah membayangkan banyak cita-cita. Tak lupa pula kita berangan-angan untuk hari depan. Di sebuah taman di atas atap kamarmu, mas. Saya masih ingat peristiwanya. Saya rangkul lengan kananmu, lalu saya sandarkan kepala ini di sana. Rasanya hangat dan sangat mesra. Lalu saya berkicau tentang hari depan, tentang berapa bayi yang kita miliki kelak, tentang rumah yang akan kita huni, tentang nama-nama indah yang akan kita miliki di rumah itu, mas. Saya tertawa-tawa dan riang sekali, kamu juga, iya kan mas? Lagi-lagi setiap waktu kamu tersenyum dan menunduk ke arahku, saya malu mas, tapi kutarik lenganmu bermaksud mempercandai saja. Tapi terlalu kuat, dan matamu menelan mataku, bulat-bulat. Jari jemariku tidak lagi kuat menggenggam lenganmu, lemas aku menatap mata indahmu, mas. Lututku pun mulai lemas olehnya, perasaan apa ini? Untunglah dinding ini kuat menopang punggungku, mas. Untung pula senyumanmu menggugah ku untuk kuat lagi. Mendekat, dan makin mendekat. Tak hanya mendekat, kamu pun mulai mendekap, bibirmu pun mulai melahap ketercenganganku. Dan kitapun melahap kemesraan tiada batas. Buah yang diteguk nenek moyang kita sehingga umat manusia terusir dari surga hingga tiba akhir dunia.
***
Dunia ini bukanlah dunia satu jalur seperti tertulis di awal mula kitab-kitab kita, mas. buah yang diteguk Adam dan Hawa bukan lagi satu-satunya alasan terusir dari surga. Manusia kini memiliki surganya masing-masing, nerakanya masing-masing. Bapak saya bilang kamu akan masuk api penyucian yang kekal, bapak kamu bilang saya kafir dan pantas masuk neraka selamanya.
 Oh, mas, panasnya api neraka pun tak akan menandingi gonjang-ganjingnya dunia saya saat itu. Saat bapakku menamparmu seperti sampah, saat ibumu enggan lagi memberikan senyumnya untukku saat mereka tau siapa saya dan siapa kamu. Saat masing-masing dari mereka merasa memiliki surga terpantas untuk anak-anaknya. Saat itu saya lebih dari sekedar gila, namun saya diam saja. Saya berjanji saya tak mau lagi menemui kamu atau siapapun, sekalipun kamu telah berusaha membawaku pergi jauh dari tempat ini, tempat terkutuk ini dengan kartu-kartu penghambat cinta kita, begitu kamu bilang. Saya tidak mau mas. saya hanya mau menemui Tuhanku, Tuhan kita yang cuma satu. Sudilah kiranya Dia menemui saya melalui jalan ini. Sudilah kiranya Dia menemuiku setelah saya berlutut dan berdoa. Sudilah kiranya Dia menemuiku untuk sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaanku, mas. Meski setelahnya saya harus meleleh dan menjadi debu di neraka, barang sekejap saja sudilah Dia menemuiku, mas. Saya pecahkan kaca yang melindungi gambar kita berdua. Saya iriskan ke tangan kiri saya, lagi, terus menerus, menghujam hingga dalam, tidak hanya satu, mungkin seribu. Tidak sakit mas, sama sekali tak ada bandingannya dengan tamparan bapak saya kepadamu. Tidak ada. Saya tau, matipun saya akan tersenyum. Di nerakapun saya akan bersorak.
***
Tariannya pun mulai dihentikan. Saya menengok ke arahnya, tersenyum… mesra. Lalu kamu ganti mengajak saya, juga berdansa, menari seperti api. Dan dia mengijinkan saja, dia pikir kamu sahabat saya, mas. Iya, kamu memang sahabat saya, sahabat hati saya yang tidak mungkin saya hapuskan.
Mas, perasaan aneh apa ini? Dadaku bergetar dan bergejolak. Senyumku mengembang tanpa dipaksakan. Tubuhku ringan seperti awan yang diterbangkan Tuhan. Genggaman tanganku erat, dan rapat, padamu, mas. Tubuhmu masih sama seperti dulu, tinggi menjulang dan kokoh seperti besi, namun hangat di semua sisi, tanpa terkecuali. Kucium bau rokok di mulutmu, rokok yang sama yang dulu sering kamu hisap. Kuhirup bau ketiakmu yang sangat menenangkan, Kuhirup dalam-dalam, seakan ketiakmu adalah udara terakhir yang mampu saya hirup. Ku tatap matamu, dalam-dalam juga seakan menatap keindahan terakhir yang Tuhan berikan padaku, mas. Oh, mas demi Tuhan, matamu indah sekali, lututku lemas sebentar, lalu kuat lagi. Oh, ternyata perasaanku masih sama denganmu, saya masih menggilaimu mas. Saya gila, detik ini.
Tarian apa ini? Mengapa saya mampu menari sebegini rupa? Saya menari dengan ceria, seperti menghirup kegembiraan tertinggi dalam hidup saya. Saya berputar dan bersandar dalam naungan lenganmu. Lalu sebentar sebentar saya angkat kaki saya, seperti penari yang mahir menggerakkan tubuhnya. Tanpa ragu saya tertawa, lepas, sangat lepas di depan mereka. Saya tidak lagi peduli dengan dia. Bilapun setelah ini saya harus mati dibunuhnya, saya rela. Lalu di gerakkan terakhir, saya tersenyum dan memegang jari jemarimu. Namun tubuh ini terus terseret mundur menjauhi kamu, berakhir? Tarian ini berakhir begitu sajakah? Genggaman jemarimupun kian menghilang. Dan matamu tak lagi dekat denganku, tubuhmu pun menjauh, dadamu tak lagi bisa disandari oleh pipi ini. Oh mas, kamu membuatku gila lagi. Kegilaan kedua setelah tarian ceria tadi. Mas, kamu canduku, mengapa kamu muncul lagi, tak bisa lagi saya ambil hati yang tertinggal di dadamu. Saya akan tinggalkan di sana dengan sengaja. Saya mau kamu mas, hanya kamu.
***
Ranjang ini kini sepi. Tak ada lagi suara berdencitan seperti tertindih beban. Rumah ini pun semakin sunyi, seperti tanpa penghuni. Penghuninya cuma saya mas. Dan saya hanya suka berdiam. Tak ada kicauan, teriakan maupun lenguhan apapun lagi. Dia sering pergi. Dia sering tidak tersenyum. Dia sering hanya pulang dengan kelelahan. Dia tidak pernah menindih saya lagi. Dia tidak juga bertanya apapun kepada saya, tentang apapun. Mulai di sini saya sedikit bingung. Oh, tidak, saya tidak bingung, hanya pura-pura bingung. Saya tau dia cemburu. Saya tau dia tidak bisa menerima. Terakhir dia berkata dengan nada bertanya, “ternyata kau mahir berdansa”. Dia berkata sembari tersenyum, tapi tanpa memeluk ataupun menindih seperti yang biasa.
Oh Tuhan, saya lega. Tak perlu lagi saya rajin-rajin mengingat kapan saya harus menelan butiran mutiara. Dia tak lagi sudi menyentuh saya. Tapi, mengapa hanya begini saja? Ayo usir saya, ayo pukul saya, bunuh kalau perlu. Kenapa dia tidak melakukannya? Kenapa, mas?
***
Lukisan di dinding sebelah kanan itu seakan menghakimi saya. Seakan saya sedang melakukan sesuatu hal yang salah. Salah dari mana? Tanyaku. Ini bukan salah, ini benar namun sedikit gila, saya memprotes lukisan yang tetap kukuh dalam diam dan dakwa. Ya memang gila, bertanya pada lukisan saja sudah gila, apalagi memprotes dakwaannya.
Tak lama kemudian kamu muncul mas. Tak usah aku menunggu menaun seperti dulu. Kamu selalu saja menatapku seperti itu. Dari dulu hingga kini. Saya hanya bisa tersipu seperti gadis lugu. Ini saja sudah gila, iya gila, saya masih menggilaimu.
Sekarang kamu tetap sendiri, seperti apa yang kamu mau waktu itu. Benar-benar tak ada wanita lain selain saya, mas. Saya menangis di hadapanmu, tiba-tiba. Gila. Saya benar-benar rindu dengan kamu mas, ingin saya menyeretmu ke pelukanku, menciumimu hingga tak lagi saya mampu dan bernafsu.
Lalu kamu datang ke kursiku, berlutut di bawahku, dan menatap mataku. Kamu pegangi pipi saya yang entah kini berwarna apa. Bibirmu tersenyum tanpa menghiba, senyuman kuat namun tak mampu. Senyuman kuat yang dikuat-kuatkan saat tak bisa mencapai sesuatu. Setengah berdiri kamu peluk saya. Saya hanya mampu pejamkan mata sembari terisak. Memelukmu.
***
Suara tetesan air terdengar samar-samar di telinga kiri saya. Tubuh saya terlentang di ranjang yang sepertinya beda dari yang biasa. Saya coba gerak-gerakkan tangan saya, namun tidak bisa. Saya coba sedikit berdamai dengan tubuh ini dahulu, sejauh yang saya mampu. Mula-mula saya gerakkan jemari di kedua tangan. Berat, seperti ada lapisan kedua di tangan kiri. Dengan susah payah, saya gerakkan leher saya, mencoba menerka apa yang terjadi. Mata ini telah terbuka, namun sulit untuk mengikuti suasana aneh ini. Sekeliling ruangan ini berwarna biru sangat muda, mendekati putih. Di telunjuk kanan saya dipasang penjepit entah apalah itu. Di tangan kiri saya tertancap selang yang membuat ngilu. Lalu pergelangan kiri saya terbalut pembalut luka yang berlebihan tebalnya. Ah ! saya mengumpat dalam hati. Mana Tuhan? Mana? Saya ingin menemui-Mu. Kenapa saya malah berada di tempat macam ini?
Mulai dari sini saya diam setiap waktu. Meskipun tanganku sudah tak halus bagai kulit bayi, tapi wajah saya memang jelita. Mau apa saya dengan kejelitaan ini kalau tanpa kamu, mas? Ah, saya tau. Saya akan dijual, sebentar lagi. Melawan? Jangan mimpi Kama! Jangan mimpi! Sudah Kama kamu diam saja! Mereka pikir kamu hidup saja sudah untung! Mau melawan? Manusia mana yang sudi berfikir bahwa kamu wanita baik kemudian kalau kamu melawan? Kataku pada diriku sendiri. Lalu bagaimana dengan Seno? Bukankah kamu mencintainya Kama? Iya! Ah aku mencintainya, sampai gila dan putus urat-uratku! Tapi saya muak! Mau berapa lagi manusia yang harus saya atau kami lawan di atas perbedaan yang hampir terkutuk ini? Haha, seakan ada juga gunanya melawan, kalau melawan, berarti saya dan dia ini terkutuk! Terkutuk karena dikutuk! Dikutuk oleh anak cucu Adam Hawa yang terusir dari surga itu! Mengerti Kama? Iya, mengerti? Sudah! Lupakan Seno! Siapa dia? Dia akan masuk api penyucian yang kekal! Kau tidak! Mengerti Kama? Ah! Tapi bagi Seno dan mereka sayalah yang kekal di neraka! Ah!
Lalu tiba-tiba semuanya terang, sangat menyilaukan, lalu gelap seketika.
***
            Saya buka mata saya. Saya coba menerka apa yang terjadi semalaman, ah, dua tiga malaman. Terasa ada yang aneh dan berat di dadaku. Saya tengok ke kanan, ah ternyata kamu, mas. Ternyata bukan hanya di dadaku, ada yang mengganjal di punggung atasku, ah, kamu juga mas. Jadi, kami gila selama ini. Melepas rindu sampai tak mau lepas dari kamu, seperti kutu yang menempel dan membuat gatal. Saya singkirkan lenganmu yang berat dan keras seperti batu itu perlahan, demi tak ingin membangunkan. Lalu saya cari potongan-potongan kain yang masih mungkin ditemukan. Ah, seluruh sudut rumahmu ini penuh dengan kain-kainku, mas. Ternyata yang gila bukan cuma saya. Kamu juga.
            Lalu kamu bangun, demi mendengar saya merangkak-rangkak memberesi kegilaanmu. Kamu tersenyum menatapku, mau bagaimana, saya juga tersenyum menatapmu, dan matamu tetap saja indah seperti berlian, bergemerlapan, tidak membosankan. Sembari menutupi tubuh telanjang ini saya menyeret diri ke kamar mandi, membersihkan diri. Sedikit lemas.
Ah, iya ! Lalu bagaimana dengan rumah besar itu? Entahlah, mungkin dia juga tidak sudi terlalu sering pulang demi mendapati saya tetap terdiam walaupun dia telah merayu-rayu saya dengan kicauannya. Tapi entahlah, saya akan coba kembali, ah, saya harus kembali ke sana. Supaya tidak dianggap gila, meskipun jelas-jelas saya gila.
***
Ramah sekali lelaki tua ini kepada calon pembeli yang kaya raya itu, konon. Tak ada sepatahpun jawaban yang saya berikan saat saya hendak dijual. Dijual dalam sebuah kemapanan yang kaku dan tanpa perasaan. Sekaku dan se-tanpa perasaan itu pulalah aku menanggapi pembeli ini. Mengapa harus berperasaan? Toh dia membeli “barang” bagus. Hal itulah yang sepertinya diisyaratkan oleh pria tua itu saat memuji-muji saya, mas. Di mataku, pembeli itu sepertinya memanglah kaya raya. Tampan juga dia. Tapi matanya tak pernah seindah matamu. Sudahlah, walaupun gila dan dipaksa, saya hanya akan pasrah dan berserah. Sudahlah mas, saya tak ingin memperjuangkan diri-diri kita yang namanya pun saling mengutuk. Biarlah saya mengutuki diri karena ketidakmampuan melawan, biarlah, bersenanglah, mas. Meskipun kamu tidak tau, setiap malam, saya menggaruk diri seperti orang gila di bawah pancuran air rumah ini. Setiap selesai dia tindihi saya. Mas, ingin saya keluar, namun tidak bisa. Pria tua yang harusnya melindungiku itu pun menjualku, mas. Begitu juga wanita setengah baya yang merias dagangannya ini sehingga menimbulkan birahi siapapun yang melihatnya, termasuk pembeli itu, mas. Saya hanya mampu diam dan berserah, pasrah, sembari belajar tersenyum seakan suka.
***
Saya buka pintu istana kuning ini, sedikit berderik suaranya. Tak ada seorangpun saya temui di ruang depan, begitu juga di ruang tengah. Saya pukul-pukulkan tangan ke pundak, pertanda lelah tak terkirakan. Lalu saya berjalan menyelusuri tangga dengan rambut setengah kering dan berantakan. Kancing baju saya pun lepas satu, sedikit repot menutupinya. Ah, sebentar lagi sampailah saya ke ruang kamar itu. Saya sudah membayangkan bisa beristirahat setelahnya, saya lelah, mas.
Saat saya buka pintu kamar, ternyata dia sudah duduk di pinggiran ranjang luas itu. Tanpa menoleh, seakan dia tau saya telah datang di istananya. Rambutnya berantakan, begitu juga bajunya. Dia menyuruh saya duduk di sampingnya. Saya tidak mau, saya ingin ke kamar mandi dulu, sekedar mengganti baju. Tiba-tiba dia membentak saya, memaksa saya duduk, mendorong saya ke sudut ruangan. Saya terkejut, menatap matanya dengan tidak percaya. Tubuh saya terjatuh dengan sempurna ke sudut ruangan ini. Kaki saya terkilir karena tidak siap menahan serangannya. Tubuh sebesar itu mendorongku dengan sangat kuat, masih untung tulang-tulangku tidak hancur, mas.
Dia bentak saya, bertanya darimana. Saya diam. Dia bentak sembari menampar saya. Saya hanya mampu menjerit. Sakit, mas. Saya lelah. Mengapa dia jadi segila ini, tidak pernah sekalipun dia kasar pada saya. Lalu dia lempari saya dengan cangkang butiran mutiara beserta isinya yang biasa saya telan mas. Dia marah, dia temukan itu mas, itulah yang membuat dia marah. Walaupun saya sudah tak lagi menelannya. Dia cengkeram leher saya, sakit. Saya sudah merintih-rintih memohon ampun padanya, tapi dia malah tertawa seperti anjing gila. Makin kuat dia mencengkeram leher saya mas. Lalu dia pandangi wajah dan tubuh saya dengan pandangan birahi berlebih sekaligus rasa muak. Mas, saya takut. Tidakkah dia berbelas kasih dengan memar di wajah dan tubuh saya?
Dengan mata merah, dia buka seluruh bajunya. Sebelum saya mampu bangkit dia sudah mencengkeram saya mas. Dilahapnya bibir saya seakan dia kelaparan. Saya kelabakan, tak mampu melawan dan kehabisan napas. Diraihnya seluruh tubuh saya bagai membuka bungkusan hadiah yang patut dirobek. Untuk meronta pun saya sudah tak mampu. Dia pegangi tubuh saya terlampau kencang seakan tulang saya ini tak mampu retak. Lalu dia pukul wajah saya, dia tampar saya terus menerus seperti orang gila. Disetubuhinya saya dengan kasar. Saya menjerit, sekencang-kencangnya. Dan makin kencang pula bumi ini berguncang. Saya tak lagi kuat, tubuh saya sangat sakit, sakit sekali, saya lelah, mas. Saya menyesal pulang ke rumah kuning ini. Di mana kamu mas? Tolong saya mas, sakit. Lalu saat bumi makin kencang terguncang segalanya menjadi gelap, seperti tanpa pelita.
***
Saya duduk diam di ruangan luas ini. Saya pegangi perut yang membuncit ini, mas. Saya akan memiliki anak mas. Anak yang sangat amat diinginkannya mas. Saya selalu bayangkan wajahmu seakan ini adalah anakmu, berharap anak ini akan menjadi seperti rupamu. Walaupun jabang ini adalah hasil perbuatan gilanya mas. gilakah perbuatannya? Atau patutkah yang dia lakukan padaku mas? Yang mana mas yang benar? Mas, datanglah kemari, saya ingin bersandar di pundakmu dan menangis, mas. Saya rindu kamu.
Tiba-tiba saya ingin menari, berdansa seperti saat kita dulu berdansa. Siapa tau kamu merasakannya. Siapa tau kamu akan hadir kemari. Ah, saya harus cantik. Ah, buncit saya tidak terlalu terlihat, kamu tak akan tau, mas. Saya berjalan ke ruang tengah, ruangan yang luas dan memiliki banyak meja. Saya mulai menggerakkan kaki dan tangan saya seakan ada kamu di hadapan saya.
Lalu, saya dengar kamu memanggil namaku, mas. Kama, Kama! Begitu kamu berseru. Lalu, saya datangi kamu. Bajumu hitam seperti biasanya, dengan tubuh tegap dan mata menggemaskan kamu mendatangiku. Lalu kamu datang menyentuh pipiku. Kamu tersenyum. Kamu bertanya, tentang perutku yang besar. Lalu saya berusaha menyembungikannya mas. Ah, saya bilang padamu saya tidak apa-apa. Tapi kenapa perut ini tidak mau disembunyikan. Saya mau berdansa dengan orang yang saya cinta. Ah, tubuh tidak tau diri. Saya pukul-pukulkan tangan saya ke perut besar menyebalkan ini. Lalu, sepertinya perut ini mulai mengecil. Saya merasakan ada tetesan air menjatuhi kaki saya. Sepertinya sudah. Sudah tersembunyi.
Lalu kamu bertanya lagi tentang apa yang saya lakukan. Saya bilang tidak apa-apa mas. Lalu kamu ajak saya berdansa. Saya berdansa, tertawa-tawa senang. Oh, bahagianya saya berdansa dengan kamu. Kamu tertawa juga. Sesekali kamu cium bibir saya. Saya pun merasa sangat bahagia. Kamu tetap peluk saya, saya juga. Sesekali saya angkat kaki saya bagaikan penari mahir. Kamu tertawa-tawa bahagia, seperti tadi, masih sama.
Tiba-tiba, kamu mundur dengan teratur, tapi bibirmu tetap tersenyum dengan indahnya. Matamu tetap berkilapan bagaikan berlian, menggemaskan dan indah. Kamu mulai lepaskan genggaman tanganmu atasku mas. Saya telah teriak dan memanggil namamu, namun kamu seakan tak mendengar, dan tetap tersenyum lalu melangkah pergi. Ragamu memudar mas, seperti api yang ditiup oleh angin. Mas, kamu di mana! Mas, bawa aku denganmu mas! Aku butuh kamu! Lihat mas! Lihat! Aku kini cantik! Perutku sepertinya tidak buncit! Aku tidak bohong mas! Mas, kembali! Berdansa denganku! Menari seperti api, seperti tadi. Saya menjerit terus menerus. Memanggil namamu, kini saya menangis. Meraung-raung seperti macan gila. Ah! Saya memekik! Tiba-tiba tubuh saya menggenjang kesakitan. Gila. Mau dimana saya dibawa oleh kesakitan ini.
***
Ah, hidangan seperti ini lagi, setiap hari. Sangat berbeda saat wanita cantik itu masih ada. Wanita tidak tau diri itu, yang aku nikahi bertahun lalu. Coba kalau dia tidak cantik, sudah aku buang jauh-jauh dari rumah ini.
Saat hari pertama aku dengannya, wajahnya datar tanpa memiliki guratan apapun. Biarlah, dia, wanita cantik ini milikku kini, pikirku waktu itu. Saat aku menyentuhnya pun, dia seakan tanpa reaksi, namun kurasakan tubuhnya bergetar seperti ketakutan. Aku maklumi, mungkin baru pertama kali. Saat aku mulai menyerangnya, aku rasai tak ada apapun yang menghalangi. Ah, wanita ini tak lagi utuh! Saat itu aku marah, namun sekaligus bernafsu menggaulinya. Tak mungkin aku hentikan. Maka aku gencarkan serangan-seranganku pada tubuhnya. Dia sering mengerang saperti kesakitan. Namun siapa peduli. Dia milikku. Aku berfikir, sekalipun dia tak lagi utuh, tapi dia cantik, dan dia bisa menghasilkan anak-anak untukku. Tapi sepertinya aku salah.
Wanita yang kabarnya cerdas ini ternyata tak lebih dari wanita gila tidak tau diri. Masih untung ku maafkan dia yang jebol itu. Sedari dulu hingga sekarang, tak pernah ku ketahui alasan tolol apa yang membuatnya meneguk butiran terkutuk itu. Saat aku tau, aku marah. Untunglah dia tidak mati! Tubuh kecil dan lemah menyebalkan itu bisa hancur dengan mudah dengan tanganku ini! Dengan tragisnya dia mati bersimbah darah di ruang tengah! Bukan ditanganku, entah di tangan siapa. Tak ada jejak apapun yang menunjukkan dia tidak sendiri. Dia sendiri! Dan dia mati! Gila, benar-benar gila wanita cantik dan legit itu!
Sekarang ini aku sedang duduk di ruang makan dengan anak perempuanku, yang selamat dari simbahan darah ibunya. Dia lahir atau dipaksa lahir sebelum waktunya. Saat lahir, dia sudah cacat. Kaki kirinya tak mampu menopang tubuhnya yang juga kecil itu. Wajahnya cantik seperti ibu kurang ajarnya itu. Aku sangat menyayanginya. Aku tak pernah sekalipun berkata bahwa ibunya hanyalah wanita kurang ajar dan tak tau diri. Saat itu, dia memamerkan padaku, buku yang didapatnya dari temannya. Ada gambar seorang penari yang menunjukkan kaki sempurnanya. Lalu, gadis kecil di hadapanku itu berkata, “Papa, seandainya kakiku tidak cacat seperti ini, dan sempurna seperti milik mama, mungkin aku bisa menari dengan bebas ya pa, benar-benar bebas dan cantik, seperti penari ini, iya bebas pa.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar