Gaun saya indah sekali. Warnanya
merah hati. Cocok dengan kulit saya yang serupa warna mutiara pesisir. Sepatu
saya hitam mengkilat menutupi jari jemari yang berkuku rapi. Betis saya
terpampang bagaikan punggung pisang, panjang dan jenjang. Dada saya terhunus ke
depan seakan menantang siapa saja untuk menerka, seberapa berat dan kerasnya.
Belahannya pun terpajang, membuat geli siapapun untuk bersembunyi di antaranya.
Tangan saya bersih mengkilat seperti ditaburi butiran emas berkarat maksimal. Rambut
saya panjang berombak dan tergerai bagaikan barisan tirai satin yang siap
disibak dan dibelai. Bibir pun merah muda, seperti susu yang tenoda setitik
darah, siap pula diteguk. Mata saya bertengger manja di tempatnya, seperti minta
dicongkel lalu diremas hingga tak bersisa. Begitu cantik, sepertinya.
Seseorang di depan saya pun
tersenyum, senyumnya pun begitu indah, dan gagah. Jari jemarinya memegang jari
jemari saya, saya pun tersenyum pula. Cengkeramannya kuat namun lembut seperti
mengharapkan sesuatu lain dari diri saya. Wajahnya pun indah terkena cahaya
lampu di antara kami berdua. Dia tersenyum menghiba, agak.
Telah dua tahun kami bersama. Di
dalam satu ikatan perjanjian, ikatan upacara, ikatan keluarga, ikatan rumah tangga
dan bahkan ikatan ranjang yang sering kami tumpang untuk berperang. Terkejutnya
saya saat diajaknya ke tempat ini. Tempat yang penuh kenangan. Tempat yang
sering saya datangi sendirian, sekedar mencari ketenangan, menyegarkan ingatan.
Dia tersenyum, selalu, menceritakan
dengan manis, harapannya akan hadirnya anak manis di antara kami, yang tak
kunjung datang. Dia tetap manis pada saya, tidak mungkin tidak, di depan wanita
semanis saya. Kata-katanya selalu beraturan, seperti bola-bola Kristal yang berkilapan,
indah. Dan di tengah ke tercengangan saya menatap matanya, sakunya berbunyi dan
bergetar dan dia pergi sebentar. Sebuah panggilan mungkin, dari kerabat atau
atasan atau bawahan.
Saya pandangi sekeliling tempat ini,
mewah. Beberapa pasangan berdansa di samping sana, sepertinya menyenangkan,
menari dengan cinta. Saya pindahkan bola mata saya ke arah lain, sedikit sepi. Saya
suka. Saya suka melihat sudut sana, di mana saya sering mendapati diri saya
sekedar meminum kopi sendirian saja, tanpa barang siapa, seperti dahulu kala hampir
setiap senja tiba.
Saya tundukan kepala saya, membenahi
jemari yang lelah merangkai kata. Lama sekali dia tiba. Lalu leher saya
dicengkeram paksa oleh pikiran, supaya menoleh ke arah saya menyambut senja,
dahulu kala.
Saya
ingin melonjak, terkejut. Saya terkejut, Demi Tuhan. Itu apa? Saya tidak
percaya kamu di sana ! Sosok itu lagikah? Sosok yang kunanti kedatangannya
setiap waktu senja sambil merangkai kata?
Seorang pria, berkaus merah tua,
sederhana. Duduk dan tiba-tiba melihat ke arah saya. Sama terkejutnya. Saya tak
mampu berkata, hanya menoleh saja. Mulut kami tetap terkatup, namun ku lihat
mata yang bulat jenaka itu pun semakin membulat. Buyar. Otak saya buyar,
ambyar. Tak mungkin saya tahan dengan mata jenaka itu. Hati saya meluap, jiwa
saya melayang berhamburan ke arahnya saja, hanya raga ini tak mungkin bergerak.
Saya terikat. Terikat entah oleh apa.
Bibirmu mulai tersenyum,
menyembunyikan keterkejutan yang kecut. Saya masih terkatup, mencoba
menyimpulkan mulut, mata saling mengenang, berbicara, bergelut. Mengindahkan
kerinduan akut. Saya rindu kamu, mas, dan di sini lah aku bertemu kamu, lagi.
Dia datang kembali, dengan senyum
mengembang, sama kembangnya saat dia menggeluti saya di ranjang lalu berhasil
membuat diri saya menggelinjang sembari mengerang. Lagi-lagi wajah indahnya
memaparkan senyum penuh perhatian dan cinta. Dia ajak saya berdansa, seperti
yang lainnya. Saya mau, harus mau, begitu sepertinya. Saya maju, setelah dia
tentu saja.
Dipegangnya tangan saya, dan saya
pegang tangan dia. Dilingkarkan tangannya yang satu ke pinggang ramping saya,
saya gelantungkan tangan saya yang satu ke pundak dekat dada bidangnya. Mulailah
dia menggerakkan kakinya, mulailah saya gerakkan kaki saya. Saya tak mahir
berdansa, tapi dia bisa. Dipermainkannya saya dalam dansa itu, putar ke sana kemari, dan saya tak mampu
melakukannya seperti dia. Dalam pelukan hangatnya itu, mataku tercuri oleh
kehadiranmu, mas. Saya tengok ke arahmu, selalu saat saya mampu, saat dia putar
saya menghadapmu. Kamu diam dan menatapku, tanpa tersipu. Tanpa tersipu. Wajah
saya mungkin membiru, beku. Seperti mayat yang baru saja mati dalam salju. Dingin,
tubuh saya merasa sangat dingin, dalam kehangatan tariannya.
Ahh
!! saya memekik lesu, kaki saya terkilir, tak mampu melanjutkan apapun. Saya
tak mampu, memang benar-benar tak mampu jika harus berdansa dengannya,
dipermainkannya bagai boneka. Sakit sekali, seperti ditusuki jarum besar dan
tumpul. Dia terkejut, tanpa melepaskan pegangannya dari saya, dia papah saya ke
tempat semula. Dia berlutut melihat kaki saya, ungu warnanya di pergelangan
bawah. Lagi, saya mencuri pandang ke arahmu, malu, saya malu. Tanganmu kudapati
menggenggam seakan ingin menahan kaki supaya diam di tempat. Matamu tidak lagi
bulat. Tapi menajam seperti pedang. Saya menunduk lagi, ngilu dalam dan luar.
Kami
pulang. Kamu tidak. Tapi, hatiku tinggal di sana bersamamu, mas. Saya tak
mungkin bertahan hidup tanpa hati saya. Saya akan ambil lagi lain waktu,
semoga.
***
Hujan
rintik menghantarkan kedatanganku dan dia. Rumah sedemikian mewah dengan tangga
menjulang ke atas dan dinding kuning yang mempertegas kehangatan dalam
kemewahan ini. Kecantikanku tak pudar, meskipun ribuan memar menerpa tubuhku,
katanya. Saat dia memapahku ke ranjang kesukaannya, ah kesukaanku juga?
Baiklah. Dia obati memar saya dengan lembutnya. Saya tidak tahan, mana bisa
saya menolak kelebutan seindah ini, mana bisa? Selesai itu, dia peluk saya.
Saya diam, saya hanya tersenyum. Baginya, itu penyambutan yang wajar dari seorang
wanita seperti saya. Iya, penyambutan yang sangat wajar. Penyambutan wanita
baik yang dibungkus dalam diam.
Dia
belai rambut saya, dipermainkannya pipi saya, lembut, penuh cinta. Lagi, dia berkata,
“rumah ini begitu luas, siapa lagi yang akan meramaikannya? Semoga segera
datang malaikat cantik kita, ya ma?” dipeluknya lagi saya, lebih kencang dari
sebelumnya. Seakan dia lupa, beberapa detik yang lalu saya adalah telur mentah
yang rapuh dan mudah pecah. Sekarang saya adalah ikan asin yang harus dikuliti
hingga tulang belulangnya, diangkat ke sana kemari. Diputar-putar, dihisap
hingga berbunyi, dan diresapi hingga terasa betul asinnya. Tak lebih dari ini,
pada akhirnya saya hanya seperti ikan asin yang ditindih oleh senyummya yang
mengembang, saat menyaksikan saya menggelinjang sembari mengerang, meski
seperti dendangan sumbang.
***
Pagi
yang begitu indah. Hanya semangat untuk diri saya saja saya memapah diri untuk bertahan
dari luka yang masih bernanah di dalam tubuh, semenjak hatiku tertinggal di tempat
itu, mas. Saya ingin mengambilnya lagi, tak lengkap tubuh ini tanpanya mas,
tolong kembalikan lagi hatiku itu. Tolong.
***
Butiran
obat serupa mutiara mungil pun saya telan. Tentu saja hanya dalam diam, tak
satupun yang mengetahui. Tak satupun juga yang ingin tau, bagaimana saya mau
dicintai. Benar-benar hanya dicintai, sebagai semata diri saya ini. Bukan semata
apa yang mungkin kemudian saya atau kami miliki. Bisakah dia melakukan apa yang
saya maui? Tentu tidak. Sepertinya tidak. Bukan hanya dia, tapi juga mereka.
Mana mau mereka tau apa yang saya ingini? Yang mereka tau hanya yang mereka
mau, dari onggokan batang tubuh dan tulang kecil ini. Mereka tak mau tau saya
tak mau. Ya sudah, saya biarkan mereka tidak tau apa yang saya tidak mau. Maka
selalu saya telan butiran mutiara mungil untuk penghambat ini.
***
Saya
habiskan sore ini dalam diam. Seperti kebanyakan sore yang saya miliki. Oh,
tidak, tidak hanya sore. Pagi, siang, malam… semua. Saya hanya diam. Semua
waktu yang saya miliki hanya terkulum dalam senyuman kecut tapi manis dari
bibir saya. Dan saya pun tak berusaha sedikitpun untuk menyimpulkan bibir saat
ini. Saat saya merangkai kata-kata, bagi mereka yang kehausan akan karya saya. Di
tempat ini mas. di tempat di mana saya selalu habiskan senja saat dahulu kala.
Ah, saya? Kita.
Saya
mencoba mengingat semuanaya. Saya tuangkan dalam rangkaian cerita berbalut
cinta. Cinta yang indah pada awalnya, tapi binasa hanya karena mereka. Orang-orang
gila. Saya tertawa, tiba-tiba, mengingat semuanya. Aneh, nyata. Siapakah
sebenarnya yang gila? Saya atau mereka? Oh, bagi mereka saya, bagi saya mereka.
Gila.
***
Saat
itu saya hanyalah gadis muda biasa. Belajar giat tentang sastra. Menjadi
penulis, itu keinginan saya. Saya dianggap cerdas oleh mereka, begitulah
penilaiannya. Menjadi ibu dengan suami tercinta sebagai ayahnya, sambil tetap
berkarya, itu keinginan saya. Suami tercinta, ingat suami tercinta. Begitu weling saya untuk diri saya sendiri,
bukan apa-apa, hanya supaya saya bisa rela. Sebagai wanita di sebuah belantara
penuh pria yang bisa dibilang, sebagai “penguasa”nya.
Saya
bukan cuma penggemar sastra, saya penggemar musik juga. Kata mereka, suara saya
bagus, wajah saya jelita, kurang apa coba? Tidak ada. Dan saat itulah saya
bertemu kamu, mas. Aduh klise sekali. Bertemu dengan seseorang yang sama sama
menyukai sesuatu, mempelajari sesuatu yang tak lain pula. Kurang apa sih? Tidak
ada.
Sejak
pertama bertemu tanpa tau namamu pun saya telah jatuh cinta, mas. Mungkin cinta
dangkal yang didasari keindahan yang ditangkap indera mata saya yang tanpa
cacat. Saya tidak ingin memungkirinya lho. Namanya juga wanita muda, tidak
buta, bagaimana bisa mengabaikan pemandangan seindah kamu? Hahaha, saya
tertawa.
Ah,
mas, saya kagum dengan kamu. Benar-benar kagum. Terutama saat kita bernyanyi
bersama. Rambutmu terjatuh ke alis dengan sempurna, tertunduk matamu mengarah
ke dawai gitar yang kamu petik dengan indahnya, mengiringi suara alto saya. Saya
tersenyum menahan geli, bukan apa-apa, saya terlampau bahagia, meski belum
terlalu mengenal kamu. Lalu sesekali kamu melirik saya, dengan mata anak anjing
yang bulat dan jenaka. Saya jadi teringat anak anjing yang kakak perempuan saya
pelihara, manis dan jenaka. Senyumanmu pun menyimpul dengan sempurna saat saya
gagal mencapai nada di oktaf ke-tiga. Hahaha, saya merasa jenaka, menyanyikan
lagu kita dengan tidak sempurna, hanya karena suara saya yang kurang mencapai
nada. Lalu setiap saya malu karena itu, saya bersembunyi di ketiakmu sembari
tersipu. Ah, mas, saya masih ingat. Tidak terlalu harum, tapi saya suka. Mesra,
tanpa kata, tanpa ikatan… bebas seperti angin yang bisa lakukan apapun, bisa
terbang kemanapun. Bisa mengecup apapun.
***
Mas,
saya sayang sekali dengan kamu. Meskipun kamu tidak pernah berdoa dengan cara
saya. Meskipun kamu menganggap peliharaan saya sebagai makhluk najis yang
bahkan tak boleh tersentuh. Kamu pun sayang dengan saya, sepertinya. Saya tidak
berani bilang kalau saya suka, mas. ah, pengecutnya saya. Iya saya pengecut.
Pada akhirnya saya diam saja. Benarlah kediaman saya tidak percuma. Karena pada
akhirnya, kita bersama. Hanya kita berdua saja yang mengikatnya. Mana sudi Tuhan
turut mengakui? Tuhan? Tuhan pastilah sudi. Rumah-Rumah itu yang enggan
menolong kami. Menolong? Mana butuh kami ditolong. Kami saling mencintai, itu
sudahlah cukup, buat saya dan kamu, bukan begitu, mas?
***
Rumah
kuning nan megah ini lagi. Saya tersenyum kecut setiap melangkah di dalamnya.
Mengapa harus begini? Mengapa saya harus se kecut ini? Semua ada, semua
tersedia. Saya dilayani bak istri raja, meski di malam hari saya tak lebih dari
kuda tunggangannya. Tapi, sepertinya, begitu memang keadaan yang seharusnya.
Hahaha, lagi-lagi saya tertawa.
Saya
mengingat lagi, saat dulu dengan kamu. Di sawah, di kebun, di mana-mana. Tapi,
bukan di gedung macam ini, mas. Gedung? Ah, maksudku, rumah. Di sana, saya kamu
ajak berkeliaran, melihat petani yang tertawa lepas dan bahagia. Ah, saya juga
bahagia melihat mereka. Entah saya bahagia karena mereka, atau karena lengan
kirimu yang selalu tertempel di dada kananku setiap kita berlalu? Entahlah,
yang jelas saya bahagia dengan keadaan itu, waktu itu.
Saat
mengingat hal-hal itu, mas, saya ingin bertukar jiwa dengan para petani yang
setiap waktu harus ke sawah-sawah itu. Menggarap tanah-tanah Tuhan lalu
menghasilkan biji-biji dan buah-buah bermutu. Mereka semua melakukannya,
sembari tertawa, mas. meski kaki kotor dipenuhi tanah. Walaupun begitu, saya
percaya, tanah-tanah itu adalah tanah-tanah yang suci, diciptakan untuk kita,
manusia. Maka merekalah orang-orang suci pemberi makan kita, sejatinya
merekalah orang-orang suci itu, mas. Pembawa pesan dari Tuhan, tanah untuk
diolah. Sedangkan kita? Saya? Hanyalah kapitalis serakah dan menyedihkan yang
menguras tenaga mereka dengan uang. Saya tau wajah beras-beras itu, dan saya
mampu membelinya dengan wajah uang. Ada uang ada barang, begitu mereka bilang.
Tapi, di mana nilainya? Mungkin hampir tidak ada. Mana saya tau petani-petani
itu makan dengan layak atau tidak? Apakah mampu mereka mendanai anak-anak
mereka untuk belajar selayaknya? Berpakaian selayaknya? Mana saya tau? Yang
saya tau, tenaga mereka dihargai oleh lembaran kertas dengan gambar orang-orang
yang telah tewas. Iya, tenaga orang-orang nan suci itu. Adilkah ini Tuhanku? Beginikah
wajah-wajah utusan-Mu di dunia? Yang mengolah titipan-Mu, memberi makan semua dan
lalu tidak mampu melakukan semua? Mereka yang mulia itu Tuhan? Meskipun tidak
semua tidak mampu, tapi ada. Iya kan Tuhan?
Sedikit
banyak saya mencoba menyelami hati mereka. Sendiri, lagi-lagi hanya sendiri
tanpa kata. Semata-mata tentang apa yang mereka pikirkan tentang orang yang
memiliki kertas dengan gambar orang-orang tewas, yang lebih banyak dari mereka.
Mungkinlah mereka berfikir saya ini beruntung. Tanpa perlu berlendhut sudah bisa ongkang-ongkang begitu saja. Tanpa harus menghanguskan punggung, hidup
sudah tersambung. Hanya perlu suara sedikit keras, apa-apa sudah tersedia.
Mereka pikir saya ini bahagia, karena onggokan kertas cetakan Negara. Sebentar,
saya mau tertawa. Hahaha.
Mana
mungkin saya menyalahkan pikiran mereka? Tak ada satupun orang yang tidak suka
uang, di dunia ini, di dunia di mana orang-orang dihargai dengan gambar-gambar
pendahulu mereka yang kini sudah pasti tidak lebih dari bangkai. Dan saya pun
berada di rumah kuning ini semata-mata atau tidak semata-mata, karena uang kok.
Itu semua, pikiran-pikiran gila, menurut saya. Pikiran gila kaum jelata,
menurut saya. Dan, pikiran gila kapitalis tukang ongkang-ongkang, menurut mereka. Tapi, menurut kamu,
pikiran-pikiran ini disebut Wang-Sinawang
saja. Sederhana. Saya mau tertawa dulu, hahaha.
***
Sebuah
surat undangan cantik dihantarkan ke rumah kami. Rupanya, sebuah reuni. Reuni
dari tempat saya belajar dulu. Tempatmu belajar juga, mas. ah, benar-benar
kebetulan yang bukanlah sebuah celaka. Terdengar seperti cerita murahan yang
pernah saya baca. Bagaimana lagi? Ini nyata. Mungkin, saya bisa bertemu denganmu,
mas. Di belantara pecinta bahasa dan sastra. Mungkin saya juga bisa melepas
sakit rindu yang terbungkus dalam diam juga. Siapa pula yang tau, jikalah kamu
masih menyukai warna yang saya suka juga. Merah.
***
Saya
rias wajah saya, yang cantik kata mereka. Tak perlu saya tebalkan apapun, sudah
lah saya merasa cukup dengan wajah ini. Rambut saya sudah cukup indah dengan
digerai saja. Saya belah sedikit ke kanan. Saya lihat pula dada saya terlihat
terbelah dengan sempurna, di tengah, bukan di kanan. Ah, mana ada belahan dada
ke kanan. Saya pakai gaun ini. Gaun merah, bukan merah hati. Tapi merah yang
menyala seperti api. Saya terlihat seperti biasa saja. Ah, berbeda, beda. Tetap
berbeda. Kali ini saya lebih sumringah mas. saya tau saya akan bertemu
denganmu, meski mungkin hanya sekilas saja. Namun, dia salah kira. Dia kira
saya sumringah karena dia. Karena dia tak lagi sibuk bekerja, dan bersedia
menemani saya dalam pesta reuni ini. Reuni kita, mas. Ya sudahlah. Saya biarkan
dia salah kira. Dan bagaimana jadinya jika dia tidak salah kira? Entahlah.
Mudah-mudahan dia tetap selembut ini. Mudah-mudahan, mas.
***
Sebuah
ruangan yang dipenuhi oleh meja-meja berisi makanan siap makan. Sedikit saja
kursi yang tersedia di sini. Dan dia dengan cepatnya bisa menemukan kursi dan
meja buat kami berdua. Saat dia menawarkan lengannya untuk digandeng, saya
melirik ke kanan dan tersenyum seperti biasa. Kami berjalan dengan serasi
seperti pangeran dan putri, mungkin.
Lalu
kami bertemu sahabat-sahabat lamaku yang juga telah membawa suami-suami. Beberapa
membawa pula anak mereka. Tangan-tangan kecil mereka pun sering menyentuh
jemariku ketika aku menggendongnya. Hatiku pun luluh seketika. Jiwa-jiwa tanpa
dosa yang mengetahui asal mereka pun tidak. Mana mereka tau kalau dahulu mereka
adalah kecebong dan telur dari selangkang masing-masing orang tua mereka? Yang
mereka tau hanyalah menghisap puting susu, menangis saat tak mampu, dan tertawa
di saat ada yang lucu. Tapi justru itu, mereka memanglah lucu. Pantaslah dia
ingin sekali memiliki satu saja dari mereka. Mungkin karena itu, karena mereka
memang lucu. Atau mungkin tidak? Entahlah. Namun, yang saya mau berbeda. Saya
mau memiliki mereka, hanya dengan orang yang saya cinta. Itu saja. Mengapa?
Salah? Biarlah.
Lalu
sesekali ada yang bertanya, dimanakah putra saya. Mana saya bisa jawab? Bisa
sebenarnya, namun sulit. Sedikit aneh bahwa kami sudah bertahun bersama dan
tidak segera memiliki pemenang dalam pertandingan kecebong yang berenang-renang
ke arah telur itu. Pasti mereka berfikir, yang mana yang payah? Kecebongnya
atau telurnya? Begitu. Ah, menyebalkan. Tidak ada yang payah, percayalah. Tapi,
si telur dikendalikan oleh butiran mutiara mungil dari si empunya tubuh. Biarlah,
tubuh ini tubuh saya. Kenapa seakan jadi urusan mereka, mas? kenapa? Tak
bolehkah saya memilih, barang sekali saja dalam hidup ini setelah
kepatuhan-kepatuhan yang memuakkan di dunia yang saya huni? Sedikit banyak,
pertemuan-pertemuan kami dengan mereka hanya menimbulkan kemuakkan yang
merupakan sebuah niscaya untuk muncul di kerongkongan saya setelah pertanyaan
menyebalkan itu.
Saat
saya kelabakan dengan pertanyaan-pertanyaan memuakkan itu, kamu datang, mas. bukan
sekedar datang. Kamu mendatangi kami, dengan berani. Kakimu tidak lagi
terhalang oleh genggaman tangan manapun dan siapapun. Saat kamu datang, saya
tidak melihat ada yang mengikuti, barang seorang istri, ataupun bayi. Kamu
benar-benar hanya sendiri. Penampilanmu masih sama, tidak rapi. Dengan celana
jeans sobek di lutut, kemeja hitam seadanya, rokok yang masih terselip di mulut
yang buru-buru kamu matikan, rambut mengombak yang terlalu panjang untuk ukuran
rambut laki-laki, dan sedikit banyak acak-acakan. Tidak lupa mata bulat dan jenakamu
yang menggemaskan, yang saat menatapnya, mampu melemahkan lututku, dan di saat
yang sama memberi kekuatan aneh untuk memerahkan pipi ini. Saya lihat jarimu,
tidak ada bongkahan besi apapun yang kamu pakai, mas. apakah ini artinya kamu
menepati janjimu? Mungkin.
Ramai
suasana di meja ini mas, di meja di mana kita bertemu kembali, meskipun saya
tidak lagi sendiri. Dan kamu berbicara seakan tanpa arti. Bukan, bukan tanpa
arti saja. Tapi… seakan pertemuan kita waktu itu hanyalah tanpa arti. Pertemuan
di tempat kita menghabiskan senja, dahulu kala, mas. Di mana saya tersipu malu
dengan memar di kaki.
Tidak
hanya di meja, mas, di tengah sana pun orang-orang ramai berdansa, menari
dengan sangat gembira. Ada yang menari dengan pasangannya, ada yang menari
dengan anak-anaknya juga. Menyenangkan sekali melihatnya. Saya pun mau,
sebenarnya, menari, dengan kamu, tapi, seseorang merangkul saya dari belakang,
mengajak saya berjalan ke tengah, ke arah mereka menari, mas. Saya pun mau,
pada akhirnya.
Dia
tersenyum padaku, mas. Lalu bersama kami melangkah ke tengah, ke arah mereka
yang juga menjajakan langkah. Dia pegang tangan saya, saya pegang tangan dia. Dia
lingkarkan tangannya ke pinggang saya, saya gelantungkan lenganku ke pundaknya.
Dia dekatkan kepalaku ke dadanya, saya terkejut. Mengapa harus menari seperti
ini, mas? mana bisa saya mencuri pandang ke arahmu jika begini? Belum selesai
saya terkejut, dia mulai melangkah ke samping, sembari menunduk ke arah pundak
kiri atasku. Terus menerus ke kanan ke kiri, sesekali ke belakang dan ke depan.
Tarian yang begitu lembut darinya. Seakan dia sedang menari dengan cangkang
rapuh yang sangat berharga dan mudah pecah. Nafasnya pun terasa berhembus di
telinga kiriku. Saat saya mampu, saya jauhkan kepala saya dari dada kirinya,
saya tersenyum padanya. Dan menunduk, lalu melihat ke arahmu. Kulihat rokok
yang ber asap-asap mengepul berbentuk awan, putih, bukan kelabu. Kulihat pula
mata jenakamu menatap ke arahku, bibirmu tersimpul sempurna, indah, sangat
indah. Bagaikan mata air di tengah kegersangan, saya ingin meneguknya mas,
senyumanmu memunculkan dahagaku. Saya ingin menyentuhnya lagi, seperti dulu,
barang sekali saja, mas.
***
Dahulu, saat kita bersama, saya dan
kamu, mas. semuanya begitu indah. Saya sudah membayangkan banyak cita-cita. Tak
lupa pula kita berangan-angan untuk hari depan. Di sebuah taman di atas atap kamarmu,
mas. Saya masih ingat peristiwanya. Saya rangkul lengan kananmu, lalu saya
sandarkan kepala ini di sana. Rasanya hangat dan sangat mesra. Lalu saya
berkicau tentang hari depan, tentang berapa bayi yang kita miliki kelak,
tentang rumah yang akan kita huni, tentang nama-nama indah yang akan kita
miliki di rumah itu, mas. Saya tertawa-tawa dan riang sekali, kamu juga, iya
kan mas? Lagi-lagi setiap waktu kamu tersenyum dan menunduk ke arahku, saya
malu mas, tapi kutarik lenganmu bermaksud mempercandai saja. Tapi terlalu kuat,
dan matamu menelan mataku, bulat-bulat. Jari jemariku tidak lagi kuat
menggenggam lenganmu, lemas aku menatap mata indahmu, mas. Lututku pun mulai
lemas olehnya, perasaan apa ini? Untunglah dinding ini kuat menopang punggungku,
mas. Untung pula senyumanmu menggugah ku untuk kuat lagi. Mendekat, dan makin
mendekat. Tak hanya mendekat, kamu pun mulai mendekap, bibirmu pun mulai
melahap ketercenganganku. Dan kitapun melahap kemesraan tiada batas. Buah yang
diteguk nenek moyang kita sehingga umat manusia terusir dari surga hingga tiba
akhir dunia.
***
Dunia
ini bukanlah dunia satu jalur seperti tertulis di awal mula kitab-kitab kita,
mas. buah yang diteguk Adam dan Hawa bukan lagi satu-satunya alasan terusir
dari surga. Manusia kini memiliki surganya masing-masing, nerakanya
masing-masing. Bapak saya bilang kamu akan masuk api penyucian yang kekal,
bapak kamu bilang saya kafir dan pantas masuk neraka selamanya.
Oh, mas, panasnya api neraka pun tak akan
menandingi gonjang-ganjingnya dunia saya saat itu. Saat bapakku menamparmu
seperti sampah, saat ibumu enggan lagi memberikan senyumnya untukku saat mereka
tau siapa saya dan siapa kamu. Saat masing-masing dari mereka merasa memiliki surga
terpantas untuk anak-anaknya. Saat itu saya lebih dari sekedar gila, namun saya
diam saja. Saya berjanji saya tak mau lagi menemui kamu atau siapapun, sekalipun
kamu telah berusaha membawaku pergi jauh dari tempat ini, tempat terkutuk ini
dengan kartu-kartu penghambat cinta kita, begitu kamu bilang. Saya tidak mau
mas. saya hanya mau menemui Tuhanku, Tuhan kita yang cuma satu. Sudilah kiranya
Dia menemui saya melalui jalan ini. Sudilah kiranya Dia menemuiku setelah saya
berlutut dan berdoa. Sudilah kiranya Dia menemuiku untuk sekedar menjawab
pertanyaan-pertanyaanku, mas. Meski setelahnya saya harus meleleh dan menjadi
debu di neraka, barang sekejap saja sudilah Dia menemuiku, mas. Saya pecahkan
kaca yang melindungi gambar kita berdua. Saya iriskan ke tangan kiri saya,
lagi, terus menerus, menghujam hingga dalam, tidak hanya satu, mungkin seribu. Tidak
sakit mas, sama sekali tak ada bandingannya dengan tamparan bapak saya
kepadamu. Tidak ada. Saya tau, matipun saya akan tersenyum. Di nerakapun saya
akan bersorak.
***
Tariannya
pun mulai dihentikan. Saya menengok ke arahnya, tersenyum… mesra. Lalu kamu
ganti mengajak saya, juga berdansa, menari seperti api. Dan dia mengijinkan
saja, dia pikir kamu sahabat saya, mas. Iya, kamu memang sahabat saya, sahabat
hati saya yang tidak mungkin saya hapuskan.
Mas,
perasaan aneh apa ini? Dadaku bergetar dan bergejolak. Senyumku mengembang
tanpa dipaksakan. Tubuhku ringan seperti awan yang diterbangkan Tuhan. Genggaman
tanganku erat, dan rapat, padamu, mas. Tubuhmu masih sama seperti dulu, tinggi
menjulang dan kokoh seperti besi, namun hangat di semua sisi, tanpa terkecuali.
Kucium bau rokok di mulutmu, rokok yang sama yang dulu sering kamu hisap.
Kuhirup bau ketiakmu yang sangat menenangkan, Kuhirup dalam-dalam, seakan
ketiakmu adalah udara terakhir yang mampu saya hirup. Ku tatap matamu,
dalam-dalam juga seakan menatap keindahan terakhir yang Tuhan berikan padaku,
mas. Oh, mas demi Tuhan, matamu indah sekali, lututku lemas sebentar, lalu kuat
lagi. Oh, ternyata perasaanku masih sama denganmu, saya masih menggilaimu mas. Saya
gila, detik ini.
Tarian
apa ini? Mengapa saya mampu menari sebegini rupa? Saya menari dengan ceria,
seperti menghirup kegembiraan tertinggi dalam hidup saya. Saya berputar dan
bersandar dalam naungan lenganmu. Lalu sebentar sebentar saya angkat kaki saya,
seperti penari yang mahir menggerakkan tubuhnya. Tanpa ragu saya tertawa,
lepas, sangat lepas di depan mereka. Saya tidak lagi peduli dengan dia. Bilapun
setelah ini saya harus mati dibunuhnya, saya rela. Lalu di gerakkan terakhir,
saya tersenyum dan memegang jari jemarimu. Namun tubuh ini terus terseret
mundur menjauhi kamu, berakhir? Tarian ini berakhir begitu sajakah? Genggaman
jemarimupun kian menghilang. Dan matamu tak lagi dekat denganku, tubuhmu pun menjauh,
dadamu tak lagi bisa disandari oleh pipi ini. Oh mas, kamu membuatku gila lagi.
Kegilaan kedua setelah tarian ceria tadi. Mas, kamu canduku, mengapa kamu
muncul lagi, tak bisa lagi saya ambil hati yang tertinggal di dadamu. Saya akan
tinggalkan di sana dengan sengaja. Saya mau kamu mas, hanya kamu.
***
Ranjang
ini kini sepi. Tak ada lagi suara berdencitan seperti tertindih beban. Rumah
ini pun semakin sunyi, seperti tanpa penghuni. Penghuninya cuma saya mas. Dan
saya hanya suka berdiam. Tak ada kicauan, teriakan maupun lenguhan apapun lagi.
Dia sering pergi. Dia sering tidak tersenyum. Dia sering hanya pulang dengan
kelelahan. Dia tidak pernah menindih saya lagi. Dia tidak juga bertanya apapun
kepada saya, tentang apapun. Mulai di sini saya sedikit bingung. Oh, tidak,
saya tidak bingung, hanya pura-pura bingung. Saya tau dia cemburu. Saya tau dia
tidak bisa menerima. Terakhir dia berkata dengan nada bertanya, “ternyata kau
mahir berdansa”. Dia berkata sembari tersenyum, tapi tanpa memeluk ataupun
menindih seperti yang biasa.
Oh
Tuhan, saya lega. Tak perlu lagi saya rajin-rajin mengingat kapan saya harus
menelan butiran mutiara. Dia tak lagi sudi menyentuh saya. Tapi, mengapa hanya
begini saja? Ayo usir saya, ayo pukul saya, bunuh kalau perlu. Kenapa dia tidak
melakukannya? Kenapa, mas?
***
Lukisan
di dinding sebelah kanan itu seakan menghakimi saya. Seakan saya sedang
melakukan sesuatu hal yang salah. Salah dari mana? Tanyaku. Ini bukan salah,
ini benar namun sedikit gila, saya memprotes lukisan yang tetap kukuh dalam
diam dan dakwa. Ya memang gila, bertanya pada lukisan saja sudah gila, apalagi
memprotes dakwaannya.
Tak
lama kemudian kamu muncul mas. Tak usah aku menunggu menaun seperti dulu. Kamu
selalu saja menatapku seperti itu. Dari dulu hingga kini. Saya hanya bisa
tersipu seperti gadis lugu. Ini saja sudah gila, iya gila, saya masih
menggilaimu.
Sekarang
kamu tetap sendiri, seperti apa yang kamu mau waktu itu. Benar-benar tak ada
wanita lain selain saya, mas. Saya menangis di hadapanmu, tiba-tiba. Gila. Saya
benar-benar rindu dengan kamu mas, ingin saya menyeretmu ke pelukanku,
menciumimu hingga tak lagi saya mampu dan bernafsu.
Lalu
kamu datang ke kursiku, berlutut di bawahku, dan menatap mataku. Kamu pegangi
pipi saya yang entah kini berwarna apa. Bibirmu tersenyum tanpa menghiba,
senyuman kuat namun tak mampu. Senyuman kuat yang dikuat-kuatkan saat tak bisa mencapai
sesuatu. Setengah berdiri kamu peluk saya. Saya hanya mampu pejamkan mata
sembari terisak. Memelukmu.
***
Suara
tetesan air terdengar samar-samar di telinga kiri saya. Tubuh saya terlentang
di ranjang yang sepertinya beda dari yang biasa. Saya coba gerak-gerakkan
tangan saya, namun tidak bisa. Saya coba sedikit berdamai dengan tubuh ini
dahulu, sejauh yang saya mampu. Mula-mula saya gerakkan jemari di kedua tangan.
Berat, seperti ada lapisan kedua di tangan kiri. Dengan susah payah, saya gerakkan
leher saya, mencoba menerka apa yang terjadi. Mata ini telah terbuka, namun
sulit untuk mengikuti suasana aneh ini. Sekeliling ruangan ini berwarna biru
sangat muda, mendekati putih. Di telunjuk kanan saya dipasang penjepit entah
apalah itu. Di tangan kiri saya tertancap selang yang membuat ngilu. Lalu
pergelangan kiri saya terbalut pembalut luka yang berlebihan tebalnya. Ah !
saya mengumpat dalam hati. Mana Tuhan? Mana? Saya ingin menemui-Mu. Kenapa saya
malah berada di tempat macam ini?
Mulai
dari sini saya diam setiap waktu. Meskipun tanganku sudah tak halus bagai kulit
bayi, tapi wajah saya memang jelita. Mau apa saya dengan kejelitaan ini kalau
tanpa kamu, mas? Ah, saya tau. Saya akan dijual, sebentar lagi. Melawan? Jangan
mimpi Kama! Jangan mimpi! Sudah Kama kamu diam saja! Mereka pikir kamu hidup
saja sudah untung! Mau melawan? Manusia mana yang sudi berfikir bahwa kamu
wanita baik kemudian kalau kamu melawan? Kataku pada diriku sendiri. Lalu
bagaimana dengan Seno? Bukankah kamu mencintainya Kama? Iya! Ah aku
mencintainya, sampai gila dan putus urat-uratku! Tapi saya muak! Mau berapa
lagi manusia yang harus saya atau kami lawan di atas perbedaan yang hampir
terkutuk ini? Haha, seakan ada juga gunanya melawan, kalau melawan, berarti
saya dan dia ini terkutuk! Terkutuk karena dikutuk! Dikutuk oleh anak cucu Adam
Hawa yang terusir dari surga itu! Mengerti Kama? Iya, mengerti? Sudah! Lupakan
Seno! Siapa dia? Dia akan masuk api penyucian yang kekal! Kau tidak! Mengerti
Kama? Ah! Tapi bagi Seno dan mereka sayalah yang kekal di neraka! Ah!
Lalu
tiba-tiba semuanya terang, sangat menyilaukan, lalu gelap seketika.
***
Saya buka mata saya. Saya coba
menerka apa yang terjadi semalaman, ah, dua tiga malaman. Terasa ada yang aneh
dan berat di dadaku. Saya tengok ke kanan, ah ternyata kamu, mas. Ternyata
bukan hanya di dadaku, ada yang mengganjal di punggung atasku, ah, kamu juga
mas. Jadi, kami gila selama ini. Melepas rindu sampai tak mau lepas dari kamu, seperti kutu yang menempel dan membuat gatal. Saya singkirkan lenganmu yang berat dan
keras seperti batu itu perlahan, demi tak ingin membangunkan. Lalu saya cari
potongan-potongan kain yang masih mungkin ditemukan. Ah, seluruh sudut rumahmu
ini penuh dengan kain-kainku, mas. Ternyata yang gila bukan cuma saya. Kamu
juga.
Lalu kamu bangun, demi mendengar
saya merangkak-rangkak memberesi kegilaanmu. Kamu tersenyum menatapku, mau
bagaimana, saya juga tersenyum menatapmu, dan matamu tetap saja indah seperti
berlian, bergemerlapan, tidak membosankan. Sembari menutupi tubuh telanjang ini
saya menyeret diri ke kamar mandi, membersihkan diri. Sedikit lemas.
Ah,
iya ! Lalu bagaimana dengan rumah besar itu? Entahlah, mungkin dia juga tidak
sudi terlalu sering pulang demi mendapati saya tetap terdiam walaupun dia telah
merayu-rayu saya dengan kicauannya. Tapi entahlah, saya akan coba kembali, ah,
saya harus kembali ke sana. Supaya tidak dianggap gila, meskipun jelas-jelas
saya gila.
***
Ramah
sekali lelaki tua ini kepada calon pembeli yang kaya raya itu, konon. Tak ada
sepatahpun jawaban yang saya berikan saat saya hendak dijual. Dijual dalam
sebuah kemapanan yang kaku dan tanpa perasaan. Sekaku dan se-tanpa perasaan itu
pulalah aku menanggapi pembeli ini. Mengapa harus berperasaan? Toh dia membeli
“barang” bagus. Hal itulah yang sepertinya diisyaratkan oleh pria tua itu saat
memuji-muji saya, mas. Di mataku, pembeli itu sepertinya memanglah kaya raya. Tampan
juga dia. Tapi matanya tak pernah seindah matamu. Sudahlah, walaupun gila dan
dipaksa, saya hanya akan pasrah dan berserah. Sudahlah mas, saya tak ingin
memperjuangkan diri-diri kita yang namanya pun saling mengutuk. Biarlah saya
mengutuki diri karena ketidakmampuan melawan, biarlah, bersenanglah, mas. Meskipun
kamu tidak tau, setiap malam, saya menggaruk diri seperti orang gila di bawah
pancuran air rumah ini. Setiap selesai dia tindihi saya. Mas, ingin saya
keluar, namun tidak bisa. Pria tua yang harusnya melindungiku itu pun
menjualku, mas. Begitu juga wanita setengah baya yang merias dagangannya ini
sehingga menimbulkan birahi siapapun yang melihatnya, termasuk pembeli itu,
mas. Saya hanya mampu diam dan berserah, pasrah, sembari belajar tersenyum
seakan suka.
***
Saya
buka pintu istana kuning ini, sedikit berderik suaranya. Tak ada seorangpun
saya temui di ruang depan, begitu juga di ruang tengah. Saya pukul-pukulkan
tangan ke pundak, pertanda lelah tak terkirakan. Lalu saya berjalan menyelusuri
tangga dengan rambut setengah kering dan berantakan. Kancing baju saya pun
lepas satu, sedikit repot menutupinya. Ah, sebentar lagi sampailah saya ke
ruang kamar itu. Saya sudah membayangkan bisa beristirahat setelahnya, saya
lelah, mas.
Saat
saya buka pintu kamar, ternyata dia sudah duduk di pinggiran ranjang luas itu. Tanpa
menoleh, seakan dia tau saya telah datang di istananya. Rambutnya berantakan,
begitu juga bajunya. Dia menyuruh saya duduk di sampingnya. Saya tidak mau,
saya ingin ke kamar mandi dulu, sekedar mengganti baju. Tiba-tiba dia membentak
saya, memaksa saya duduk, mendorong saya ke sudut ruangan. Saya terkejut,
menatap matanya dengan tidak percaya. Tubuh saya terjatuh dengan sempurna ke
sudut ruangan ini. Kaki saya terkilir karena tidak siap menahan serangannya. Tubuh
sebesar itu mendorongku dengan sangat kuat, masih untung tulang-tulangku tidak
hancur, mas.
Dia
bentak saya, bertanya darimana. Saya diam. Dia bentak sembari menampar saya. Saya
hanya mampu menjerit. Sakit, mas. Saya lelah. Mengapa dia jadi segila ini,
tidak pernah sekalipun dia kasar pada saya. Lalu dia lempari saya dengan
cangkang butiran mutiara beserta isinya yang biasa saya telan mas. Dia marah,
dia temukan itu mas, itulah yang membuat dia marah. Walaupun saya sudah tak
lagi menelannya. Dia cengkeram leher saya, sakit. Saya sudah merintih-rintih
memohon ampun padanya, tapi dia malah tertawa seperti anjing gila. Makin kuat
dia mencengkeram leher saya mas. Lalu dia pandangi wajah dan tubuh saya dengan
pandangan birahi berlebih sekaligus rasa muak. Mas, saya takut. Tidakkah dia
berbelas kasih dengan memar di wajah dan tubuh saya?
Dengan
mata merah, dia buka seluruh bajunya. Sebelum saya mampu bangkit dia sudah
mencengkeram saya mas. Dilahapnya bibir saya seakan dia kelaparan. Saya
kelabakan, tak mampu melawan dan kehabisan napas. Diraihnya seluruh tubuh saya
bagai membuka bungkusan hadiah yang patut dirobek. Untuk meronta pun saya sudah
tak mampu. Dia pegangi tubuh saya terlampau kencang seakan tulang saya ini tak
mampu retak. Lalu dia pukul wajah saya, dia tampar saya terus menerus seperti
orang gila. Disetubuhinya saya dengan kasar. Saya menjerit,
sekencang-kencangnya. Dan makin kencang pula bumi ini berguncang. Saya tak lagi
kuat, tubuh saya sangat sakit, sakit sekali, saya lelah, mas. Saya menyesal
pulang ke rumah kuning ini. Di mana kamu mas? Tolong saya mas, sakit. Lalu saat
bumi makin kencang terguncang segalanya menjadi gelap, seperti tanpa pelita.
***
Saya
duduk diam di ruangan luas ini. Saya pegangi perut yang membuncit ini, mas. Saya
akan memiliki anak mas. Anak yang sangat amat diinginkannya mas. Saya selalu
bayangkan wajahmu seakan ini adalah anakmu, berharap anak ini akan menjadi
seperti rupamu. Walaupun jabang ini adalah hasil perbuatan gilanya mas. gilakah
perbuatannya? Atau patutkah yang dia lakukan padaku mas? Yang mana mas yang
benar? Mas, datanglah kemari, saya ingin bersandar di pundakmu dan menangis,
mas. Saya rindu kamu.
Tiba-tiba
saya ingin menari, berdansa seperti saat kita dulu berdansa. Siapa tau kamu
merasakannya. Siapa tau kamu akan hadir kemari. Ah, saya harus cantik. Ah,
buncit saya tidak terlalu terlihat, kamu tak akan tau, mas. Saya berjalan ke
ruang tengah, ruangan yang luas dan memiliki banyak meja. Saya mulai
menggerakkan kaki dan tangan saya seakan ada kamu di hadapan saya.
Lalu,
saya dengar kamu memanggil namaku, mas. Kama, Kama! Begitu kamu berseru. Lalu,
saya datangi kamu. Bajumu hitam seperti biasanya, dengan tubuh tegap dan mata
menggemaskan kamu mendatangiku. Lalu kamu datang menyentuh pipiku. Kamu
tersenyum. Kamu bertanya, tentang perutku yang besar. Lalu saya berusaha
menyembungikannya mas. Ah, saya bilang padamu saya tidak apa-apa. Tapi kenapa
perut ini tidak mau disembunyikan. Saya mau berdansa dengan orang yang saya
cinta. Ah, tubuh tidak tau diri. Saya pukul-pukulkan tangan saya ke perut besar
menyebalkan ini. Lalu, sepertinya perut ini mulai mengecil. Saya merasakan ada
tetesan air menjatuhi kaki saya. Sepertinya sudah. Sudah tersembunyi.
Lalu
kamu bertanya lagi tentang apa yang saya lakukan. Saya bilang tidak apa-apa
mas. Lalu kamu ajak saya berdansa. Saya berdansa, tertawa-tawa senang. Oh, bahagianya
saya berdansa dengan kamu. Kamu tertawa juga. Sesekali kamu cium bibir saya.
Saya pun merasa sangat bahagia. Kamu tetap peluk saya, saya juga. Sesekali saya
angkat kaki saya bagaikan penari mahir. Kamu tertawa-tawa bahagia, seperti
tadi, masih sama.
Tiba-tiba,
kamu mundur dengan teratur, tapi bibirmu tetap tersenyum dengan indahnya. Matamu
tetap berkilapan bagaikan berlian, menggemaskan dan indah. Kamu mulai lepaskan
genggaman tanganmu atasku mas. Saya telah teriak dan memanggil namamu, namun
kamu seakan tak mendengar, dan tetap tersenyum lalu melangkah pergi. Ragamu
memudar mas, seperti api yang ditiup oleh angin. Mas, kamu di mana! Mas, bawa
aku denganmu mas! Aku butuh kamu! Lihat mas! Lihat! Aku kini cantik! Perutku
sepertinya tidak buncit! Aku tidak bohong mas! Mas, kembali! Berdansa denganku!
Menari seperti api, seperti tadi. Saya menjerit terus menerus. Memanggil
namamu, kini saya menangis. Meraung-raung seperti macan gila. Ah! Saya memekik!
Tiba-tiba tubuh saya menggenjang kesakitan. Gila. Mau dimana saya dibawa oleh
kesakitan ini.
***
Ah,
hidangan seperti ini lagi, setiap hari. Sangat berbeda saat wanita cantik itu
masih ada. Wanita tidak tau diri itu, yang aku nikahi bertahun lalu. Coba kalau
dia tidak cantik, sudah aku buang jauh-jauh dari rumah ini.
Saat
hari pertama aku dengannya, wajahnya datar tanpa memiliki guratan apapun. Biarlah,
dia, wanita cantik ini milikku kini, pikirku waktu itu. Saat aku menyentuhnya
pun, dia seakan tanpa reaksi, namun kurasakan tubuhnya bergetar seperti
ketakutan. Aku maklumi, mungkin baru pertama kali. Saat aku mulai menyerangnya,
aku rasai tak ada apapun yang menghalangi. Ah, wanita ini tak lagi utuh! Saat
itu aku marah, namun sekaligus bernafsu menggaulinya. Tak mungkin aku hentikan.
Maka aku gencarkan serangan-seranganku pada tubuhnya. Dia sering mengerang
saperti kesakitan. Namun siapa peduli. Dia milikku. Aku berfikir, sekalipun dia
tak lagi utuh, tapi dia cantik, dan dia bisa menghasilkan anak-anak untukku.
Tapi sepertinya aku salah.
Wanita
yang kabarnya cerdas ini ternyata tak lebih dari wanita gila tidak tau diri. Masih
untung ku maafkan dia yang jebol itu. Sedari dulu hingga sekarang, tak pernah
ku ketahui alasan tolol apa yang membuatnya meneguk butiran terkutuk itu. Saat
aku tau, aku marah. Untunglah dia tidak mati! Tubuh kecil dan lemah menyebalkan
itu bisa hancur dengan mudah dengan tanganku ini! Dengan tragisnya dia mati
bersimbah darah di ruang tengah! Bukan ditanganku, entah di tangan siapa. Tak
ada jejak apapun yang menunjukkan dia tidak sendiri. Dia sendiri! Dan dia mati!
Gila, benar-benar gila wanita cantik dan legit itu!
Sekarang
ini aku sedang duduk di ruang makan dengan anak perempuanku, yang selamat dari
simbahan darah ibunya. Dia lahir atau dipaksa lahir sebelum waktunya. Saat
lahir, dia sudah cacat. Kaki kirinya tak mampu menopang tubuhnya yang juga
kecil itu. Wajahnya cantik seperti ibu kurang ajarnya itu. Aku sangat
menyayanginya. Aku tak pernah sekalipun berkata bahwa ibunya hanyalah wanita
kurang ajar dan tak tau diri. Saat itu, dia memamerkan padaku, buku yang
didapatnya dari temannya. Ada gambar seorang penari yang menunjukkan kaki
sempurnanya. Lalu, gadis kecil di hadapanku itu berkata, “Papa, seandainya
kakiku tidak cacat seperti ini, dan sempurna seperti milik mama, mungkin aku
bisa menari dengan bebas ya pa, benar-benar bebas dan cantik, seperti penari
ini, iya bebas pa.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar