Aku tdk pernah tau apa yg sedang aku tulis hari ini, malam ini.
mungkin sampai di akhir tulisan sekalipun.
berceritapun mungkin bukan, hanya seperti orang gila yang berbicara kicauan yang tak lebih dari racauan gila..
ah, maaf, orang gila pun punya ceritanya, aku? tidak.
aku hanyalah perempuan gila yang terjebak di sebuah tempat bernama masa lalu.
masa lalu yang tak lebih dari sebuah bualan gila yang dihembuskan lelaki gila, pembual cabul !
dan aku? percaya dengan bodohnya.
biarlah, aku pikir
mungkin dengan itu aku mampu belajar untuk lebih tegar, lebih kuat dan mampu, begitu menurutku.
aku pikir aku telah terbang jauh melampaui batas kemampuan wanita biasa,
aku pikir aku telah meninggalkan wanita dan airmata laknatnya,
iya, laknat.
aku benci airmata.
sangat benci,
airmata membuat dadaku sesak dan sakit.
sama sesaknya saat kamu dengan tanpa belas kasih menindihku seperti kuda tunggangan.
sakit, demi Tuhan itu sakit.
dan kinipun, aku meneteskannya lagi, sakit.
saat aku bertemu makhluk-makhluk sejenismu,
aku hanya hinakan mereka
iya, aku pikir mereka sama hina,
tersenyum manis bagaikan dilumuri gula yang... manis
selalu di dalam pikiranku, dibalik gula di bibir itu ada mani sialan yang menunggu dimuncratkan.
gila, mereka semua gila.
meskipun gila, kamu pikir, mereka, kalian pikir aku tidak bisa lebih gila?
kamu pikir, mereka dan kalian pikir aku tidak bisa memainkan dengan hanya diam?
hah?
kamu, mereka dan kalian memang brengsek !
laki-laki brengsek !
tapi aku lebih brengsek !!!
aku diam pun aku bisa melukai, tak perlu aku repot memamerkan apa yang aku punya.
aku wanita, aku diam dan aku bisa mempermainkan, mengerti?
iya? iya kalian semua mengerti.
sampai sekarang, bahkan saat aku mempermainkan,
seakan permainan itu hanyalah sebuah kepura-puraan yang kosong.
tanpa isi, isi apapun, benar-benar tanpa isi.
kamu tau apa? apa? hah? apa?
biarpun aku mampu bermain, aku tetap menangis seperti orang gila saat melihatmu!
aku hanya bayangkan, apa yang kamu lakukan dengan sejenisku itu?
apa? apa yang kamu lakukan? sama? apakah sama dengan yang kamu lakukan dulu?
menyembunyikan mani dibalik gula yang sangat manis? hah?
kamu laknat! kamu gila! bajingan!
aku menangis bukan karena cintaku,
apa itu cinta pun aku mulai tidak mengetahui, apalagi mengerti.
benar-benar aku tidak mengerti, demi Tuhan, demi Tuhan!
Tuhan? apa? Tuhan? masih pantaskah aku menyebut Tuhan?
entahlah, akupun malu berhadapan dengan-Nya
tak berapa lama aku melihat kesalahan gila terjadi.
aku ingin bermain lagi.
aku ingin, aku mau
tapi aku tak mampu.
aku senang, aku dekat.
aku percaya,
tapi aku takut,
takut menyakitinya,
bukan, bukan dengan perasaanya atau perasaanku.
hanya, aku takut kata-kataku masih berasal dari lembaran masa lalu yang baiknya ditutup.
aku takut,
aku menangis,
dan
aku telah membahasakan masa lalu dihadapannya.
di hadapan kebrengsekan itu, iya di hadapannya.
Tuhan, aku takut, dan aku menangis dengan kata-kata di lembaran masa lalu.
ini mungkin bisa disebut kebebasan orang gila.
BalasHapusjadi anda setuju dengan saya dan beberapa orang kalau persona dalam cerita itu gila? well, danke schoon.
BalasHapus