“ Aku…Perempuan biasa dari keluarga biasa pula. Tapi tak ada seorangpun
yang menganggap bahwa hidupku ini biasa. Tapi aku pikir hal ini biasa di
dunia ini bahwa tiap manusia punya kisahnya sendiri. Tiap manusia itu
berbeda. Segala sesuatunya memang sangat mudah berubah… Mudah, dan cepat sekali. Dalam hidup manusia hanya satu hal yang tidak pernah
berubah, yaitu perubahan itu sendiri… Dan aku… hanyalah salah satu lakon
dari drama umat manusia di panggung dunia yang penuh dengan perubahan…
Iya… aku…”
***
“ Ruang tunggu ini begitu sepi… Seharusnya ramai, maklum, bangsal anak. Tapi, rasanya sepi-sepi saja. Hanya aku dengan angan-anganku. Aku tak pernah putus asa akan apapun yang aku lakukan atau yang aku dapat dan alami, tapi tak ada bayangan apapun yang melintasi otakku tentang siapa aku selanjutnya. Duniaku ini kecil, sangat kecil. Makin kecil lagi ketika diagnosa ini mampir ke tubuhku, yang juga kecil. Aku Ran, anak perempuan biasa dari keluarga biasa. Aku penderita penebalan katup jantung. Penyakit yang langka di Indonesia. Bahkan di dunia sepertinya. Penyakit ini kompleks, tidak bisa cuma dibayangkan dengan katup jantung yang bertambah tebal atau nafas yang putus-putus dan lain-lainnya. Penyakit ini juga menyangkut darah, imunitas, stamina dan lainya. Sulit dijelaskan. Aku didiagnosa sebagai penderita penebalan katup jantung waktu semester genap kelas 6 SD. Sejak itu pula dokter mengatakan bahwa aku harus meminum obat yang biasa disebut Ospen atau nama bakunya Penoxcimethyl Pinicilin minimal 5 tahun dan tidak ada batasan maksimalnya. Artinya aku bisa saja harus minum obat ini seumur hidup. Lebih tepatnya aku terancam tidak akan sembuh seumur hidup. Dan aku tak pernah tau akan bertahan hidup sampai kapan. Dan aku sulit untuk peduli. Dan yang paling penting, sekarang sudah 5 tahun dari target goal dokter Candra, dokter pribadiku yang sangat baik. Dan dengan seragam putih abu-abu, dasi dengan dua strip, rok selutut, kaos kaki panjang dan pantofel krem ini aku menunggu antrian di sini, bukan antri sebenarnya, hanya menunggu proses administrasi di bangsal VIP Anak Cempaka Mulya RSUP dr. Sardjito Yogyakarta, karena cuma beberapa anak yang menderita penyakit ini. Dan hari ini jam ini cuma aku yang kontrol di sini. Iya… di sini… Ini rumah keduaku, aku berfikir bahwa aku pun akan mati di sini juga, kecuali Tuhan berkehendak lain. Akhirnya dokter Candra datang. Entah mengapa aku senang. Aku sudah siap dengan perkataan beliau tentang keputusan pengkonsumsian Penoxcimethyl Pinicilin . Nama baku dari Ospen. Antibiotik dosis hebat.”
***
“ Ujian Nasional sudah dekat. 6 tahun aku bisa bertahan dengan penyakit yang sudah aku anggap sahabat ini. Begitu juga Ospen dan paracetamol yang setia menghuni tas hitamku dengan ornamen anggrek di sebelah kirinya. Warnanya ungu. Dan aku suka anggrek karena itulah arti namaku. Ujian ini lumayan berat. Aku di IPA. Matematika, kimia, fisika, biologi, bahasa Indonesia dan Inggris. Biarlah. Toh aku juara umum. Walaupun belum tentu pemerintah tau bahwa aku juara umum. Dan kalaupun mereka tau, tidak mungkin semata-mata lalu aku diluluskan. Tapi aku bersyukur, aku masih diberi kesempatan untuk di sini. Bukan hanya untuk hidup, tapi juga untuk belajar dan membuat segalanya jadi lebih berarti. Kalau bukan untukku. Maka untuk ayahku. I love him so much. More than what you’ve ever known about lovin’ others.”
***
“ Setiap pagi aku diantar ayah ke sekolah. Hari ini ayah bisa menyaksikan anaknya lulus ujian nasional. Biasa saja bagiku. Tapi bagi pria pendiam macam beliau aku bisa sampai lulus SMA itu sudah prestasi yang luar biasa, tentu bukan bagiku, tapi bagi beliau. Karena banyak pengalaman anak-anak sakit semacam aku tidak bisa meneruskan sekolah karena kendala biaya, tenaga, waktu bahkan karena kendala dukungan. Beliau sangat sabar mendidikku. Mendidikku dengan penyakitku. Banting tulang demi biaya pengobatanku, tapi beliau tak pernah mau aku ketinggalan dari anak-anak sehat yang lainnya. Lebih tepatnya tidak mau aku merasa ketinggalan. Beliau menjaga mentalku supaya bisa merasa bahwa aku ini sejajar dengan anak-anak seusiaku. Aku tetap sekolah sampai hari ini bisa lulus. Dan beliau merawatku sendirian. Iya… cuma sendirian. Aku tak pernah mau tau siapa mamaku… Walaupun aku tau… Mamaku cuma pengkhianat. Dia selingkuh dengan laki-laki brengsek yang jelas-jelas tak ada lebihnya dari ayah. Pada saat mereka berpisah, dengan tegas aku memilih ayah… Hanya ayah… Saat itulah aku tidak punya figur perempuan, yang aku tau hanya ayah… Ayah… Hanya ayah… Aku tak pernah mau tau apapun tentang mama lagi. Ayah yang sudah membuatku kuat. Membuatku mau mencoba untuk jadi mandiri dalam keadaan apapun. Ayah mendukungku pada saat aku berfikir bahwa aku ini berbeda… Aku ini sakit. Aku ini lemah. Aku ini hanya menyusahkan saja. Ayah berkata, “ Kamu memang berbeda, manusia selalu berbeda. Kadang tegas terlihat, kadang tidak. Mungkin ayah terlihat sama saja dengan ayah-ayah dari teman-temanmu, tapi pasti ada sesuatu yang berbeda, tapi kurang terlihat, karena kita terlihat sama. Semua orang itu sakit, tapi entah sakit apa, entah besar maupun kecil, pasti ada di salah satu bagian di dalam dirinya, entah mental maupun fisik. Tinggal bagaimana kita sikapi aja. Kamu memang beda Ran, Tuhan memberimu penyakit ini, anggaplah sebagai pemberian, jangan anggap sebagai derita. Percuma. Rugi. Karena kita tau tiap manusia berbeda. Perbedaanmu hanyalah pada darah dan katup jantungmu yang memiliki perbedaan yang efeknya terlihat di mata orang lain, baik secara klinis maupun laboratorium. Itu aja yang beda. Manusia itu seperti dunia ini, tidak pernah sempurna. Manusia pasti sakit, dunia juga sakit. Dunia sakit karena perang dan permusuhan. Jadi kenapa harus merasa takut dan takluk dengan perbedaan yang merupakan anugerah dari Tuhan? Sikapi segalanya dengan senyuman, hati nurani dan pikiran. Itulah anugrah dari Yang Maha Kuasa bagi manusia…”
Itulah ayahku. Aku tidak ingin melukai hati pria pendiam yang mulia seperti beliau. Aku adalah anaknya. Aku titipan Tuhan untuk dijaga oleh ayah. Kalaupun aku harus pergi, ini sudah takdir dari Tuhan. Dan itu pasti baik. Walaupun berat. “
***
“ Sekarang ini sudah tahun kedua aku kuliah. Kampus ini sama sekali tidak asing bagiku. Masa kecilku sering dihabiskan di tempat ini. Maklum ayahku adalah dosen di kampus ini. Sedangkan aku kuliah di jurusan psikologi di Universitas yang sama. Masa kecilku terlintas lagi ketika ku tatap parkiran mobil di bagian utara. Aku main sendirian di sana. Waktu itu, ayah sedang mengajar, dan aku tidak betah main dengan mbak. Sesekali mahasiswa ayah mendatangi dan mengajak bermain. Menyenangkan sekali waktu itu. Walaupun aku tak lagi punya seorang mama. Dan aku dari dulu pun sudah tidak pernah peduli tentang mama.
Aku berjalan-jalan mengelilingi fakultasku sendiri. Baunya masih sama. Ku pilin-pilin rambut panjangku yang berombak. Kini aku sudah dewasa. Karena ayahlah aku bisa tegar. Jalan setapak di sini memang teduh akan pepohonan. Ku buka tas hitam dengan ornamen anggek ungu di sebelah kiri. Ku minum obatku. Lega tapi sesak. Entah mengapa ingin kubuka salah satu file foto di handphoneku. Ku usap layar handphone itu seakan benar-benar kusentuh wajahnya. Matanya teduh. Seteduh mata ayahku. Hatinya selembut kapas, walaupun tadinya jauh dari itu semua.”
***
“ Aku bertemu dengannya pada saat aku mengantar seorang teman untuk training jurnalistik di kampus, teman baikku, seorang perempuan bernama Lyra. Sedangkan wajah teduh di foto ini namanya Vino. Waktu itu semester pertama, jadi aku lumayan sibuk dengan aktifitas mengantar temanku yang beum tau lokasi-lokasi di kampus ini. Entah mengapa juga aku jadi tertarik ikut training jurnalistik macam ini. Padahal aku sama sekali tidak bisa menulis. Yang aku bisa cuma mencatat pelajaran, diary aktivitasku di rumah sakit mengenai obat, suntikan dan check up, lalu memo, atau sms.
***
“ Ruang tunggu ini begitu sepi… Seharusnya ramai, maklum, bangsal anak. Tapi, rasanya sepi-sepi saja. Hanya aku dengan angan-anganku. Aku tak pernah putus asa akan apapun yang aku lakukan atau yang aku dapat dan alami, tapi tak ada bayangan apapun yang melintasi otakku tentang siapa aku selanjutnya. Duniaku ini kecil, sangat kecil. Makin kecil lagi ketika diagnosa ini mampir ke tubuhku, yang juga kecil. Aku Ran, anak perempuan biasa dari keluarga biasa. Aku penderita penebalan katup jantung. Penyakit yang langka di Indonesia. Bahkan di dunia sepertinya. Penyakit ini kompleks, tidak bisa cuma dibayangkan dengan katup jantung yang bertambah tebal atau nafas yang putus-putus dan lain-lainnya. Penyakit ini juga menyangkut darah, imunitas, stamina dan lainya. Sulit dijelaskan. Aku didiagnosa sebagai penderita penebalan katup jantung waktu semester genap kelas 6 SD. Sejak itu pula dokter mengatakan bahwa aku harus meminum obat yang biasa disebut Ospen atau nama bakunya Penoxcimethyl Pinicilin minimal 5 tahun dan tidak ada batasan maksimalnya. Artinya aku bisa saja harus minum obat ini seumur hidup. Lebih tepatnya aku terancam tidak akan sembuh seumur hidup. Dan aku tak pernah tau akan bertahan hidup sampai kapan. Dan aku sulit untuk peduli. Dan yang paling penting, sekarang sudah 5 tahun dari target goal dokter Candra, dokter pribadiku yang sangat baik. Dan dengan seragam putih abu-abu, dasi dengan dua strip, rok selutut, kaos kaki panjang dan pantofel krem ini aku menunggu antrian di sini, bukan antri sebenarnya, hanya menunggu proses administrasi di bangsal VIP Anak Cempaka Mulya RSUP dr. Sardjito Yogyakarta, karena cuma beberapa anak yang menderita penyakit ini. Dan hari ini jam ini cuma aku yang kontrol di sini. Iya… di sini… Ini rumah keduaku, aku berfikir bahwa aku pun akan mati di sini juga, kecuali Tuhan berkehendak lain. Akhirnya dokter Candra datang. Entah mengapa aku senang. Aku sudah siap dengan perkataan beliau tentang keputusan pengkonsumsian Penoxcimethyl Pinicilin . Nama baku dari Ospen. Antibiotik dosis hebat.”
***
“ Ujian Nasional sudah dekat. 6 tahun aku bisa bertahan dengan penyakit yang sudah aku anggap sahabat ini. Begitu juga Ospen dan paracetamol yang setia menghuni tas hitamku dengan ornamen anggrek di sebelah kirinya. Warnanya ungu. Dan aku suka anggrek karena itulah arti namaku. Ujian ini lumayan berat. Aku di IPA. Matematika, kimia, fisika, biologi, bahasa Indonesia dan Inggris. Biarlah. Toh aku juara umum. Walaupun belum tentu pemerintah tau bahwa aku juara umum. Dan kalaupun mereka tau, tidak mungkin semata-mata lalu aku diluluskan. Tapi aku bersyukur, aku masih diberi kesempatan untuk di sini. Bukan hanya untuk hidup, tapi juga untuk belajar dan membuat segalanya jadi lebih berarti. Kalau bukan untukku. Maka untuk ayahku. I love him so much. More than what you’ve ever known about lovin’ others.”
***
“ Setiap pagi aku diantar ayah ke sekolah. Hari ini ayah bisa menyaksikan anaknya lulus ujian nasional. Biasa saja bagiku. Tapi bagi pria pendiam macam beliau aku bisa sampai lulus SMA itu sudah prestasi yang luar biasa, tentu bukan bagiku, tapi bagi beliau. Karena banyak pengalaman anak-anak sakit semacam aku tidak bisa meneruskan sekolah karena kendala biaya, tenaga, waktu bahkan karena kendala dukungan. Beliau sangat sabar mendidikku. Mendidikku dengan penyakitku. Banting tulang demi biaya pengobatanku, tapi beliau tak pernah mau aku ketinggalan dari anak-anak sehat yang lainnya. Lebih tepatnya tidak mau aku merasa ketinggalan. Beliau menjaga mentalku supaya bisa merasa bahwa aku ini sejajar dengan anak-anak seusiaku. Aku tetap sekolah sampai hari ini bisa lulus. Dan beliau merawatku sendirian. Iya… cuma sendirian. Aku tak pernah mau tau siapa mamaku… Walaupun aku tau… Mamaku cuma pengkhianat. Dia selingkuh dengan laki-laki brengsek yang jelas-jelas tak ada lebihnya dari ayah. Pada saat mereka berpisah, dengan tegas aku memilih ayah… Hanya ayah… Saat itulah aku tidak punya figur perempuan, yang aku tau hanya ayah… Ayah… Hanya ayah… Aku tak pernah mau tau apapun tentang mama lagi. Ayah yang sudah membuatku kuat. Membuatku mau mencoba untuk jadi mandiri dalam keadaan apapun. Ayah mendukungku pada saat aku berfikir bahwa aku ini berbeda… Aku ini sakit. Aku ini lemah. Aku ini hanya menyusahkan saja. Ayah berkata, “ Kamu memang berbeda, manusia selalu berbeda. Kadang tegas terlihat, kadang tidak. Mungkin ayah terlihat sama saja dengan ayah-ayah dari teman-temanmu, tapi pasti ada sesuatu yang berbeda, tapi kurang terlihat, karena kita terlihat sama. Semua orang itu sakit, tapi entah sakit apa, entah besar maupun kecil, pasti ada di salah satu bagian di dalam dirinya, entah mental maupun fisik. Tinggal bagaimana kita sikapi aja. Kamu memang beda Ran, Tuhan memberimu penyakit ini, anggaplah sebagai pemberian, jangan anggap sebagai derita. Percuma. Rugi. Karena kita tau tiap manusia berbeda. Perbedaanmu hanyalah pada darah dan katup jantungmu yang memiliki perbedaan yang efeknya terlihat di mata orang lain, baik secara klinis maupun laboratorium. Itu aja yang beda. Manusia itu seperti dunia ini, tidak pernah sempurna. Manusia pasti sakit, dunia juga sakit. Dunia sakit karena perang dan permusuhan. Jadi kenapa harus merasa takut dan takluk dengan perbedaan yang merupakan anugerah dari Tuhan? Sikapi segalanya dengan senyuman, hati nurani dan pikiran. Itulah anugrah dari Yang Maha Kuasa bagi manusia…”
Itulah ayahku. Aku tidak ingin melukai hati pria pendiam yang mulia seperti beliau. Aku adalah anaknya. Aku titipan Tuhan untuk dijaga oleh ayah. Kalaupun aku harus pergi, ini sudah takdir dari Tuhan. Dan itu pasti baik. Walaupun berat. “
***
“ Sekarang ini sudah tahun kedua aku kuliah. Kampus ini sama sekali tidak asing bagiku. Masa kecilku sering dihabiskan di tempat ini. Maklum ayahku adalah dosen di kampus ini. Sedangkan aku kuliah di jurusan psikologi di Universitas yang sama. Masa kecilku terlintas lagi ketika ku tatap parkiran mobil di bagian utara. Aku main sendirian di sana. Waktu itu, ayah sedang mengajar, dan aku tidak betah main dengan mbak. Sesekali mahasiswa ayah mendatangi dan mengajak bermain. Menyenangkan sekali waktu itu. Walaupun aku tak lagi punya seorang mama. Dan aku dari dulu pun sudah tidak pernah peduli tentang mama.
Aku berjalan-jalan mengelilingi fakultasku sendiri. Baunya masih sama. Ku pilin-pilin rambut panjangku yang berombak. Kini aku sudah dewasa. Karena ayahlah aku bisa tegar. Jalan setapak di sini memang teduh akan pepohonan. Ku buka tas hitam dengan ornamen anggek ungu di sebelah kiri. Ku minum obatku. Lega tapi sesak. Entah mengapa ingin kubuka salah satu file foto di handphoneku. Ku usap layar handphone itu seakan benar-benar kusentuh wajahnya. Matanya teduh. Seteduh mata ayahku. Hatinya selembut kapas, walaupun tadinya jauh dari itu semua.”
***
“ Aku bertemu dengannya pada saat aku mengantar seorang teman untuk training jurnalistik di kampus, teman baikku, seorang perempuan bernama Lyra. Sedangkan wajah teduh di foto ini namanya Vino. Waktu itu semester pertama, jadi aku lumayan sibuk dengan aktifitas mengantar temanku yang beum tau lokasi-lokasi di kampus ini. Entah mengapa juga aku jadi tertarik ikut training jurnalistik macam ini. Padahal aku sama sekali tidak bisa menulis. Yang aku bisa cuma mencatat pelajaran, diary aktivitasku di rumah sakit mengenai obat, suntikan dan check up, lalu memo, atau sms.
Bermula saat Vino tidak
sengaja menjatuhkan buku chord gitarnya. Aku tau itu karena di buku itu
ada nama dan fotonya, juga alamat e-mail. Akupun tau bahwa itu buku
chord gitar karena aku bisa memainkan piano dan gitar. Pertama melihat wujud anak
itu aku pikir dia seorang berandalan. Rambutnya ikal, lebih ikal dari rambutku.
Di atas rambut itu bertengger topi hitam bulukan, bajunya ketat,
dan celananya sobek di lutut dan betis, sepatunya sekakan tak ingin kalah, buluk
minta ampun, di punggungnya ada ransel hitam yang lumayan lah, tapi ada
buluknya juga, dia kurus sekali dan tinggi, dan jauh
lebih tinggi dari aku. Di tangannya terselip rokok yang baru saja dinyalakan. Sepertinya dia perokok berat. Matanya merah dan menggantung, seperti diseret minuman keras.
Beberapa menit kemudian saat aku menunggu
ayahku yang masih di ruang dosen dengan pekerjaannya yang keliatannya
masih seabreg itu, aku buka lap topku dan mendekatkan diri ke area hot spot kampus,
aku ingin kirim e-mail ke Vino supaya dia bisa ambil bukunya. Aku duduk
di sebuah taman yang tersembunyi di kampus ini, aku menghadap ke gedung
kampus sebelah barat, di belakangku ternyata ada juga seseorang yang duduk, dari suaranya saat
batuk aku yakin dia seorang laki-laki, tapi aku tidak kenal atau mengenali orang
itu. E-mail telah aku kirim bahwa aku menemukan buku chord dia yang tebal
tapi bisa jatuh itu, aku sendiri tak habis pikir, bisa-bisanya buku
seukuran stopmap dan lebih tebal dari buku tulis ini bisa jatuh, lebih tidak habis pikir lagi, kenapa harus susah-susah aku ambil dan cari
pemiliknya. Lama sekali kalau aku harus tunggu dia balal e-mailku, jadi aku
log in facebook dan coba mencari facebook Vino melalui e-mailnya. Yap!! Ini dia!Aku add facebooknya. Ternyata nama lengkapnya adalah Alvino
Mahendra Putra. Tak usah menunggu lama, kemudian muncul notification di layar bahwa
dia sudah jadi temanku. Ternyata dia sedang On Line. Tak lama
kemudian dia post tulisan ke wall-ku. Intinya say thank for d add, aku
balas dia supaya ambil buku chord gitarnya.Lalu kami berbincang dengan panjang di sana. Akhirnya aku tau dia anak sastra Inggris di kampus ini. Kami janji untuk bertemu kaffe kampus besok sore setelah kuliah. Hanya untuk mengembalikan buku.
Tak pernah ada prasangka apapun waktu aku dan dia dipertemukan oleh dunia maya
walaupun sebenarnya aku tau dia dan dia tak tau aku. Tak ada prasangka
apapun bahwa dia adalah seseorang yang bisa mengubah hidupku jadi lebih
berarti. Dia bisa membuatku tertawa tanpa alasan, terkadang bahkan menangis sendiri, kadang aku juga terlalu senang dengan kehadirannya dalam hidupku. Aku pun tidak menyangka bahwa aku
akan begitu takut dengan kematian pada saat aku melihat wajahnya, dan aku pun juga tak menyangka bahwa akan ada penyesalan di wajah brandal namun teduh
dari Vino mengenai diriku sendiri dan mengenai dirinya akan apa yang dia
dan aku alami dan apapun yang dia lakukan dalam hidupnya. Aku ta
pernah menyangka. Aku cuma manusia biasa.
Beberapa menit kemudian aku berniat pulang, artinya aku harus ke ruang dosen dulu. Aku merasa badanku agak demam. Akhirnya aku minum paracetamol. Saat itu aku menoleh ke belakang, rasanya aku kenal sepatu biru tua bulukan itu, dia juga memakai jaket warna cokelat, aku pikir itu Vino. Aku belum berani menyapa. Toh sedari tadi kita saling membelakangi. Dan dia juga tidak mengenaliku kok. Karena walaupun dia sudah tau facebookku, fotoku tidak aku pasang. Yang ada hanya gambar bunga anggrek.”
***
“Sore di hari selanjutnya. Kami janjian di kaffe kampus. Aku sebutkan ciri-ciriku. Aku memakai dress ungu muda selutut dan cardigan hitam ditambah dengan stocking hitam dan sepatu flat hitam juga. Rambutku yang berombak model layer sepunggung dan kebetulan warnanya juga hitam aku gerai begitu saja. Penampilanku memang normal seakan-akan tak ada penyakit bersarang di tubuhku, tapi selalu ada yang salah dengan warna wajahku. Bukan, bukan warna gelap yang sering ditakuti wanita-wanita di sekitarku, tapi, wajah ini sangatlah pucat, terutama bibirku yang tanpa warna. Kulitnya sering mengelupas sendiri dan mengeluarkan darah. Aku heran, haruskah wajahku sebegini kasihannya? Sampai teman-temanku selalu mengkhawatirkanku, mengira aku sakit. Ah sudahlah, syukuri saja. Toh ada kan pewarna bibir supaya aku terlihat sehat. Terlihat sehat. Ah iya, Vino bilang padaku dia akan memakai baju abu-abu dan celana hitam, tak lupa juga topi hitam kucel yang selalu setia nemplok di kepalanya.
Beberapa menit kemudian,
Ada seorang laki-laki yang duduk di depanku. Aku yakin 100% bahwa itulah Vino. Pertama-tama dia Tanya apakah aku Ran? Jelas aku jawab iya. Percakapan kami berlanjut makin dekat. Hari-hari selanjutnya kami jadi sering bertemu. Bahkan dia sudah berani juga ngajak aku pergi berdua saja. Aku memang cuma merasa senang saat dekat dengan Vino. Rasanya nyaman sekali. Walaupun dia brandal, tapi dia dan jujur. Jauh dari kata munafik. Beda… Vino beda dengan orang-orang yang sudah mencoba untuk dekat denganku. Vino sangat sabar. Bahkan lebih sabar dariku yang jelas-jelas mempelajari ilmu kejiwaan. Sedangkan dia anak sastra. Waktu itu aku takut mengakui bahwa aku sudah jatuh cinta. Aku takut, sangat takut. Mungkin semua menganggap perasaanku ini biasa saja, klise atau apapun lah, tapi sulit aku ungkapkan betapa aku jatuh cinta dengannya tapi disertai dengan berbagai macam ketakutan. Ini pertama kalinya aku bener-bener jatuh cinta. Aku suka Vino…”
***
“Waktu memang selalu berjalan kaku. Dia tak pernah mau menoleh ke belakang untuk ‘mengedit ‘ sesuatu yang salah atau pun tak diperlukan untuk dilakukan umat manusia di masa lalu. Maka sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita adalah waktu. Mungkin itulah kenapa wajah kita diciptakan oleh Tuhan menghadap ke depan, supaya kita tetep melihat ke depan dan bertarung maupun berjalan beriringan dengan waktu. Leher kita diciptakan dengan kemampuan menoleh ke belakang supaya bisa instrokpeksi diri dan belajar dari kesalahan masa lalu.
Aku dan kita semua tidak tau berapa waktu yang kita punya di dunia ini. Maka hal paling menyenangkan yang bisa kulakukan cuma memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi siapapun yang bisa merasakan kebahagiaan yang aku rasakan.
Waktu menggiringku di usiaku sekarang. Sepuluh taun aku berdampingan dengan penyakit ini. Bulan depan aku wisuda. Aku akan lulus dari universitas ini. universitas negeri yang terkenal di Jogja bahkan Indonesia. Ini prestasi. Bukan prestasiku. Tapi ayah… dan… Vino. Merekalah motivasiku untuk hidup. Hidup bukanlah sekedar bernafas, tapi melakukan segala sesuatu yang bisa kulakukan demi orang-orang di sekitarku. Itulah arti hidup yang bisa aku cerna dari pengalaman berharga yang diberikan waktu untukku. Pencipta waktu adalah Tuhan. Tuhan memang sayang denganku. Bukan aku yang hebat. Tapi Tuhan Yang baik. Dia ciptakan orang-orang yang bisa mewarnai lembaran putih di dalam diriku dengan warna-warni dan tulisan yang indah, yang bisa membuatku jadi lebih berharga di mata setiap orang.
Aku bahagia sekali, aku akan jadi salah satu psikolog di RSUP dr. Sardjito walaupun aku masih S1. Walaupun itu baru rencana, tapi sudah cukup membuatku merasa bahagia. Rumah sakit itu adalah rumah yang juga membesarkanku. Berusaha untuk menyembuhkanku. Dan aku bisa mengabdi di sana. Walaupun cita-cita awalku adalah dokter, tapi bukan berarti aku kecewa. Mungkin dengan ini aku bisa mengabdi pada anak-anak penderita kanker, jantung dan lainnya dengan lebih total. Karena aku tau rasanya memiliki rumah kedua berupa rumah sakit. Dokter Candra yang merekomendasikan aku di sana. Aku pun sebenarnya sedikit bingung mengapa bisa seperti itu, karena baru sebulan lagi aku diwisuda sebagai sarjana psikologi, dan seharusnya aku harus mengambil profesi psikologi klinis, tapi toh ini cukup membuatku bahagia.”
***
“ Tiga minggu lagi aku akan diwisuda. Tapi akhir-akhir ini aku merasa staminaku turun drastis. Sampai suatu hari saat aku pergi dengan teman-teman, hidungku terasa hangat di dalam, tapi di atas bibirku rasanya dingin. Saat aku lihat ternyata darah. Aku langsung ke UGD diantar teman-temanku. Maklum aku memang tidak diijinkan mengendarai motor ataupun mobil sendirian, karena bisa beresiko. Lyra menelfon ayah dan Vino sebelum sampai di Rumah Sakit. Nadanya panik. Badanku demam. Aku merasa nafasku sesak. Itu semua sering terjadi dan sudah biasa aku alami. Yang tidak biasa adalah gejala mimisan. Aku khawatir kalau mimisan ini memperburuk kesehatanku. Aku harap tidak.
Setelah mimisan reda hidungku dipasang selang oksigen, lumayan enteng nafasku sekarang. Aku sudah di kamar inap. Di bangsal anak juga. Padahal sudah hampir S1. Tapi tak apalah, toh dokter Candra kan dokter spesialis jantung anak, dan aku sakit sejak anak-anak.
Akhirnya dokter Candra selesai memeriksa. Di sana ada Ayah, Vino, Lyra dan teman-temanku yang lainnya. Aku Tanya penyebab mimisan itu apa. Ternyata bener, tidak ada sangkut pautnya dengan penyakitku. Aku hanya terlalu lelah. Aku harus bed-rest selama seminggu. Vino sampai cuti dari usaha book store-nya demi menemaniku. Ya sudahlah, dengan begini justru aku bisa lebih dekat dengan Vino. Selama ini aku terlalu sibuk dengan skripsiku. Vino, laki-laki yang bisa menerimaku apa adanya. Dia tidak peduli aku sakit, pucat, kecil, dia hanya bilang bahwa dia cinta. Aku pun juga begitu. Aku tak peduli mau dia brandal ataupun bukan, aku tetap cinta dengan dia. Demi aku dia berubah. Padahal aku belum dan tidak akan pernah memaksa bahkan meminta dia untuk jadi orang lain. Aku cinta dia apa adanya. Tapi dia sekarang sudah berhenti merokok dan minum minuman keras, celananya berlubangnya sudah tak pernah dia sentuh. Dia terlihat manis dengan tampilan barunya itu. Oh iya, sekarang dia memakai kacamata kotak. Rambutnya dipotong pendek, padahal Vino lebih manis dengan rambut gondrongnya.
Salah satu hal yang paling mengesankanku dan menambah rasa sayangku ke dia adalah pada saat aku duduk di semester 6, aku pernah bercerita padanya bahwa aku sangat ingin bermain piano di hadapan orang banyak. Itu adalah salah satu mimpi terbesarku selain jadi psikolog. Suatu hari selesai kuliah, waktu itu ulang taunku di bulan Februari, dia memberiku sebuah bingkisan. Isinya gaun, warna lavender, sangat manis. Dia tutup mataku dan mengajakku berjalan ke suatu tempat. Saat dia buka kain penutup mataku, di depanku sudah banyak mahasiswa dan dosen yang duduk di sana, termasuk ayahku, ada juga dokter Candra dan beberapa anak penderita kanker yang beberapa dari mereka aku kenal. Yang paling menakjubkanku adalah sebuah piano klasik di tengah rumput hijau yang menahan mataku dari kedipannya. Sebelah belakang piano itu terdapat kain warna lavender juga yang berayun-ayun terkena angin. Di piano itu tertiliskan kata ‘ Dear Orchid’. Cantik sekali. Aku tak pernah menyangka taman kampus bisa berubah seindah itu. Vino menuntunku ke arah piano itu dan mempersilahkan aku duduk di kursi ukir pasangan piano itu. Penonton sudah pada diam menungguku memainkan lagu. Masih takjub aku waktu itu. Tapi aku berusaha konsentrasi dan aku menyanyikan lagu Celline Dion, ‘Because You Loved Me’. Lagu itu buat semua orang yang telah memberiku motivasi. Lagu itu terasa begitu dalam buatku. Aku bisa seperti siapa diriku sekarang ini, karena mereka. Aku hanya ingin mengungkapkan itu ke mereka. Dan tanpa diminta airmataku menetes begitu saja sebelum aku selesai menyanyikan lagu itu. Aku semakin sayang dengan Vino. Dengan mereka semua. Aku ingin hidup lebih lama. Aku merasa lebih berharga sekarang. Begitu banyak yang menyayangiku. Aku harus memperjuangkan kesehatanku. Aku pasti bisa. Terimakasih Vino. Terimakasih ayah… Terimakasih semuanya… Aku sayang kalian semua…”
***
“ Tuhan sudah memberiku nikmat yang begitu banyak. Suatu hari aku bercermin. Aku amati wajahku sendiri. Pucat. Satu kata itu yang bisa aku ungkapkan. Aku buka lemari kamarku. Di situ aku menemukan kain merah hati yang aku pikir itu jilbab. Dan memang itu jilbab. Aku ambil jilbab itu, dan aku taruh di meja. Lalu aku tatap lagi wajahku di cermin. Aku rapikan rambutku yang panjang dan lebat sekali. Benar-benar aneh, anak sakit tapi berambut lebat. Entah berapa dokter yang sibuk membahas keanehan di rambutku yang sama sekali tidak rontok selama pengobatan. Aku tatap wajahku lekat-lekat. Mataku, hidungku, alisku, bibirku, semuanya mirip ayah. Rambutku saja yang mirip mama. Hitam dan berombak. Tapi rambut mama lebih cokelat. Warna kulitku pun sama dengan ayah. Tidak hitam tapi juga tidak terang. Sedangkan mamaku kuning langsat dan cantik. Dia keturunan bangsawan bugis. Dan aku pucat sekali. Aku ikat rambutku, poniku aku jepitkan ke atas. Jilbab itu begitu menarik hatiku. Ingin sekali aku pakai. Aku ambil pin bunga anggrek dari kayu di laci meja, itu pemberian Lyra. Aku pernah diajarin memakai jilbab oleh Lyra. Aku belum bisa memakai jilbab, karena memang tak ada seorangpun yang mengajari, bahkan mama pun tak ada. Embak juga memakai jilbab tapi yang langsung dipakai tanpa peniti. Dan aku belum begitu siap. Aku lipat jilbab itu jadi segitiga. Lalu aku sematkan pin kayu dari Lyra di tengahnya. Satu sisi jilbab itu aku tarik ke belakang supaya rapi lalu aku beri peniti. Beda. Aku merasa berbeda melihat wajahku di cermin. Entah mengapa aku suka dengan tampilan itu.
Begitu ingin aku memakai jilbab. Tapi entah apa yang membuatku tertahan untuk memakai. Jawabanku untuk diriku sendiri pun cuma satu. Belum siap. Padahal itu perintah Tuhanku untuk aku. Dan Tuhan selalu baik padaku. Dia tak pernah menunda-nunda untuk memberiku orang-orang yang menyayangiku. Tak pernah tak siap untuk memberi nikmat yang begitu besar buatku. Padahal mudah bagi-Nya kalau cuma memerintahkan malaikat-Nya untuk mencabut nyawaku 10 tahun yang lalu, kalau cuma tidak memberi ayah pekerjaan yang bisa cukup untuk membiayai pengobatan dan kuliahku, ataupun tidak membiarkanku hidup atau diciptakan di dunia sekalipun. Tapi tidak, Tuhan memberi semua nikmat-Nya buatku. Dan aku harus bersyukur. Maka sekarang aku putuskan, aku akan pakai jilbab ini. Selamanya.“
***
“ Ruangan ini ramai sekali. Hari ini aku wisuda. Aku senang, aku bahagia sekali. Mungkin sama senang dan bahagianya seperti saat lulus ujian nasional di SMP dan SMA. Di sebelah sana ada ayah dan Vino. Mereka menungguiku. Padahal aku membayangkan yang ada di sebelah ayah adalah mama. Tapi biarlah. Toh mungkin mama tak lagi peduli lagi denganku. Aku tidak bisa memenuhi standard mama sebagai anak sempurna. Aku sakit. Dan ternyata mama tidak bisa menerima. Aku beruntung karena mama dan ayah bercerai. Karena akan ada tekanan mental yang sangat besar seandainya aku masih dengan mama. Padahal yang aku butuhkan cuma kasih sayang. Bukan obsesi orang tua supaya aku bisa jadi anak yang sempurna supaya bisa dibangga-banggakan di luaran. Padahal saat bertemu berdua denganku yang bisa mama lakukan cuma menekan mental dan menyalahkanku karena aku sakit. Mama tidak pernah paham bahwa penyakitku ini adalah satu proses degenerasi dari faktor luar. Jadi bukan karena keturunan atau faktor genetik. Walau begitu, kalau sampai mama menyalahkanku karena aku sakit, tetap saja itu artinya mama menjelekkan dirinya sendiri. Mama yang membuatku sadar bahwa kecantikan luar bukanlah sesuatu yang penting lagi pada saat kita menghadapi dunia. Mengarungi bahtera pernikahan. Karena hal itu akan hilang seiring waktu. Sesuatu yang akan tetep ikut dengan kita sampai kita menua adalah sifat baik atau buruk dari diri kita. Rasa nyaman atau tidak nyaman yang bisa kita berikan ke orang-orang di sekitar kita. Kedewasaan atau kekanak-kanakan dari diri kita dalam mendidik anak keturunan kita. Dan itu terjadi kepadaku. Aku tidak merasakan sesuatu yang indah dari kecantikan mama. Cuma ayah yang bisa membangun mentalku dengan kasih sayangnya yang melebihi kasih sayang seorang ibu yang jelas-jelas sudah susah-susah melahirkanku. Saat aku bertemu sepupu-sepupuku yang kecil dan lucu-lucu, hal yang ingin aku lakukan ke mereka hanyalah membagi kasih sayangku, dan aku jadi begitu heran dengan kelakuan mama. Dengan gampangnya mama melukai hatiku, hati anaknya. Dan hati ayah, suaminya. Padahal dalam sebuah keluarga, mama lah yang bisa menyejukkan hati keluarganya. Maka aku begitu takut jadi anak durhaka. Aku takut kalau aku dosa ayahku juga akan masuk neraka. Aku tak akan pernah tega membayangkan ayah sebaik itu dipanggang di perapian neraka yang panas. Sedangkan surgaku ada di telapak kaki mama. Maka sesuatu yang bisa aku lakukan hanya diam dan menghindar dari mama. Aku tidak ingin papa ikut berdosa karena Tuhan pikir papa tidak bisa mendidik aku. Cuma itu yang bisa kulakukan.
Hari ini staminaku lumayan baik. Aku sudah meminum ospen dan juga suplemen untuk menambah kadar hemoglobin darah. Karena, selain kadar endapan darahku masih tinggi, aku juga mendapat efek sampingan dari penyakit penebalan katup jantung ini, yaitu anemia akut sekunder. Jadi misalkan penyakit primernya sembuh, anemia akut sekundernya pun ikut sembuh. Tapi aku masih belum tau kapan aku bisa sembuh. Tapi bukan dosa kan kalau aku mengucapkan kata sembuh?
Entah kenapa hari ini aku merasa tampilanku lebih dewasa dari sebelumnya. Mungkin karena toga yang aku pakai. Mungkin juga karena jilbab lavender yang dibentuk aneh-aneh oleh mbaknya yang merias wajahku. Kemungkinan besar karena alisku dirapikan oleh mbaknya yang merias juga, tidak menutup kemungkinan juga karena wajahku jadi tidak terihat pucat karena make up yang lengkap dengan blush on dan lipstick pink natural. Tapi bukanlah sebuah kemungkinan bahwa usiaku sekarang sudah usia S1. Dan usia itu adalah usia dewasa, walaupun masih di bawah 25 taun.
Akhirnya namaku dipanggil. Aku maju dan resmi jadi Ran Hana Zainal, S. psi. Hatiku senang. Aku bahagia, sangat bahagia. Lalu aku duduk lagi di tempatku tadi. Aku menoleh ke belakang. Aku melihat ayahku tersenyum. Indah sekali. Keriput di wajahnya menunjukkan lelah yang tak terhingga. Dia mendidikku sendiri. Tanpa pendamping. Setiap kerutan di lekuk wajahnya jadi saksi bisu perjuangan fisik dan mentalnya dalam berjuang membesarkanku. Di sebelahnya ada Vino yang mengacungkan jempolnya kepadaku. Setahun yang lalu dia juga wisuda. Lalu aku lihat lagi wajah ayah. Matanya bening karena air mata. Aku mungkin paham bagaimana rasanya jadi ayah. Melihat orang yang kita sayangi ada di ujung tanduk dan meregang nyawa adalah hal yang jauh lebih menyakitkan daripada sekedar mengalami sendiri sakit ini. Ayahku pria pendiam yang penuh kasih sayang. Aku mempelajari sesuatu tentang ayah bahwa orang diam itu berbicara lebih banyak daripada orang yang banyak berbicara. Itulah ayahku. Diamnya bukan pengecut. Tapi diam yang betul-betul lebih dari emas. Berharga.
Setelah wisuda selesai, aku berlari kecil ke arah dua laki-laki yang aku sayangi itu. Aku peluk erat-erat ayahku. Beda. Pelukan ini terasa beda. Beda dari kebahagiaanku pada saat aku lulus ujian nasional di SMP dan SMA. Aku bukan lagi anak kecil ayah. Seakan-akan aku akan terpisah jauh dari ayah. Seakan-akan aku ingat dengan dentingan waktu yang berbaris kaku tanpa mau peduli akan manusia yang saling menyayangi di dunia ini. Seakan-akan aku meerasa bahwa aku terjebak di dunia yang juga terjebak sekedar di dalam dimensi ruang dan waktu. Aku tak bisa selamanya bersama dengan ayah. Aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam dadaku. Bukan karena mau sakit. Tapi sesak. Menyesakkan sekai mengetahui kenyataan bahwa suatu hari aku akan berpisah dari ayah. Tanpa terasa airmataku menetes juga. Lama sekali aku tidak berada dalam pelukan ayah. Kami terlalu sibuk dengan impian masing-masing. Walaupun kami sadar bahwa kami saling menyayangi juga. Ayah… Tubuhmu masih tegap berdiri, tapi aku tau ayah sakit. Hati ayah sakit. Ayah sakit karena perlakuan mama yang kekanakan. Ayah sakit karena walaupun begitu keras perjuanganmu untuk kesembuhanku, tapi ayah tau, waktuku tidak akan selama yang ayah kira, atau bahkan, untuk mengira-ngira pun tak pernah ayah berani. Aku tidak akan bisa menjaga ayah di masa tuanya. Ayah sendiri. Ayah kesepian. Kini aku paham kata-kata ayah tentang manusia yang tidak pernah sempurna. Aku sedih. Sedih. Tangisan ini karena aku bersedih. Sepuluh taun terlampau lama untuk penyakit ini. Maut bisa datang sewaktu-waktu. Aku takut. Tangan Vino memeluk kami berdua juga. Saat aku merasakan hangatnya tangan Vino, aku jadi makin takut. Aku tidak berani menatap wajah mereka berdua. Aku begitu takut membayangkan wajah mereka saat nyawaku di ujung tanduk. Aku takut tak bisa bisa memeluk mereka lagi. Sekarang baru aku merasakan… Aku benar-benar takut dengan kematian…”
***
“ Tiga bulan berlalu. Aku telah jadi psikolog di RSUP dr. Sardjito. Aku jadi tempat curhat anak-anak penderita kanker, jantung, autoimundisis, leukemia, thalasemia, bahkan juga tempat curhat orangtua dari anak-anak itu. Aku mersakan sebuah keindahan di pekerjaanku yang baru ini. Membagi kasih sayang adalah sesuatu hal terindah yang bisa kulakukan. Psikolog bukanlah orang yang memaksa orang lain untuk menerima. Justru kami harus bisa menyesuaikan diri dengan kejiwaan si pasien. Jangan terlalu terpaku pada teori. Karena itu menyebalkan sekali. Terkesan seakan justru psikolog itu yang sok tau. Anggaplah pasienmu itu dirimu sendiri. Maka kejiwaan mereka akan lebih stabil karena kemampuan kita menyelami. Mereka akan merasa terlindungi. Mereka akan merasa bahwa mereka tidak sendiri. Itulah indahnya kasih sayang. Duniaku kini tidak lagi kecil. Aku merasa besar waktu aku bisa melihat optimisme di mata dan senyuman mereka. Walaupun saat mereka lari-lari di lorong bangsal, di belakang mereka ada ibunya yang mengejar-ngejar sembari memegang infus. Lucu sekali. Indah…”
***
“ Seperti biasanya, Vino menjemputku pulang kerja. Malam itu dengan tumbennya dia mengajakku ke kaffe kampus. Dia bilang, ingin sekedar bernostalgia. Yah, berhubung aku juga lapar, ikutlah aku. Kami duduk di meja nomor 02. Meja di mana pertama kali aku bertemu dia. Aku masih ingat. Tampilannya dulu benar-benar berbeda. Sekarang dia jauh lebih rapi.
Waktu itu aku meminum cokelat panas. Enak dan hangat sekali. Tiba-tiba Vino mengambil gitar dari mobilnya. Tiba-tiba juga aku ingin memilin-milin rambutku, kebiasaanku saat kecil dulu, walaupun sekarang sudah setahun aku berjilbab, tapi sering lupa. Di hadapanku dia nyanyikan lagunya Padi yang ‘Harmoni’. Petikannya bagus sekali. Saat melihat dia tampil, ingin rasanya aku rapikan rambut ikalnya yang mulai gondrong. Suaranya bariton. Wanita manapun pasti klepek-klepek kalau melihat laki-laki semanis Vino bernyanyi dengan cara seperti itu. Termasuk aku. Selesai menyanyikan lagu itu, Vino duduk manis di depanku. Aku tepuk tangan dengan jayusnya, aku akui aku sudah lama tidak melihatnya main gitar. Dia nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang entah gatal atau tidak.
Beberapa detik kemudian Vino mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Kotak kecil berwarna hitam dengan pita perak yang lucu sekali. Dia raih tangan kananku. Dia pakaikan cincin emas putih dengan ornamen anggrek bulan di sekelilingnya itu ke jari manisku. Suaranya indah sekali saat bertanya apa aku mau menikah dengan dia. Sejujurnya ini adegan yang aku benci saat menonton film romantis, karena biasanya perutku langsung sakit mendadak. Tapi detik ini aku senang. Saking senangnya, aku bengong. Saat sadar, tanpa pikir panjang, aku jawab. Iya… Dan dia kelihatan senang sekali. Senyumnya mengembang seperti anak kecil yang dibelikan es krim oleh ibunya. Beberapa detik kemudian Vino menunjukan cincin yang sama. Tapi cincin itu dipakainya di kelingking. Konon katanya kalau ukuran jari manis si perempuan sama dengan ukuran kelingking si laki-laki, berarti mereka berjodoh. Dan itu berlaku bagi kami.
Malam itu aku dan Vino bahagia sekali. Hubungan kami pun sudah direstui oleh ayah dan ibu Vino. Mereka menganggap bahwa, sejak Vino denganku, dia makin rajin kuliah dan dia mengurangi rokoknya secara bertahap sampai akhirnya dia berhenti merokok. Dan hal itu membuat mama dan papa Vino senang.
Sebenarnya aku tidak ingin mengucapkan kata ‘tapi’ dalam setiap akhir kalimat kebahagiaanku. Walau begitu, kenyataannya begitu banyak kata ‘tapi’ yang harus aku katakan. Aku dan siapapun tidak pernah tau akan apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi segalanya bisa diprediksi dengan logika dan ilmu pengetahuan yang logis. Kalimat berisi kata tapi yang ingin aku ungkapkan adalah bahwa, staminaku menurun. Aku mudah lelah akhir-akhir ini. Tempat yang paling aku rindukan untuk diriku sendiri sekarang adalah tempat tidur. Aku mudah sekali menjadi lelah. Padahal aku sudah minum ospen 2 kali sehari, dan suplemen tiap pagi dan menjelang tidur. Tapi itu semua tidak menolong staminaku. Aku sudah tidak kuat lagi menaiki tangga. Pertanyaanku hanya satu. Apakah aku sudah masuk ke proses degenerasi yang lebih lanjut?”
***
“ Hari ini aku dan Vino akan ke penjahit untuk mencoba baju yang sudah dipesan untuk pernikahan kami. Kami tidak cuma berdua. Tapi ayahku dan orang tua Vino juga ikut. Ibu Vino baik sekali kepadaku. Aku sudah menganggap beliau seperti ibuku sendiri. Kami begitu dekat. Sampai-sampai aku belajar memasak pun dari beliau. Wajahnya mirip sekali dengan Vino. Sangat terlihat kalau ibu itu baik dan sabar. Mirip dengan Vino. Parasnya tidak begitu cantik tapi menyenangkan untuk dipandang. Mungkin karena kebaikan hatinya yang memancar sampe ke wajah.
Aku coba gaunku. Lalu aku liat diriku sendiri di cermin. Cantik. Gaun ini cantik sekali. Warnanya putih. Ada ornamen-ornamen anggrek kecil di lengan dan juga rok nya. Jilbabku pun tidak kalah cantik. Ada bunga anggrek ungu di sisi kirinya. Hanya kurang satu. Wajahku pucat. Bibirku pecah-pecah dan kadang berdarah. Entah mereka sadar dengan kondisiku atau tidak, tapi aku lihat mereka begitu antusias, apalagi ayahku. Beliau bahagia sekali. Wajahnya yang mulai menua membuatku takut, aku takut meninggalkan beliau, aku takut bila tak mampu mendampingi ayah di masa tuanya. Berkali-kali aku mengatakan hal itu. Aku sangat takut.
Waktu aku akan melangkah meninggalkan cermin itu, aku merasa nafasku susah sekali untuk dihela. Sesak sekali rasanya. Aku hanya bisa memegangi dada ini. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan aku tidak lagi ingat apapun. Aku hanya bisa merasakan tangan hangat yang merengkuh tubuhku.”
***
“ Ruangan ini sepi. Warnanya putih. Tadinya samar-samar, karena mataku sulit sekali dibuka. Tetapi sekarang semuanya jelas. Aku mengenali suasana ini. Ini suasana dari rumah keduaku. Sudah belasan kali aku menginap di sini. Aku merasakan di tangan kananku ada selang infus yang masih aktif mengalir, di tabungnya tertulis ‘KA-EN3A’, itu adalah cairan infus standar untuk asupan nutrisi makanan, di ujung jari telunjuk kiriku ada detektor detak jantung, di sebelah kiri bed ada layar detektor detak jantung, lalu aku merasakan sesuatu yang menekan hidungku sampai aku tidak bisa bicara. Di sebelah kananku ada tabung oksigen, oh, jadi di hidungku ini ada selang oksigen untuk bantuan nafas, aku sudah hafal betul dengan hal ini. Aku kumat. Tapi kali ini benar-benar berbeda. Aku merasakan sesak yang teramat sangat sampai bicarapun aku tak mampu. Tanganku sulit diangkat, sakit sekali, kakiku juga. Seluruh persendianku rasanya luluh lantak. Maklum, dokter Candra mengatakan padaku bahwa, pada saat kumat, persendian besarku akan bengkak dan nyeri seperti orang rematik, maka dari itu untuk istilah awamnya penyakit ini juga disebut ‘Rhematoid Fever’, atau ‘Demam Rematik’.
Aku lihat pintu dibuka. Lalu muncul ayah, Vino dan orangtua Vino. Reaksi Vino cepat sekali waktu melihat mataku terbuka. Dia langsung memanggil dokter. Aku melihat ke ayah. Reaksi ayah tidak berlebihan seperti yang aku lihat di media-media sampah saat adegan ayah yang melihat anaknya terbaring di ICU. Beliau tetep tenang, walaupun aku tau hatinya kawatir. Dan kekhawatiran itu adalah hal yang manusiawi. Mungkin ketenangan itulah yang membuatkuku jadi optimis akan diriku sendiri, karena aku melihat ketenangan ayah. Wajah ayah seakan memberiku isyarat bahwa aku tak apa-apa, aku akan baik-baik aja, aku aman… Meskipun sebenarnya aku tau apa yang terjadi. Dan ayah pun tau bahwa aku tau apa yang terjadi.
Dokter Candra memeriksaku, ingin sekali aku berkata sesuatu pada mereka. Tapi aku tidak mampu. Aku tidak kuat. Jangankan berkata-kata. Tanpa bantuan oksigen ini pasti aku kehabisan nafas. Dadaku sakit sekali rasanya. Belum pernah aku mengalami kesakitan sampai seperti ini.
Aku merasa waktu makin kaku berbaris. Dia tidak mau lagi menoleh dan peduli dengan apa yang terjadi pada umat manusia. Aku tidak bisa lagi mengejar barisan kaku sang waktu. Kakiku terlalu lemah untuk mengejar, tanganku terlalu pendek untuk meraih, dan asaku pun sedikit banyak telah menguap dengan kenyataan yang akhirnya dihadirkan oleh waktu bahwa aku sakit lagi. Dan aku pun sudah tau bahwa suatu saat aku akan mengalami proses degenerasi lanjutan. Dan itu artinya…”
***
Kondisiku mulai membaik. Aku sudah bisa bicara. Bahkan duduk. Kursi roda ini membawaku ke taman depan bangsal Cempaka Mulya. Di sebelah kananku ada gantungan infus dan infusnya sendiri. Di belakangku berdiri orang yang paling aku sayangi. Vino. Dia mendorong kursi roda ini dan membawaku keliling rumah sakit. Kita membicarakan banyak hal. Ingin sekali aku berkeluh kesah tentang ketakutanku yang akan terjadi dua minggu lagi. Aku akan menjalani operasi. Aku tidak takut dengan operasi itu. Aku juga tidak takut dengan resikonya. Tapi aku takut kalau aku gagal dalam operasi itu, maka aku tak akan pernah bisa bertemu mereka. Karena… kemungkinan berhasil untuk operasi jantung ini adalah 30%. Selebihnya… meninggal di meja operasi.
Aku tahan segala resahku kepadanya. Aku tak ingin Vino tau aku takut. Aku berusaha tenang. Tapi akhirnya keluar juga percakapan yang paling memuakkan. Tapi pada akhirnya aku tau betapa sucinya hati Vino. Beda sama sekali dengan tampilannya yang sempat seperti gembel.
“ Vin, aku sakit.. aku tidak cantik seperti teman-temanmu. Bahkan untuk berjalan pun sekarang aku sudah tidak kuat. Beberapa tahun yang lalu pada saat aku bilang padamu kalau aku sakit, pasti kamu sudah tau kan bahwa hari ini akan datang? Hari yang paling menyakitkan buat kita. Aku tidak akan bisa membuatmu bahagia. Aku sakit. Masa depanku akan berhenti di ranjang rumah sakit juga. Tapi kenapa.. Kenapa kamu tetep setia denganku. Sabar dengan semua yang ada dalam diriku. menerimaku apa adanya. Aku mau pada saat aku sudah tidak lagi berpijak dalam dimensimu… kamu carilah wanita lain yang jauh lebih baik dari aku… Lebih cantik, lebih baik, lebih pintar, dan… Lebih sehat… Iya, lebih sehat...Tolong Vin…”
Mata Vino terlihat emosi… Dia mendongak ke arah langit. dia ambil nafas sebentar, dan kemudian mengeluarkan hembusan nafasnya…
Lalu dia tatap aku dengan pandangan mata yang sejuk tapi tajam…
“Ran… aku bukan orang bodoh yang bisa tertipu dengan tampilan luar dari orang lain. Kalau kamu bilang kamu tidak lebih baik dari orang lain… Itu bukan Ran yang aku kenal. Kamu lebih indah dari bunga manapun yang pernah aku temui. Kalau kamu mau aku cari perempuan seperti yang kamu sebutkan tadi… Hahahaha... Kamu pikir aku sebodoh dan sepicik itukah dalam menilai orang lain? Ran, kamu perlu tau… memang pada saat aku lihat seseorang yang jelas terlihat sempurna, aku langsung bisa menyimpulkan berdasarkan pandangan mataku bahwa perempuan itu sempurna. Karena memang gampang untuk melihat kecantikan luarnya dengan mata kepala ini. Tapi kamu… kamu beda Ran. Tidak semua orang bisa melihat keindahanmu. Karena memang sulit. Sulit. Hatimulah yang indah… Aku beruntung sekali hatiku dikaruniai mata yang sanggup melihat keindahan yang sebenernya. Bukan kepalsuan yang aku inginkan dari kamu. Tapi ketulusan dan kejujuranmu untuk aku. Aku tidak butuh kepalsuan, aku butuh kamu. Senyum yang tulus dan jujur. Pandangan mata yang teduh tanpa prasangka dan pamrih. Kecerdasan dan kesabaran dalam menjalani hidup. Itu kamu Ran. Hanya itu yang aku inginkan. Bukan semata warna-warni fana ataupun lekuk yang memabukkan. Tapi kualitas dari seorang Ran… Anggrek yang cantik dan Tegar. Kamu lebih indah dari siapapun Ran,, kamu berharga… aku butuh kamu bukan untuk kupajang, tapi untuk aku cintai…”
Jawaban dari Vino membuatku aku sedih. Tapi aku juga bahagia. Begitu beruntung aku dipertemukan dengan orang seperti Vino. Pandangannya matang. Hatinya suci. Aku sedih karena aku tidak tau sampai kapan aku bisa ada di sini dengan Vino. Aku tau… Aku tidak akan pernah memakai gaun yang sudah kami pesan. Aku tidak akan pernah mengarungi bahtera pernikahan dengan Vino. Aku tau itu. Dan aku sedih sekali. Aku sedih… Sedih…”
***
“Proses anastesi sudah dilakukan oleh tim dokter yang akan mengoperasiku. Segalanya sudah disiapkan. Aku, ayah, Vino, orangtua Vino, dan teman-teman kami cuma bisa mendoakan yang terbaik buatku. Aku diantar mereka ke ruang operasi. Ruangan ini gelap di setiap sudutnya. Di tengah ruangan ini ada lampu yang jumlahnya delapan. Dan terang sekali. Aku terbaring tepat di bawahnya. Terang sekali. Terang… Terang sekali... Sangat terang… Dan tiba-tiba gelap begitu saja…”
***
“ Suara khas ini lagi…
Detektor detak jantung. Suara tetesan infus. Tapi rasanya sepi. Aku buka mataku. Dan memang benar-benar sepi. Aku hanya sendiri di ruangan ini. Ini ICU. Artinya aku sudah selesai menjalani operasi itu. Lebih jauh lagi… Operasi ini berhasil… Aku selamat… Dadaku lebih ringan rasanya. Tidak terlalu sesak lagi, walaupun masih sedikit. Aku melirik ke luar ruangan ini karena memang ada kaca tembus pandang. Tak ada siapapun. Tiba-tiba aku melihat sekelebat baju putih menuju ke ruangan ini diikuti beberapa yang memakai baju putih juga. Meraka tim dokter. Mereka mau memeriksa keadaanku. Keluarga dilarang masuk, karena ini ruangan steril. Aku tidak bisa bicara. Badanku masih sakit seluruhnya.
Setelah dokter Candra dan timnya keluar, Vino masuk dengan pakaian steril… Matanya merah dan sayu. Kelihatan sekali kalau dia tidak tidur. Perlahan dia mendekatiku. Dia usap rambutku dengan tangannya. Aku merasakan energi yang luar biasa dari dia. Aku merasa kuat lagi. Aku merasakan kasih sayang yang begitu besar dari Vino. Aku tatap matanya, rasanya ingin aku sentuh wajahnya yang terlihat lelah. Tapi aku lemah. Tanganku sulit digerakkan. Mulutku pun sulit sekali berbicara. Mungkin karena selang oksigen di hidungku yang membuat bibirku berat digerakkan. Tangan kananku berusaha untuk menyentuh wajahnya. Dan aku bisa. Kami larut dalam kebahagiaan. Aku selamat dari operasi ini. Dia cium tanganku. Aku merasakan suatu cairan hangat di wajahnya. Baru pertama kali aku lihat Vino menangis. Aku pun menangis. Ujian ini begitu berat bagi kami. Walaupun badanku luluh lantak rasanya. Tapi aku bahagia masih diberi kesempatan supaya aku bisa melihat wajahnya. Sedikit banyak kami bahagia.”
***
“ Bangsal VIP cempaka mulya nomor 07.
Ruangan dimana aku dirawat inap. Setelah menjalani proses EKg (Ecco Kardiografi), rekam jantung, cek darah rutin standard dan berbagai macam check up lain, bisa disimpulkan bahwa keadaan jantungku mulai membaik. Tapi sekarang aku masih dalam masa rawan infeksi. Jadi aku harus mengkonsumsi ospen sampai duabelas setengah butir sekali minum dan minumnya tiga kali sehari. Hal ini dilakukan untuk mencegah infeksi yang bisa saja terjadi setelah masa operasi. Apalagi operasi jantung.
Keadaan jantungku boleh membaik. Tapi kondisi syarafku bermasalah. Suatu hari aku mencoba menggerakkan badanku. Tapi… Tangan dan kaki kiriku mati rasa. Aku tidak bisa menggerakkannya sama sekali. Aku menangis… Aku sedih… Aku takut sekali… Di ruangan ini aku menangis sendiri dan ketakutan… Ingin sekali rasanya aku berteriak supaya bebanku sedikit reda… Tapi dadaku sakit karena bekas jahitan operasi. Isakan tangisku ternyata didengar oleh Vino… Dia ada di sofa ruanganku… Menjagaku…
“ Vino… aku takut… aku bener-bener takut Vin… Badanku sakit semua… Sekarang aku lumpuh… Lumpuh Vin… Aku bener-bener tidak akan bisa jalan lagi… Aku tidak akan bisa jadi psikolog lagi, aku tidak akan bisa menulis, aku tidak akan bisa bermain gitar, piano… Semuanya… Aku sudah tidak bisa melakukan apapun Vin… Hidupku sekarang cuma sekedar bernafas… Dan itupun sulit… Aku lumpuh Vin… Aku sebentar lagi akan…”
Tak kuasa lagi aku bicara… Airmataku sudah keluar semua… Dadaku sudah cukup sesak karena mengeluarkan airmata dan ucapanku yang putus asa itu… Aku benci hal ini, aku benci dengan keputusasaanku… Memang sebenarnya hidup ini sudah drama dan tak perlu didramatisir sama sekali… Tapi drama ini begitu sakit… Aku terjebak… Terjebak dalam kondisi ini… Aku hampir putus asa…
Vino hanya mampu menunduk dan menahan tangisnya… Kepalanya bergetar... Airmatanya tidak bisa lagi dia tahan… Sangat terlihat kalau dia tidak ingin menujukkan kesedihannya di hadapanku… Tak lama kemudian Vino peluk aku… Erat sekali… Tangisannya pun bergetar di telinga kiriku… Vino juga sedih… Dia tidak ingin mengakui bahwa hidupku sudah di ujung tanduk… Tidak ada lagi wajahnya yang ingin membohongi bahwa aku baik-baik saja… Kami sama-sama tau apa yang akan terjadi… Kami sama-sama takut kehilangan…
“ Ran… kamu akan baik-baik saja Ran… Aku di sini… “
Bohong… semuanya bohong!! Aku tidak akan baik-baik saja. Tangisanku sudah tak bisa ditahan lagi, seakan aku sudah tak peduli lagi dengan bekas jahitan di dadaku yang belum kering. Aku terlampau lemah untuk pura-pura tegar dalam keadaanku ini. Ketahananku sudah hilang. Semua yang kupelajari di bangku kuliah tentang optimisme menguap begitu saja karena kondisiku yang sudah tak bisa tertolong lagi. Hatiku begitu sakit. Aku sama sekali tak siap.”
***
“ Segalanya masih sama… suara lembut tetesan cairan infus. Dan separuh badanku yang lumpuh. Ranjang ini juga tetap hangat karena aku tak pernah sekalipun beranjak dari tempat ini. Segalanya masih sama. Kecuali… tiba-tiba nafasku sesak sekali. Kepalaku sakit. Tak ada sedikitpun udara yang mampu aku hirup. Dadaku sakit, seakan banyak jarum yang menusuk-nusuki dadaku ini. Sakit.. Sakit... Kepalaku pusing dan sakit sekali, aku tak tau harus bagaimana. Suaraku tak bisa keluar. Bekas jahitan operasi ini terlampau hebat untuk aku saingi. Tiba-tiba aku tidak bisa merasakan apapun, sedikit banyak aku melihat kelebatan jas putih di sekelilingku. Mereka semua menyentuh badanku dari ujung kepala sampai kaki. Tapi badanku mati rasa oleh sentuhan mereka. Semuanya tak berarti dibandingkan rasa sakitku yang luar biasa ini. Mendadak… Terlintas semua kenangan di otakku tentang diriku sendiri… tentang ayah… tentang mama… tentang Vino… semuanya … semua… semua kenangan pada saat aku kecil dulu sampai sekarang… Kenangan itu muncul begitu saja seperti slide show… Mendadak semuanya gelap. Tapi… Sakitku hilang… Ringan… Bahkan aku tidak merasakan kalau aku bernafas… Tapi tidak sakit sama sekali… Lalu secara cepat… Semuanya menjadi terang… I lose my pain… All my pain…”
***based on a true story of my firend :)