Rabu, 06 Juni 2012

Orchid

“ Aku…Perempuan biasa dari keluarga biasa pula. Tapi tak ada seorangpun yang menganggap bahwa hidupku ini biasa. Tapi aku pikir hal ini biasa di dunia ini bahwa tiap manusia punya kisahnya sendiri. Tiap manusia itu berbeda. Segala sesuatunya memang sangat mudah berubah… Mudah, dan cepat sekali. Dalam hidup manusia hanya satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu perubahan itu sendiri… Dan aku… hanyalah salah satu lakon dari drama umat manusia di panggung dunia yang penuh dengan perubahan… Iya… aku…”

***

“ Ruang tunggu ini begitu sepi… Seharusnya ramai, maklum, bangsal anak. Tapi, rasanya sepi-sepi saja. Hanya aku dengan angan-anganku. Aku tak pernah putus asa akan apapun yang aku lakukan atau yang aku dapat dan alami, tapi tak ada bayangan apapun yang melintasi otakku tentang siapa aku selanjutnya. Duniaku ini kecil, sangat kecil. Makin kecil lagi ketika diagnosa ini mampir ke tubuhku, yang juga kecil. Aku Ran, anak perempuan biasa dari keluarga biasa. Aku penderita penebalan katup jantung. Penyakit yang langka di Indonesia. Bahkan di dunia sepertinya. Penyakit ini kompleks, tidak bisa cuma dibayangkan dengan katup jantung yang bertambah tebal atau nafas yang putus-putus dan lain-lainnya. Penyakit ini juga menyangkut darah, imunitas, stamina dan lainya. Sulit dijelaskan. Aku didiagnosa sebagai penderita penebalan katup jantung waktu semester genap kelas 6 SD. Sejak itu pula dokter mengatakan bahwa aku harus meminum obat yang biasa disebut Ospen atau nama bakunya Penoxcimethyl Pinicilin minimal 5 tahun dan tidak ada batasan maksimalnya. Artinya aku bisa saja harus minum obat ini seumur hidup. Lebih tepatnya aku terancam tidak akan sembuh seumur hidup. Dan aku tak pernah tau akan bertahan hidup sampai kapan. Dan aku sulit untuk peduli. Dan yang paling penting, sekarang sudah 5 tahun dari target goal dokter Candra, dokter pribadiku yang sangat baik. Dan dengan seragam putih abu-abu, dasi dengan dua strip, rok selutut, kaos kaki panjang dan pantofel krem ini aku menunggu antrian di sini, bukan antri sebenarnya, hanya menunggu proses administrasi di bangsal VIP Anak Cempaka Mulya RSUP dr. Sardjito Yogyakarta, karena cuma beberapa anak yang menderita penyakit ini. Dan hari ini jam ini cuma aku yang kontrol di sini. Iya… di sini… Ini rumah keduaku, aku berfikir bahwa aku pun akan mati di sini juga, kecuali Tuhan berkehendak lain. Akhirnya dokter Candra datang. Entah mengapa aku senang. Aku sudah siap dengan perkataan beliau tentang keputusan pengkonsumsian Penoxcimethyl Pinicilin . Nama baku dari Ospen. Antibiotik dosis hebat.”

***

“ Ujian Nasional sudah dekat. 6 tahun aku bisa bertahan dengan penyakit yang sudah aku anggap sahabat ini. Begitu juga Ospen dan paracetamol yang setia menghuni tas hitamku dengan ornamen anggrek di sebelah kirinya. Warnanya ungu. Dan aku suka anggrek karena itulah arti namaku. Ujian ini lumayan berat. Aku di IPA. Matematika, kimia, fisika, biologi, bahasa Indonesia dan Inggris. Biarlah. Toh aku juara umum. Walaupun belum tentu pemerintah tau bahwa aku juara umum. Dan kalaupun mereka tau, tidak mungkin semata-mata lalu aku diluluskan. Tapi aku bersyukur, aku masih diberi kesempatan untuk di sini. Bukan hanya untuk hidup, tapi juga untuk belajar dan membuat segalanya jadi lebih berarti. Kalau bukan untukku. Maka untuk ayahku. I love him so much. More than what you’ve ever known about lovin’ others.”

***

“ Setiap pagi aku diantar ayah ke sekolah. Hari ini ayah bisa menyaksikan anaknya lulus ujian nasional. Biasa saja bagiku. Tapi bagi pria pendiam macam beliau aku bisa sampai lulus SMA itu sudah prestasi yang luar biasa, tentu bukan bagiku, tapi bagi beliau. Karena banyak pengalaman anak-anak sakit semacam aku tidak bisa meneruskan sekolah karena kendala biaya, tenaga, waktu bahkan karena kendala dukungan. Beliau sangat sabar mendidikku. Mendidikku dengan penyakitku. Banting tulang demi biaya pengobatanku, tapi beliau tak pernah mau aku ketinggalan dari anak-anak sehat yang lainnya. Lebih tepatnya tidak mau aku merasa ketinggalan. Beliau menjaga mentalku supaya bisa merasa bahwa aku ini sejajar dengan anak-anak seusiaku. Aku tetap sekolah sampai hari ini bisa lulus. Dan beliau merawatku sendirian. Iya… cuma sendirian. Aku tak pernah mau tau siapa mamaku… Walaupun aku tau… Mamaku cuma pengkhianat. Dia selingkuh dengan laki-laki brengsek yang jelas-jelas tak ada lebihnya dari ayah. Pada saat mereka berpisah, dengan tegas aku memilih ayah… Hanya ayah… Saat itulah aku tidak punya figur perempuan, yang aku tau hanya ayah… Ayah… Hanya ayah… Aku tak pernah mau tau apapun tentang mama lagi. Ayah yang sudah membuatku kuat. Membuatku mau mencoba untuk jadi mandiri dalam keadaan apapun. Ayah mendukungku pada saat aku berfikir bahwa aku ini berbeda… Aku ini sakit. Aku ini lemah. Aku ini hanya menyusahkan saja. Ayah berkata, “ Kamu memang berbeda, manusia selalu berbeda. Kadang tegas terlihat, kadang tidak. Mungkin ayah terlihat sama saja dengan ayah-ayah dari teman-temanmu, tapi pasti ada sesuatu yang berbeda, tapi kurang terlihat, karena kita terlihat sama. Semua orang itu sakit, tapi entah sakit apa, entah besar maupun kecil, pasti ada di salah satu bagian di dalam dirinya, entah mental maupun fisik. Tinggal bagaimana kita sikapi aja. Kamu memang beda Ran, Tuhan memberimu penyakit ini, anggaplah sebagai pemberian, jangan anggap sebagai derita. Percuma. Rugi. Karena kita tau tiap manusia berbeda. Perbedaanmu hanyalah pada darah dan katup jantungmu yang memiliki perbedaan yang efeknya terlihat di mata orang lain, baik secara klinis maupun laboratorium. Itu aja yang beda. Manusia itu seperti dunia ini, tidak pernah sempurna. Manusia pasti sakit, dunia juga sakit. Dunia sakit karena perang dan permusuhan. Jadi kenapa harus merasa takut dan takluk dengan perbedaan yang merupakan anugerah dari Tuhan? Sikapi segalanya dengan senyuman, hati nurani dan pikiran. Itulah anugrah dari Yang Maha Kuasa bagi manusia…”
Itulah ayahku. Aku tidak ingin melukai hati pria pendiam yang mulia seperti beliau. Aku adalah anaknya. Aku titipan Tuhan untuk dijaga oleh ayah. Kalaupun aku harus pergi, ini sudah takdir dari Tuhan. Dan itu pasti baik. Walaupun berat. “

***

“ Sekarang ini sudah tahun kedua aku kuliah. Kampus ini sama sekali tidak asing bagiku. Masa kecilku sering dihabiskan di tempat ini. Maklum ayahku adalah dosen di kampus ini. Sedangkan aku kuliah di jurusan psikologi di Universitas yang sama. Masa kecilku terlintas lagi ketika ku tatap parkiran mobil di bagian utara. Aku main sendirian di sana. Waktu itu, ayah sedang mengajar, dan aku tidak betah main dengan mbak. Sesekali mahasiswa ayah mendatangi dan mengajak bermain. Menyenangkan sekali waktu itu. Walaupun aku tak lagi punya seorang mama. Dan aku dari dulu pun sudah tidak pernah peduli tentang mama.
Aku berjalan-jalan mengelilingi fakultasku sendiri. Baunya masih sama. Ku pilin-pilin rambut panjangku yang berombak. Kini aku sudah dewasa. Karena ayahlah aku bisa tegar. Jalan setapak di sini memang teduh akan pepohonan. Ku buka tas hitam dengan ornamen anggek ungu di sebelah kiri. Ku minum obatku. Lega tapi sesak. Entah mengapa ingin kubuka salah satu file foto di handphoneku. Ku usap layar handphone itu seakan benar-benar kusentuh wajahnya. Matanya teduh. Seteduh mata ayahku. Hatinya selembut kapas, walaupun tadinya jauh dari itu semua.”

***

“ Aku bertemu dengannya pada saat aku mengantar seorang teman untuk training jurnalistik di kampus, teman baikku, seorang perempuan bernama Lyra. Sedangkan wajah teduh di foto ini namanya Vino. Waktu itu semester pertama, jadi aku lumayan sibuk dengan aktifitas mengantar temanku yang beum tau lokasi-lokasi di kampus ini. Entah mengapa juga aku jadi tertarik ikut training jurnalistik macam ini. Padahal aku sama sekali tidak bisa menulis. Yang aku bisa cuma mencatat pelajaran, diary aktivitasku di rumah sakit mengenai obat, suntikan dan check up, lalu memo, atau sms.
Bermula saat Vino tidak sengaja menjatuhkan buku chord gitarnya. Aku tau itu karena di buku itu ada nama dan fotonya, juga alamat e-mail. Akupun tau bahwa itu buku chord gitar karena aku bisa memainkan piano dan gitar. Pertama melihat wujud anak itu aku pikir dia seorang berandalan. Rambutnya ikal, lebih ikal dari rambutku. Di atas rambut itu bertengger topi hitam bulukan, bajunya ketat, dan celananya sobek di lutut dan betis, sepatunya sekakan tak ingin kalah, buluk minta ampun, di punggungnya ada ransel hitam yang lumayan lah, tapi ada buluknya juga, dia kurus sekali dan tinggi, dan jauh lebih tinggi dari aku. Di tangannya terselip rokok yang baru saja dinyalakan. Sepertinya dia perokok berat. Matanya merah dan menggantung, seperti diseret minuman keras.
Beberapa menit kemudian saat aku menunggu ayahku yang masih di ruang dosen dengan pekerjaannya yang keliatannya masih seabreg itu, aku buka lap topku dan mendekatkan diri ke area hot spot kampus, aku ingin kirim e-mail ke Vino supaya dia bisa ambil bukunya. Aku duduk di sebuah taman yang tersembunyi di kampus ini, aku menghadap ke gedung kampus sebelah barat, di belakangku ternyata ada juga seseorang yang duduk, dari suaranya saat batuk aku yakin dia seorang laki-laki, tapi aku tidak kenal atau mengenali orang itu. E-mail telah aku kirim bahwa aku menemukan buku chord dia yang tebal tapi bisa jatuh itu, aku sendiri tak habis pikir, bisa-bisanya buku seukuran stopmap dan lebih tebal dari buku tulis ini bisa jatuh, lebih tidak habis pikir lagi, kenapa harus susah-susah aku ambil dan cari pemiliknya. Lama sekali kalau aku harus tunggu dia balal e-mailku, jadi aku log in facebook dan coba mencari facebook Vino melalui e-mailnya. Yap!! Ini dia!Aku add facebooknya. Ternyata nama lengkapnya adalah Alvino Mahendra Putra. Tak usah menunggu lama, kemudian muncul notification di layar bahwa dia sudah jadi temanku. Ternyata dia sedang On Line. Tak lama kemudian dia post tulisan ke wall-ku. Intinya say thank for d add, aku balas dia supaya ambil buku chord gitarnya.Lalu kami berbincang dengan panjang di sana. Akhirnya aku tau dia anak sastra Inggris di kampus ini. Kami janji untuk bertemu kaffe kampus besok sore setelah kuliah. Hanya untuk mengembalikan buku.
Tak pernah ada prasangka apapun waktu aku dan dia dipertemukan oleh dunia maya walaupun sebenarnya aku tau dia dan dia tak tau aku. Tak ada prasangka apapun bahwa dia adalah seseorang yang bisa mengubah hidupku jadi lebih berarti. Dia bisa membuatku tertawa tanpa alasan, terkadang bahkan menangis sendiri, kadang aku juga terlalu senang dengan kehadirannya dalam hidupku. Aku pun tidak menyangka bahwa aku akan begitu takut dengan kematian pada saat aku melihat wajahnya, dan aku pun juga tak menyangka bahwa akan ada penyesalan di wajah brandal namun teduh dari Vino mengenai diriku sendiri dan mengenai dirinya akan apa yang dia dan aku alami dan apapun yang dia lakukan dalam hidupnya. Aku ta pernah menyangka. Aku cuma manusia biasa.

Beberapa menit kemudian aku berniat pulang, artinya aku harus ke ruang dosen dulu. Aku merasa badanku agak demam. Akhirnya aku minum paracetamol. Saat itu aku menoleh ke belakang, rasanya aku kenal sepatu biru tua bulukan itu, dia juga memakai jaket warna cokelat, aku pikir itu Vino. Aku belum berani menyapa. Toh sedari tadi kita saling membelakangi. Dan dia juga tidak mengenaliku kok. Karena walaupun dia sudah tau facebookku, fotoku tidak aku pasang. Yang ada hanya gambar bunga anggrek.”

***
“Sore di hari selanjutnya. Kami janjian di kaffe kampus. Aku sebutkan ciri-ciriku. Aku memakai dress ungu muda selutut dan cardigan hitam ditambah dengan stocking hitam dan sepatu flat hitam juga. Rambutku yang berombak model layer sepunggung dan kebetulan warnanya juga hitam aku gerai begitu saja. Penampilanku memang normal seakan-akan tak ada penyakit bersarang di tubuhku, tapi selalu ada yang salah dengan warna wajahku. Bukan, bukan warna gelap yang sering ditakuti wanita-wanita di sekitarku, tapi, wajah ini sangatlah pucat, terutama bibirku yang tanpa warna. Kulitnya sering mengelupas sendiri dan mengeluarkan darah. Aku heran, haruskah wajahku sebegini kasihannya? Sampai teman-temanku selalu mengkhawatirkanku, mengira aku sakit. Ah sudahlah, syukuri saja. Toh ada kan pewarna bibir supaya aku terlihat sehat. Terlihat sehat. Ah iya, Vino bilang padaku dia akan memakai baju abu-abu dan celana hitam, tak lupa juga topi hitam kucel yang selalu setia nemplok di kepalanya.

Beberapa menit kemudian,
Ada seorang laki-laki yang duduk di depanku. Aku yakin 100% bahwa itulah Vino. Pertama-tama dia Tanya apakah aku Ran? Jelas aku jawab iya. Percakapan kami berlanjut makin dekat. Hari-hari selanjutnya kami jadi sering bertemu. Bahkan dia sudah berani juga ngajak aku pergi berdua saja. Aku memang cuma merasa senang saat dekat dengan Vino. Rasanya nyaman sekali. Walaupun dia brandal, tapi dia dan jujur. Jauh dari kata munafik. Beda… Vino beda dengan orang-orang yang sudah mencoba untuk dekat denganku. Vino sangat sabar. Bahkan lebih sabar dariku yang jelas-jelas mempelajari ilmu kejiwaan. Sedangkan dia anak sastra. Waktu itu aku takut mengakui bahwa aku sudah jatuh cinta. Aku takut, sangat takut. Mungkin semua menganggap perasaanku ini biasa saja, klise atau apapun lah, tapi sulit aku ungkapkan betapa aku jatuh cinta dengannya tapi disertai dengan berbagai macam ketakutan. Ini pertama kalinya aku bener-bener jatuh cinta. Aku suka Vino…”

***

“Waktu memang selalu berjalan kaku. Dia tak pernah mau menoleh ke belakang untuk ‘mengedit ‘ sesuatu yang salah atau pun tak diperlukan untuk dilakukan umat manusia di masa lalu. Maka sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita adalah waktu. Mungkin itulah kenapa wajah kita diciptakan oleh Tuhan menghadap ke depan, supaya kita tetep melihat ke depan dan bertarung maupun berjalan beriringan dengan waktu. Leher kita diciptakan dengan kemampuan menoleh ke belakang supaya bisa instrokpeksi diri dan belajar dari kesalahan masa lalu.
Aku dan kita semua tidak tau berapa waktu yang kita punya di dunia ini. Maka hal paling menyenangkan yang bisa kulakukan cuma memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi siapapun yang bisa merasakan kebahagiaan yang aku rasakan.
Waktu menggiringku di usiaku sekarang. Sepuluh taun aku berdampingan dengan penyakit ini. Bulan depan aku wisuda. Aku akan lulus dari universitas ini. universitas negeri yang terkenal di Jogja bahkan Indonesia. Ini prestasi. Bukan prestasiku. Tapi ayah… dan… Vino. Merekalah motivasiku untuk hidup. Hidup bukanlah sekedar bernafas, tapi melakukan segala sesuatu yang bisa kulakukan demi orang-orang di sekitarku. Itulah arti hidup yang bisa aku cerna dari pengalaman berharga yang diberikan waktu untukku. Pencipta waktu adalah Tuhan. Tuhan memang sayang denganku. Bukan aku yang hebat. Tapi Tuhan Yang baik. Dia ciptakan orang-orang yang bisa mewarnai lembaran putih di dalam diriku dengan warna-warni dan tulisan yang indah, yang bisa membuatku jadi lebih berharga di mata setiap orang.
Aku bahagia sekali, aku akan jadi salah satu psikolog di RSUP dr. Sardjito walaupun aku masih S1. Walaupun itu baru rencana, tapi sudah cukup membuatku merasa bahagia. Rumah sakit itu adalah rumah yang juga membesarkanku. Berusaha untuk menyembuhkanku. Dan aku bisa mengabdi di sana. Walaupun cita-cita awalku adalah dokter, tapi bukan berarti aku kecewa. Mungkin dengan ini aku bisa mengabdi pada anak-anak penderita kanker, jantung dan lainnya dengan lebih total. Karena aku tau rasanya memiliki rumah kedua berupa rumah sakit. Dokter Candra yang merekomendasikan aku di sana. Aku pun sebenarnya sedikit bingung mengapa bisa seperti itu, karena baru sebulan lagi aku diwisuda sebagai sarjana psikologi, dan seharusnya aku harus mengambil profesi psikologi klinis, tapi toh ini cukup membuatku bahagia.”

***

“ Tiga minggu lagi aku akan diwisuda. Tapi akhir-akhir ini aku merasa staminaku turun drastis. Sampai suatu hari saat aku  pergi dengan teman-teman, hidungku terasa hangat di dalam, tapi di atas bibirku rasanya dingin. Saat aku lihat ternyata darah. Aku langsung ke UGD diantar teman-temanku. Maklum aku memang tidak diijinkan mengendarai motor ataupun mobil sendirian, karena bisa beresiko. Lyra menelfon ayah dan Vino sebelum sampai di Rumah Sakit. Nadanya panik. Badanku demam. Aku merasa nafasku sesak. Itu semua sering terjadi dan sudah biasa aku alami. Yang tidak biasa adalah gejala mimisan. Aku khawatir kalau mimisan ini memperburuk kesehatanku. Aku harap tidak.
Setelah mimisan reda hidungku dipasang selang oksigen, lumayan enteng nafasku sekarang. Aku sudah di kamar inap. Di bangsal anak juga. Padahal sudah hampir S1. Tapi tak apalah, toh dokter Candra kan dokter spesialis jantung anak, dan aku sakit sejak anak-anak.
Akhirnya dokter Candra selesai memeriksa. Di sana ada Ayah, Vino, Lyra dan teman-temanku yang lainnya. Aku Tanya penyebab mimisan itu apa. Ternyata bener, tidak ada sangkut pautnya dengan penyakitku. Aku hanya terlalu lelah. Aku harus bed-rest selama seminggu. Vino sampai cuti dari usaha book store-nya demi menemaniku. Ya sudahlah, dengan begini justru aku bisa lebih dekat dengan Vino. Selama ini aku terlalu sibuk dengan skripsiku. Vino, laki-laki yang bisa menerimaku apa adanya. Dia tidak peduli aku sakit, pucat, kecil, dia hanya bilang bahwa dia cinta. Aku pun juga begitu. Aku tak peduli mau dia brandal ataupun bukan, aku tetap cinta dengan dia. Demi aku dia berubah. Padahal aku belum dan tidak akan pernah memaksa bahkan meminta dia untuk jadi orang lain. Aku cinta dia apa adanya. Tapi dia sekarang sudah berhenti merokok dan minum minuman keras, celananya berlubangnya sudah tak pernah dia sentuh. Dia terlihat manis dengan tampilan barunya itu. Oh iya, sekarang dia memakai kacamata kotak. Rambutnya dipotong pendek, padahal Vino lebih manis dengan rambut gondrongnya.
Salah satu hal yang paling mengesankanku dan menambah rasa sayangku ke dia adalah pada saat aku duduk di semester 6, aku pernah bercerita padanya bahwa aku sangat ingin bermain piano di hadapan orang banyak. Itu adalah salah satu mimpi terbesarku selain jadi psikolog. Suatu hari selesai kuliah, waktu itu ulang taunku di bulan Februari, dia memberiku sebuah bingkisan. Isinya gaun, warna lavender, sangat manis. Dia tutup mataku dan mengajakku berjalan ke suatu tempat. Saat dia buka kain penutup mataku, di depanku sudah banyak mahasiswa dan dosen yang duduk di sana, termasuk ayahku, ada juga dokter Candra dan beberapa anak penderita kanker yang beberapa dari mereka aku kenal. Yang paling menakjubkanku adalah sebuah piano klasik di tengah rumput hijau yang menahan mataku dari kedipannya. Sebelah belakang piano itu terdapat kain warna lavender juga yang berayun-ayun terkena angin. Di piano itu tertiliskan kata ‘ Dear Orchid’. Cantik sekali. Aku tak pernah menyangka taman kampus bisa berubah seindah itu. Vino menuntunku ke arah piano itu dan mempersilahkan aku duduk di kursi ukir pasangan piano itu. Penonton sudah pada diam menungguku memainkan lagu. Masih takjub aku waktu itu. Tapi aku berusaha konsentrasi dan aku menyanyikan lagu Celline Dion, ‘Because You Loved Me’. Lagu itu buat semua orang yang telah memberiku motivasi. Lagu itu terasa begitu dalam buatku. Aku bisa seperti siapa diriku sekarang ini, karena mereka. Aku hanya ingin mengungkapkan itu ke mereka. Dan tanpa diminta airmataku menetes begitu saja sebelum aku selesai menyanyikan lagu itu. Aku semakin sayang dengan Vino. Dengan mereka semua. Aku ingin hidup lebih lama. Aku merasa lebih berharga sekarang. Begitu banyak yang menyayangiku. Aku harus memperjuangkan kesehatanku. Aku pasti bisa. Terimakasih Vino. Terimakasih ayah… Terimakasih semuanya… Aku sayang kalian semua…”

***

“ Tuhan sudah memberiku nikmat yang begitu banyak. Suatu hari aku bercermin. Aku amati wajahku sendiri. Pucat. Satu kata itu yang bisa aku ungkapkan. Aku buka lemari kamarku. Di situ aku menemukan kain merah hati yang aku pikir itu jilbab. Dan memang itu jilbab. Aku ambil jilbab itu, dan aku taruh di meja. Lalu aku tatap lagi wajahku di cermin. Aku rapikan rambutku yang panjang dan lebat sekali. Benar-benar aneh, anak sakit tapi berambut lebat. Entah berapa dokter yang sibuk membahas keanehan di rambutku yang sama sekali tidak rontok selama pengobatan. Aku tatap wajahku lekat-lekat. Mataku, hidungku, alisku, bibirku, semuanya mirip ayah. Rambutku saja yang mirip mama. Hitam dan berombak. Tapi rambut mama lebih cokelat. Warna kulitku pun sama dengan ayah. Tidak hitam tapi juga tidak terang. Sedangkan mamaku kuning langsat dan cantik. Dia keturunan bangsawan bugis. Dan aku pucat sekali. Aku ikat rambutku, poniku aku jepitkan ke atas. Jilbab itu begitu menarik hatiku. Ingin sekali aku pakai. Aku ambil pin bunga anggrek dari kayu di laci meja, itu pemberian Lyra. Aku pernah diajarin memakai jilbab oleh Lyra. Aku belum bisa memakai jilbab, karena memang tak ada seorangpun yang mengajari, bahkan mama pun tak ada. Embak juga memakai jilbab tapi yang langsung dipakai tanpa peniti. Dan aku belum begitu siap. Aku lipat jilbab itu jadi segitiga. Lalu aku sematkan pin kayu dari Lyra di tengahnya. Satu sisi jilbab itu aku tarik ke belakang supaya rapi lalu aku beri peniti. Beda. Aku merasa berbeda melihat wajahku di cermin. Entah mengapa aku suka dengan tampilan itu.
Begitu ingin aku memakai jilbab. Tapi entah apa yang membuatku tertahan untuk memakai. Jawabanku untuk diriku sendiri pun cuma satu. Belum siap. Padahal itu perintah Tuhanku untuk aku. Dan Tuhan selalu baik padaku. Dia tak pernah menunda-nunda untuk memberiku orang-orang yang menyayangiku. Tak pernah tak siap untuk memberi nikmat yang begitu besar buatku. Padahal mudah bagi-Nya kalau cuma memerintahkan malaikat-Nya untuk mencabut nyawaku 10 tahun yang lalu, kalau cuma tidak memberi ayah pekerjaan yang bisa cukup untuk membiayai pengobatan dan kuliahku, ataupun tidak membiarkanku hidup atau diciptakan di dunia sekalipun. Tapi tidak, Tuhan memberi semua nikmat-Nya buatku. Dan aku harus bersyukur. Maka sekarang aku putuskan, aku akan pakai jilbab ini. Selamanya.“

***

“ Ruangan ini ramai sekali. Hari ini aku wisuda. Aku senang, aku bahagia sekali. Mungkin sama senang dan bahagianya seperti saat lulus ujian nasional di SMP dan SMA. Di sebelah sana ada ayah dan Vino. Mereka menungguiku. Padahal aku membayangkan yang ada di sebelah ayah adalah mama. Tapi biarlah. Toh mungkin mama tak lagi peduli lagi denganku. Aku tidak bisa memenuhi standard mama sebagai anak sempurna. Aku sakit. Dan ternyata mama tidak bisa menerima. Aku beruntung karena mama dan ayah bercerai. Karena akan ada tekanan mental yang sangat besar seandainya aku masih dengan mama. Padahal yang aku butuhkan cuma kasih sayang. Bukan obsesi orang tua supaya aku bisa jadi anak yang sempurna supaya bisa dibangga-banggakan di luaran. Padahal saat bertemu berdua denganku yang bisa mama lakukan cuma menekan mental dan menyalahkanku karena aku sakit. Mama tidak pernah paham bahwa penyakitku ini adalah satu proses degenerasi dari faktor luar. Jadi bukan karena keturunan atau faktor genetik. Walau begitu, kalau sampai mama menyalahkanku karena aku sakit, tetap saja itu artinya mama menjelekkan dirinya sendiri. Mama yang membuatku sadar bahwa kecantikan luar bukanlah sesuatu yang penting lagi pada saat kita menghadapi dunia. Mengarungi bahtera pernikahan. Karena hal itu akan hilang seiring waktu. Sesuatu yang akan tetep ikut dengan kita sampai kita menua adalah sifat baik atau buruk dari diri kita. Rasa nyaman atau tidak nyaman yang bisa kita berikan ke orang-orang di sekitar kita. Kedewasaan atau kekanak-kanakan dari diri kita dalam mendidik anak keturunan kita. Dan itu terjadi kepadaku. Aku tidak merasakan sesuatu yang indah dari kecantikan mama. Cuma ayah yang bisa membangun mentalku dengan kasih sayangnya yang melebihi kasih sayang seorang ibu yang jelas-jelas sudah susah-susah melahirkanku. Saat aku bertemu sepupu-sepupuku yang kecil dan lucu-lucu, hal yang ingin aku lakukan ke mereka hanyalah membagi kasih sayangku, dan aku jadi begitu heran dengan kelakuan mama. Dengan gampangnya mama melukai hatiku, hati anaknya. Dan hati ayah, suaminya. Padahal dalam sebuah keluarga, mama lah yang bisa menyejukkan hati keluarganya. Maka aku begitu takut jadi anak durhaka. Aku takut kalau aku dosa ayahku juga akan masuk neraka. Aku tak akan pernah tega membayangkan ayah sebaik itu dipanggang di perapian neraka yang panas. Sedangkan surgaku ada di telapak kaki mama. Maka sesuatu yang bisa aku lakukan hanya diam dan menghindar dari mama. Aku tidak ingin papa ikut berdosa karena Tuhan pikir papa tidak bisa mendidik aku. Cuma itu yang bisa kulakukan.

Hari ini staminaku lumayan baik. Aku sudah meminum ospen dan juga suplemen untuk menambah kadar hemoglobin darah. Karena, selain kadar endapan darahku masih tinggi, aku juga mendapat efek sampingan dari penyakit penebalan katup jantung ini, yaitu anemia akut sekunder. Jadi misalkan penyakit primernya sembuh, anemia akut sekundernya pun ikut sembuh. Tapi aku masih belum tau kapan aku bisa sembuh. Tapi bukan dosa kan kalau aku mengucapkan kata sembuh?
Entah kenapa hari ini aku merasa tampilanku lebih dewasa dari sebelumnya. Mungkin karena toga yang aku pakai. Mungkin juga karena jilbab lavender yang dibentuk aneh-aneh oleh mbaknya yang merias wajahku. Kemungkinan besar karena alisku dirapikan oleh mbaknya yang merias juga, tidak menutup kemungkinan juga karena wajahku jadi tidak terihat pucat karena make up yang lengkap dengan blush on dan lipstick pink natural. Tapi bukanlah sebuah kemungkinan bahwa usiaku sekarang sudah usia S1. Dan usia itu adalah usia dewasa, walaupun masih di bawah 25 taun.
Akhirnya namaku dipanggil. Aku maju dan resmi jadi Ran Hana Zainal, S. psi. Hatiku senang. Aku bahagia, sangat bahagia. Lalu aku duduk lagi di tempatku tadi. Aku menoleh ke belakang. Aku melihat ayahku tersenyum. Indah sekali. Keriput di wajahnya menunjukkan lelah yang tak terhingga. Dia mendidikku sendiri. Tanpa pendamping. Setiap kerutan di lekuk wajahnya jadi saksi bisu perjuangan fisik dan mentalnya dalam berjuang membesarkanku. Di sebelahnya ada Vino yang mengacungkan jempolnya kepadaku. Setahun yang lalu dia juga wisuda. Lalu aku lihat lagi wajah ayah. Matanya bening karena air mata. Aku mungkin paham bagaimana rasanya jadi ayah. Melihat orang yang kita sayangi ada di ujung tanduk dan meregang nyawa adalah hal yang jauh lebih menyakitkan daripada sekedar mengalami sendiri sakit ini. Ayahku pria pendiam yang penuh kasih sayang. Aku mempelajari sesuatu tentang ayah bahwa orang diam itu berbicara lebih banyak daripada orang yang banyak berbicara. Itulah ayahku. Diamnya bukan pengecut. Tapi diam yang betul-betul lebih dari emas. Berharga.
Setelah wisuda selesai, aku berlari kecil ke arah dua laki-laki yang aku sayangi itu. Aku peluk erat-erat ayahku. Beda. Pelukan ini terasa beda. Beda dari kebahagiaanku pada saat aku lulus ujian nasional di SMP dan SMA. Aku bukan lagi anak kecil ayah. Seakan-akan aku akan terpisah jauh dari ayah. Seakan-akan aku ingat dengan dentingan waktu yang berbaris kaku tanpa mau peduli akan manusia yang saling menyayangi di dunia ini. Seakan-akan aku meerasa bahwa aku terjebak di dunia yang juga terjebak sekedar di dalam dimensi ruang dan waktu. Aku tak bisa selamanya bersama dengan ayah. Aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam dadaku. Bukan karena mau sakit. Tapi sesak. Menyesakkan sekai mengetahui kenyataan bahwa suatu hari aku akan berpisah dari ayah. Tanpa terasa airmataku menetes juga. Lama sekali aku tidak berada dalam pelukan ayah. Kami terlalu sibuk dengan impian masing-masing. Walaupun kami sadar bahwa kami saling menyayangi juga. Ayah… Tubuhmu masih tegap berdiri, tapi aku tau ayah sakit. Hati ayah sakit. Ayah sakit karena perlakuan mama yang kekanakan. Ayah sakit karena walaupun begitu keras perjuanganmu untuk kesembuhanku, tapi ayah tau, waktuku tidak akan selama yang ayah kira, atau bahkan, untuk mengira-ngira pun tak pernah ayah berani. Aku tidak akan bisa menjaga ayah di masa tuanya. Ayah sendiri. Ayah kesepian. Kini aku paham kata-kata ayah tentang manusia yang tidak pernah sempurna. Aku sedih. Sedih. Tangisan ini karena aku bersedih. Sepuluh taun terlampau lama untuk penyakit ini. Maut bisa datang sewaktu-waktu. Aku takut. Tangan Vino memeluk kami berdua juga. Saat aku merasakan hangatnya tangan Vino, aku jadi makin takut. Aku tidak berani menatap wajah mereka berdua. Aku begitu takut membayangkan wajah mereka saat nyawaku di ujung tanduk. Aku takut tak bisa bisa memeluk mereka lagi. Sekarang baru aku merasakan… Aku benar-benar takut dengan kematian…”

***

“ Tiga bulan berlalu. Aku telah jadi psikolog di RSUP dr. Sardjito. Aku jadi tempat curhat anak-anak penderita kanker, jantung, autoimundisis, leukemia, thalasemia, bahkan juga tempat curhat orangtua dari anak-anak itu. Aku mersakan sebuah keindahan di pekerjaanku yang baru ini. Membagi kasih sayang adalah sesuatu hal terindah yang bisa kulakukan. Psikolog bukanlah orang yang memaksa orang lain untuk menerima. Justru kami harus bisa menyesuaikan diri dengan kejiwaan si pasien. Jangan terlalu terpaku pada teori. Karena itu menyebalkan sekali. Terkesan seakan justru psikolog itu yang sok tau. Anggaplah pasienmu itu dirimu sendiri. Maka kejiwaan mereka akan lebih stabil karena kemampuan kita menyelami. Mereka akan merasa terlindungi. Mereka akan merasa bahwa mereka tidak sendiri. Itulah indahnya kasih sayang. Duniaku kini tidak lagi kecil. Aku merasa besar waktu aku bisa melihat optimisme di mata dan senyuman mereka. Walaupun saat mereka lari-lari di lorong bangsal, di belakang mereka ada ibunya yang mengejar-ngejar sembari memegang infus. Lucu sekali. Indah…”

***

“ Seperti biasanya, Vino menjemputku pulang kerja. Malam itu dengan tumbennya dia mengajakku ke kaffe kampus. Dia bilang, ingin sekedar bernostalgia. Yah, berhubung aku juga lapar, ikutlah aku. Kami duduk di meja nomor 02. Meja di mana pertama kali aku bertemu dia. Aku masih ingat. Tampilannya dulu benar-benar berbeda. Sekarang dia jauh lebih rapi.
Waktu itu aku meminum cokelat panas. Enak dan hangat sekali. Tiba-tiba Vino mengambil gitar dari mobilnya. Tiba-tiba juga aku ingin memilin-milin rambutku, kebiasaanku saat kecil dulu, walaupun sekarang sudah setahun aku berjilbab, tapi sering lupa. Di hadapanku dia nyanyikan lagunya Padi yang ‘Harmoni’. Petikannya bagus sekali. Saat melihat dia tampil, ingin rasanya aku rapikan rambut ikalnya yang mulai gondrong. Suaranya bariton. Wanita manapun pasti klepek-klepek kalau melihat laki-laki semanis Vino bernyanyi dengan cara seperti itu. Termasuk aku. Selesai menyanyikan lagu itu, Vino duduk manis di depanku. Aku tepuk tangan dengan jayusnya, aku akui aku sudah lama tidak melihatnya main gitar. Dia nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang entah gatal atau tidak.
Beberapa detik kemudian Vino mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Kotak kecil berwarna hitam dengan pita perak yang lucu sekali. Dia raih tangan kananku. Dia pakaikan cincin emas putih dengan ornamen anggrek bulan di sekelilingnya itu ke jari manisku. Suaranya indah sekali saat bertanya apa aku mau menikah dengan dia. Sejujurnya ini adegan yang aku benci saat menonton film romantis, karena biasanya perutku langsung sakit mendadak. Tapi detik ini aku senang. Saking senangnya, aku bengong. Saat sadar, tanpa pikir panjang, aku jawab. Iya… Dan dia kelihatan senang sekali. Senyumnya mengembang seperti anak kecil yang dibelikan es krim oleh ibunya. Beberapa detik kemudian Vino menunjukan cincin yang sama. Tapi cincin itu dipakainya di kelingking. Konon katanya kalau ukuran jari manis si perempuan sama dengan ukuran kelingking si laki-laki, berarti mereka berjodoh. Dan itu berlaku bagi kami.
Malam itu aku dan Vino bahagia sekali. Hubungan kami pun sudah direstui oleh ayah dan ibu Vino. Mereka menganggap bahwa, sejak Vino denganku, dia makin rajin kuliah dan dia mengurangi rokoknya secara bertahap sampai akhirnya dia berhenti merokok. Dan hal itu membuat mama dan papa Vino senang.
Sebenarnya aku tidak ingin mengucapkan kata ‘tapi’ dalam setiap akhir kalimat kebahagiaanku. Walau begitu, kenyataannya begitu banyak kata ‘tapi’ yang harus aku katakan. Aku dan siapapun tidak pernah tau akan apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi segalanya bisa diprediksi dengan logika dan ilmu pengetahuan yang logis. Kalimat berisi kata tapi yang ingin aku ungkapkan adalah bahwa, staminaku menurun. Aku mudah lelah akhir-akhir ini. Tempat yang paling aku rindukan untuk diriku sendiri sekarang adalah tempat tidur. Aku mudah sekali menjadi lelah. Padahal aku sudah minum ospen 2 kali sehari, dan suplemen tiap pagi dan menjelang tidur. Tapi itu semua tidak menolong staminaku. Aku sudah tidak kuat lagi menaiki tangga. Pertanyaanku hanya satu. Apakah aku sudah masuk ke proses degenerasi yang lebih lanjut?”

***

“ Hari ini aku dan Vino akan ke penjahit untuk mencoba baju yang sudah dipesan untuk pernikahan kami. Kami tidak cuma berdua. Tapi ayahku dan orang tua Vino juga ikut. Ibu Vino baik sekali kepadaku. Aku sudah menganggap beliau seperti ibuku sendiri. Kami begitu dekat. Sampai-sampai aku belajar memasak pun dari beliau. Wajahnya mirip sekali dengan Vino. Sangat terlihat kalau ibu itu baik dan sabar. Mirip dengan Vino. Parasnya tidak begitu cantik tapi menyenangkan untuk dipandang. Mungkin karena kebaikan hatinya yang memancar sampe ke wajah.
Aku coba gaunku. Lalu aku liat diriku sendiri di cermin. Cantik. Gaun ini cantik sekali. Warnanya putih. Ada ornamen-ornamen anggrek kecil di lengan dan juga rok nya. Jilbabku pun tidak kalah cantik. Ada bunga anggrek ungu di sisi kirinya. Hanya kurang satu. Wajahku pucat. Bibirku pecah-pecah dan kadang berdarah. Entah mereka sadar dengan kondisiku atau tidak, tapi aku lihat mereka begitu antusias, apalagi ayahku. Beliau bahagia sekali. Wajahnya yang mulai menua membuatku takut, aku takut meninggalkan beliau, aku takut bila tak mampu mendampingi ayah di masa tuanya. Berkali-kali aku mengatakan hal itu. Aku sangat takut.
Waktu aku akan melangkah meninggalkan cermin itu, aku merasa nafasku susah sekali untuk dihela. Sesak sekali rasanya. Aku hanya bisa memegangi dada ini. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan aku tidak lagi ingat apapun. Aku hanya bisa merasakan tangan hangat yang merengkuh tubuhku.”

***

“ Ruangan ini sepi. Warnanya putih. Tadinya samar-samar, karena mataku sulit sekali dibuka. Tetapi sekarang semuanya jelas. Aku mengenali suasana ini. Ini suasana dari rumah keduaku. Sudah belasan kali aku menginap di sini. Aku merasakan di tangan kananku ada selang infus yang masih aktif mengalir, di tabungnya tertulis ‘KA-EN3A’, itu adalah cairan infus standar untuk asupan nutrisi makanan, di ujung jari telunjuk kiriku ada detektor detak jantung, di sebelah kiri bed ada layar detektor detak jantung, lalu aku merasakan sesuatu yang menekan hidungku sampai aku tidak bisa bicara. Di sebelah kananku ada tabung oksigen, oh, jadi di hidungku ini ada selang oksigen untuk bantuan nafas, aku sudah hafal betul dengan hal ini. Aku kumat. Tapi kali ini benar-benar berbeda. Aku merasakan sesak yang teramat sangat sampai bicarapun aku tak mampu. Tanganku sulit diangkat, sakit sekali, kakiku juga. Seluruh persendianku rasanya luluh lantak. Maklum, dokter Candra mengatakan padaku bahwa, pada saat kumat, persendian besarku akan bengkak dan nyeri seperti orang rematik, maka dari itu untuk istilah awamnya penyakit ini juga disebut ‘Rhematoid Fever’, atau ‘Demam Rematik’.
Aku lihat pintu dibuka. Lalu muncul ayah, Vino dan orangtua Vino. Reaksi Vino cepat sekali waktu melihat mataku terbuka. Dia langsung memanggil dokter. Aku melihat ke ayah. Reaksi ayah tidak berlebihan seperti yang aku lihat di media-media sampah saat adegan ayah yang melihat anaknya terbaring di ICU. Beliau tetep tenang, walaupun aku tau hatinya kawatir. Dan kekhawatiran itu adalah hal yang manusiawi. Mungkin ketenangan itulah yang membuatkuku jadi optimis akan diriku sendiri, karena aku melihat ketenangan ayah. Wajah ayah seakan memberiku isyarat bahwa aku tak apa-apa, aku akan baik-baik aja, aku aman… Meskipun sebenarnya aku tau apa yang terjadi. Dan ayah pun tau bahwa aku tau apa yang terjadi.
Dokter Candra memeriksaku, ingin sekali aku berkata sesuatu pada mereka. Tapi aku tidak mampu. Aku tidak kuat. Jangankan berkata-kata. Tanpa bantuan oksigen ini pasti aku kehabisan nafas. Dadaku sakit sekali rasanya. Belum pernah aku mengalami kesakitan sampai seperti ini.
Aku merasa waktu makin kaku berbaris. Dia tidak mau lagi menoleh dan peduli dengan apa yang terjadi pada umat manusia. Aku tidak bisa lagi mengejar barisan kaku sang waktu. Kakiku terlalu lemah untuk mengejar, tanganku terlalu pendek untuk meraih, dan asaku pun sedikit banyak telah menguap dengan kenyataan yang akhirnya dihadirkan oleh waktu bahwa aku sakit lagi. Dan aku pun sudah tau bahwa suatu saat aku akan mengalami proses degenerasi lanjutan. Dan itu artinya…”

***

Kondisiku mulai membaik. Aku sudah bisa bicara. Bahkan duduk. Kursi roda ini membawaku ke taman depan bangsal Cempaka Mulya. Di sebelah kananku ada gantungan infus dan infusnya sendiri. Di belakangku berdiri orang yang paling aku sayangi. Vino. Dia mendorong kursi roda ini dan membawaku keliling rumah sakit. Kita membicarakan banyak hal. Ingin sekali aku berkeluh kesah tentang ketakutanku yang akan terjadi dua minggu lagi. Aku akan menjalani operasi. Aku tidak takut dengan operasi itu. Aku juga tidak takut dengan resikonya. Tapi aku takut kalau aku gagal dalam operasi itu, maka aku tak akan pernah bisa bertemu mereka. Karena… kemungkinan berhasil untuk operasi jantung ini adalah 30%. Selebihnya… meninggal di meja operasi.
Aku tahan segala resahku kepadanya. Aku tak ingin Vino tau aku takut. Aku berusaha tenang. Tapi akhirnya keluar juga percakapan yang paling memuakkan. Tapi pada akhirnya aku tau betapa sucinya hati Vino. Beda sama sekali dengan tampilannya yang sempat seperti gembel.
“ Vin, aku sakit.. aku tidak cantik seperti teman-temanmu. Bahkan untuk berjalan pun sekarang aku sudah tidak kuat. Beberapa tahun yang lalu pada saat aku bilang padamu kalau aku sakit, pasti kamu sudah tau kan bahwa hari ini akan datang? Hari yang paling menyakitkan buat kita. Aku tidak akan bisa membuatmu bahagia. Aku sakit. Masa depanku akan berhenti di ranjang rumah sakit juga. Tapi kenapa.. Kenapa kamu tetep setia denganku. Sabar dengan semua yang ada dalam diriku. menerimaku apa adanya. Aku mau pada saat aku sudah tidak lagi berpijak dalam dimensimu… kamu carilah wanita lain yang jauh lebih baik dari aku… Lebih cantik, lebih baik, lebih pintar, dan… Lebih sehat… Iya, lebih sehat...Tolong Vin…”
Mata Vino terlihat emosi… Dia mendongak ke arah langit. dia ambil nafas sebentar, dan kemudian mengeluarkan hembusan nafasnya…
Lalu dia tatap aku dengan pandangan mata yang sejuk tapi tajam…
“Ran… aku bukan orang bodoh yang bisa tertipu dengan tampilan luar dari orang lain. Kalau kamu bilang kamu tidak lebih baik dari orang lain… Itu bukan Ran yang aku kenal. Kamu lebih indah dari bunga manapun yang pernah aku temui. Kalau kamu mau aku cari perempuan seperti yang kamu sebutkan tadi… Hahahaha... Kamu pikir aku sebodoh dan sepicik itukah dalam menilai orang lain? Ran, kamu perlu tau… memang pada saat aku lihat seseorang yang jelas terlihat sempurna, aku langsung bisa menyimpulkan berdasarkan pandangan mataku bahwa perempuan itu sempurna. Karena memang gampang untuk melihat kecantikan luarnya dengan mata kepala ini. Tapi kamu… kamu beda Ran. Tidak semua orang bisa melihat keindahanmu. Karena memang sulit. Sulit. Hatimulah yang indah… Aku beruntung sekali hatiku dikaruniai mata yang sanggup melihat keindahan yang sebenernya. Bukan kepalsuan yang aku inginkan dari kamu. Tapi ketulusan dan kejujuranmu untuk aku. Aku tidak butuh kepalsuan, aku butuh kamu. Senyum yang tulus dan jujur. Pandangan mata yang teduh tanpa prasangka dan pamrih. Kecerdasan dan kesabaran dalam menjalani hidup. Itu kamu Ran. Hanya itu yang aku inginkan. Bukan semata warna-warni fana ataupun lekuk yang memabukkan. Tapi kualitas dari seorang Ran… Anggrek yang cantik dan Tegar. Kamu lebih indah dari siapapun Ran,, kamu berharga… aku butuh kamu bukan untuk kupajang, tapi untuk aku cintai…”
Jawaban dari Vino membuatku aku sedih. Tapi aku juga bahagia. Begitu beruntung aku dipertemukan dengan orang seperti Vino. Pandangannya matang. Hatinya suci. Aku sedih karena aku tidak tau sampai kapan aku bisa ada di sini dengan Vino. Aku tau… Aku tidak akan pernah memakai gaun yang sudah kami pesan. Aku tidak akan pernah mengarungi bahtera pernikahan dengan Vino. Aku tau itu. Dan aku sedih sekali. Aku sedih… Sedih…”

***
“Proses anastesi sudah dilakukan oleh tim dokter yang akan mengoperasiku. Segalanya sudah disiapkan. Aku, ayah, Vino, orangtua Vino, dan teman-teman kami cuma bisa mendoakan yang terbaik buatku. Aku diantar mereka ke ruang operasi. Ruangan ini gelap di setiap sudutnya. Di tengah ruangan ini ada lampu yang jumlahnya delapan. Dan terang sekali. Aku terbaring tepat di bawahnya. Terang sekali. Terang… Terang sekali... Sangat terang… Dan tiba-tiba gelap begitu saja…”

***

“ Suara khas ini lagi…
Detektor detak jantung. Suara tetesan infus. Tapi rasanya sepi. Aku buka mataku. Dan memang benar-benar sepi. Aku hanya sendiri di ruangan ini. Ini ICU. Artinya aku sudah selesai menjalani operasi itu. Lebih jauh lagi… Operasi ini berhasil… Aku selamat… Dadaku lebih ringan rasanya. Tidak terlalu sesak lagi, walaupun masih sedikit. Aku melirik ke luar ruangan ini karena memang ada kaca tembus pandang. Tak ada siapapun. Tiba-tiba aku melihat sekelebat baju putih menuju ke ruangan ini diikuti beberapa yang memakai baju putih juga. Meraka tim dokter. Mereka mau memeriksa keadaanku. Keluarga dilarang masuk, karena ini ruangan steril. Aku tidak bisa bicara. Badanku masih sakit seluruhnya.
Setelah dokter Candra dan timnya keluar, Vino masuk dengan pakaian steril… Matanya merah dan sayu. Kelihatan sekali kalau dia tidak tidur. Perlahan dia mendekatiku. Dia usap rambutku dengan tangannya. Aku merasakan energi yang luar biasa dari dia. Aku merasa kuat lagi. Aku merasakan kasih sayang yang begitu besar dari Vino. Aku tatap matanya, rasanya ingin aku sentuh wajahnya yang terlihat lelah. Tapi aku lemah. Tanganku sulit digerakkan. Mulutku pun sulit sekali berbicara. Mungkin karena selang oksigen di hidungku yang membuat bibirku berat digerakkan. Tangan kananku berusaha untuk menyentuh wajahnya. Dan aku bisa. Kami larut dalam kebahagiaan. Aku selamat dari operasi ini. Dia cium tanganku. Aku merasakan suatu cairan hangat di wajahnya. Baru pertama kali aku lihat Vino menangis. Aku pun menangis. Ujian ini begitu berat bagi kami. Walaupun badanku luluh lantak rasanya. Tapi aku bahagia masih diberi kesempatan supaya aku bisa melihat wajahnya. Sedikit banyak kami bahagia.”

***
“ Bangsal VIP cempaka mulya nomor 07.
Ruangan dimana aku dirawat inap. Setelah menjalani proses EKg (Ecco Kardiografi), rekam jantung, cek darah rutin standard dan berbagai macam check up lain, bisa disimpulkan bahwa keadaan jantungku mulai membaik. Tapi sekarang aku masih dalam masa rawan infeksi. Jadi aku harus mengkonsumsi ospen sampai duabelas setengah butir sekali minum dan minumnya tiga kali sehari. Hal ini dilakukan untuk mencegah infeksi yang bisa saja terjadi setelah masa operasi. Apalagi operasi jantung.
Keadaan jantungku boleh membaik. Tapi kondisi syarafku bermasalah. Suatu hari aku mencoba menggerakkan badanku. Tapi… Tangan dan kaki kiriku mati rasa. Aku tidak bisa menggerakkannya sama sekali. Aku menangis… Aku sedih… Aku takut sekali… Di ruangan ini aku menangis sendiri dan ketakutan… Ingin sekali rasanya aku berteriak supaya bebanku sedikit reda… Tapi dadaku sakit karena bekas jahitan operasi. Isakan tangisku ternyata didengar oleh Vino… Dia ada di sofa ruanganku… Menjagaku…
“ Vino… aku takut… aku bener-bener takut Vin… Badanku sakit semua… Sekarang aku lumpuh… Lumpuh Vin… Aku bener-bener tidak akan bisa jalan lagi… Aku tidak akan bisa jadi psikolog lagi, aku tidak akan bisa menulis, aku tidak akan bisa bermain gitar, piano… Semuanya… Aku sudah tidak bisa melakukan apapun Vin… Hidupku sekarang cuma sekedar bernafas… Dan itupun sulit… Aku lumpuh Vin… Aku sebentar lagi akan…”
  Tak kuasa lagi aku bicara… Airmataku sudah keluar semua… Dadaku sudah cukup sesak karena mengeluarkan airmata dan ucapanku yang putus asa itu… Aku benci hal ini, aku benci dengan keputusasaanku… Memang sebenarnya hidup ini sudah drama dan tak perlu didramatisir sama sekali… Tapi drama ini begitu sakit… Aku terjebak… Terjebak dalam kondisi ini… Aku hampir putus asa…
Vino hanya mampu menunduk dan menahan tangisnya… Kepalanya bergetar... Airmatanya tidak bisa lagi dia tahan… Sangat terlihat kalau dia tidak ingin menujukkan kesedihannya di hadapanku… Tak lama kemudian Vino peluk aku… Erat sekali… Tangisannya pun bergetar di telinga kiriku… Vino juga sedih… Dia tidak ingin mengakui bahwa hidupku sudah di ujung tanduk… Tidak ada lagi wajahnya yang ingin membohongi bahwa aku baik-baik saja… Kami sama-sama tau apa yang akan terjadi… Kami sama-sama takut kehilangan…
“ Ran… kamu akan baik-baik saja Ran… Aku di sini… “
Bohong… semuanya bohong!! Aku tidak akan baik-baik saja. Tangisanku sudah tak bisa ditahan lagi, seakan aku sudah tak peduli lagi dengan bekas jahitan di dadaku yang belum kering. Aku terlampau lemah untuk pura-pura tegar dalam keadaanku ini. Ketahananku sudah hilang. Semua yang kupelajari di bangku kuliah tentang optimisme menguap begitu saja karena kondisiku yang sudah tak bisa tertolong lagi. Hatiku begitu sakit. Aku sama sekali tak siap.”

***
“ Segalanya masih sama… suara lembut tetesan cairan infus. Dan separuh badanku yang lumpuh. Ranjang ini juga tetap hangat karena aku tak pernah sekalipun beranjak dari tempat ini. Segalanya masih sama. Kecuali… tiba-tiba nafasku sesak sekali. Kepalaku sakit. Tak ada sedikitpun udara yang mampu aku hirup. Dadaku sakit, seakan banyak jarum yang menusuk-nusuki dadaku ini. Sakit.. Sakit... Kepalaku pusing dan sakit sekali, aku tak tau harus bagaimana. Suaraku tak bisa keluar. Bekas jahitan operasi ini terlampau hebat untuk aku saingi. Tiba-tiba aku tidak bisa merasakan apapun, sedikit banyak aku melihat kelebatan jas putih di sekelilingku. Mereka semua menyentuh badanku dari ujung kepala sampai kaki. Tapi badanku mati rasa oleh sentuhan mereka. Semuanya tak berarti dibandingkan rasa sakitku yang luar biasa ini. Mendadak… Terlintas semua kenangan di otakku tentang diriku sendiri… tentang ayah… tentang mama… tentang Vino… semuanya … semua… semua kenangan pada saat aku kecil dulu sampai sekarang… Kenangan itu muncul begitu saja seperti slide show… Mendadak semuanya gelap. Tapi… Sakitku hilang… Ringan… Bahkan aku tidak merasakan kalau aku bernafas… Tapi tidak sakit sama sekali… Lalu secara cepat… Semuanya menjadi terang… I lose my pain… All my pain…”



***based on a true story of my firend :)

Belajar Berfilosofi tapi geje... imagination beyond the common, *imajinasi ra umum intine*

Mbak kos Ada yg wisuda. Jadi mikir kapan ya aku wisuda, . . . .???


Rainy Ayu Gustira Aku gag wisuda kayaknya...

Arista Ferdiansyah, Kok mikir wisuda,tugas kanggo senen wae rung tak garap. .hohoho.

Rainy Ayu Gustira Senen ki ono opo to??

Arista Ferdiansyah : ya,,,english for bussnes cintaaa. yah yu know me so well lah,,,,rung garap hehehe.
koe bagian opo e rain?

Rainy Ayu Gustira: Aku company visit arr, hehe
*Drpd kon ngono mending aku sinau sejarah uripe shakespeare, t.t

Arista Ferdiansyah: dari pada ngono..mending nonton spongbob wae lah....

Rainy Ayu Gustira: Mending kon gawe poetry nggo gawe muntah2 uwong aku ar, kyakya


Arista Ferdiansyah: love is like rain, it can't be guessed when it would be fall.
And sometimes: after rainfall, the sky will be bright but or even become darker.
It seems like love that can makes me bright like summer and even makes me gloomy, can break me down.

Rainy Ayu Gustira: So I'm the "love" itself,
Hwahahaha, :*

Arista Ferdiansyah: hahaha,,,,,okelah. proof rain, bener ra wi...?
saiki ganti oe gae poetry nggo aku ndang....

Rainy Ayu Gustira: Prove, zzzz

Our love's like tempe, we are the soya beans, and united by the fungus, then we can be together and not be separated, being in unity, in tempe, in love..
Klepek2 rung?

Arista Ferdiansyah: ahihihi..kok malah gombal2 lan og piye.hahaha

yez. I like tempe. I like my love. so, our love is tempe.
whataver the kinds of tempe. I do love tempe.

Rainy Ayu Gustira: Yes, esspecially perkedel tempe, with various flour and vegetables in it, to add the taste of our love, dear...
hwahahaha

Arista Ferdiansyah: moreover mendoan tempe that mixed with green onion and a thick the dough og flour make it so crunchy. this is to add the delicious of tempe. similiar to love, if we know how to seasoning love, it makes the love so tastefull. :)


Rainy Ayu Gustira: Yeah, sometimes we bite our own tongue when we want to taste the tempe, the love... Our curiousity to love, sometimes hurts us, so be careful to play with ur tongue when u want to taste mendoan, be careful with ur heart when u want to taste ...the perfection of love, :*


Arista Ferdiansyah:It needs someone who understand how to make tempe well. To get the perfection of tempe.
Well, tempe is kind of dishes that we love, but u know how our feel if we are forbidden to do not eat tempe. I cant imagine that. It's so hard. But can u... imagine, the tempe contains poissonous to us? Is it could kill or cure me?


Rainy Ayu Gustira: Hahaha, love has both, poisson and medicine, just like two sides of coin, cant be separated,
We can never taste perfection of love, cos its so relative, we can say our tempe is perfect, but others dont..
We dont have any absolute measurement ...bout it, hmmm

*Philosophy of tempe*

Arista Ferdiansyah Haha. .kenapa philosopi speaking dulu gag tempe ya..


Rainy Ayu Gustira: ak pengene y ngono ik, asik yo?
benda2 aneh di filosofikan, hahaha

Arista Ferdiansyah: hahaha. . .
Suatu saat ciduk pun juga punya philosophy paling.

Rainy Ayu Gustira: ayo, kita diskusikan filosofi ciduk. . .
hahaha

Arista Ferdiansyah: Ciduk is kind of place for water to help us cleaning a dirty something. Without ciduk it's imposible to get clean body, fresh body. So ciduk made us fresh, like a love too.


Rainy Ayu Gustira: so, ciduk is like us, ones that can feel, touch and bring love. . .
how much water that ciduk can feel, touch and bring, depends on the size and capacity of the ciduk. . .
just like us, it's just how much we deserve to feel touch and bring lo...ve. . .
of course it depends on our capacity as human. .
so, just make ourselves as deserve as possible for love,
hyahaha

Arista Ferdiansyah: make ourselves as deserve as possible like ciduk that fill each other and complement each other with water.
without water ciduk doesnt has a function, as well ciduk it doesnt has a function without water.

Rainy Ayu Gustira: aku uwes speechless, hwahahahahaha

Arista Ferdiansyah: aku luweh speechless....hahahaha.....


*percakapan dua janda*

Jumat, 01 Juni 2012

Entahlah...

Saya kadang menganggap blog ini sebagai semacam buku harian saya, dikarenakan buku harian (harfiah) saya hilang..
iya, semua orang boleh membacanya..
semua orang boleh membaca pikiran saya, hidup saya.. pada akhirnya..
Tak apalah, toh saya bukan siapa-siapa..

Waktu itu aku bertemu seseorang dengan ciri fisik yang berbeda denganku. Bolehlah aku sebut dia laki-laki.  Awalnya, biasa saja. Ah, kok jadi seperti lagu.. Lama kelamaan kami mendekat, bukan mendekat, tapi dia yang mendekati.. Dia ternyata menyenangkan. Sangat menyenangkan.

Kami sering membicarakan hal-hal aneh dan ajaib, yang bukan dengan lawan jenis aku sering bicarakan, lebih tepatnya lawan jenis sesama usia. Orang malas seperti dia membicarakan teologi agama, hahaha. Ternyata dia pintar, sangat pintar menghafal. Entah yang lainnya...

Dari sekedar hal-hal sederhana, membahas puisi, membahas buku, membahas agama, lalu akhirnya, membahas wanita. Sialan, ternyata dia punya wanita. walaupun aku tau, wanitanya tidak bermutu. Waktu itu aku berfikir untuk tidak mengganggu. Namun yang aku tau, sudah lama wanita itu mau ditinggalkan. Ah, menurutku dia hanya butuh alasan tepat untuk segera mengakhirinya, kupikir aku bisa, ah, lewat juga kamu tan, setan.

Aku tau, laki-laki ini bukanlah laki-laki modern atau bahkan post-modern yang akan sudi mengakui keunggulan wanita. Maka mengalahlah aku. Aku tau laki-laki ini suka didengarkan dan tak suka dibantah, maka mendengar dan tak membantahlah aku. Aku tau laki-laki ini bangga menjadi laki-laki, maka berbanggalah aku. Lalu, datang juga saat kelemahannya tampak, maka menolonglah aku.

Hanya tolong-menolong seadanya. Aku ajarkan padanya hal-hal yang  kumampu untuk membantu. Tanpa bertindak seakan guru. Aku sentuh birahinya melalui seleranya makannya, lalu kukenyangkan perutnya. Aku kenyangkan juga keinginannya untuk mampu berbicara, mulai mampu berfikir, mau mengakui kaumku, kaum wanita. Tentu, dengan kelebihanku sebagai wanita juga.

Lalu terdengar slentingan gila, wanitanya dia campakkan, entah karena apa. Saat itu mana aku percaya? Hubungan bertahun-tahun itu kandas? Ah, gila dia. Tapi wajar juga, aku tau, wanita itu tidak bermutu, mungkin lelakinya juga.

Lama waktu berselang, aku mulai tak pernah memikirkannya, ingat kalau suka pun tidak. Ingat kalau pernah berfikir mendekati pun sulit untuk sudi. Ingat kalau dia itu tampan saja aku heran. tapi, lebih heran lagi saat dia mendekati kembali. Iya, dia mendekatiku kembali saat aku sudah bahagia menikmati hidup sebagai pribadi yang sendiri.

Dia bilang dia suka. Dia bilang dia sayang. Dia bilang aku berbeda. Ah yang terakhir itu sialan, seakan dia ingin membandingkan. Rayuan-rayuannya memang maut. Matanya pun bulat bagaikan mata anjing. Jernih dan tidak membosankan. Sayangnya aku sudah muak. Entah dimuakkan oleh hal apa. Dimuakkan oleh pertanyaan-pertanyaan atas perasaan yang kumiliki atasnya mungkin. Atau, perasaan muak karena perasaan mampu yang kumiliki untuk mendapatkannya.

Waktu masih berjalan dalam iringan senyumannya. Menyenangkan. Sayangnya aku tak mampu menjawab barang sepatah kata. Pikiran ini hanya berkecamuk dalam pencarian sifat-sifat yang sering tersesat di sela-sela semesta diri. Seperti santan perasan, yang keluar hanyalah senyuman, sembari menatap mata bulat dan indah itu. Aku sentuh pipinya. Aku dengarkan dan rasakan juga helaan nafas beraroma tembakau. Detakan jantung yang membuat penasaran, pundak dan dada yang nyaman untuk dijadikan sandaran. Tapi, benarkan yang aku rasakan? Atau hanya sekedar pelampiasan? Menguji kemampuan?

Aku pergi meninggalkannya sendirian. Memenangkan permainan. Kemenangan yang harusnya patut dihiasi dengan tawa dan perayaan. Namun, langkah ini hanya ditemani oleh tangisan. Hampir terisak saat pikiran ini tak sangaja mengenangkan siapa diri ini. Sambil menatap telapak kanan bekas menyentuh sebuah pipi, aku teringat kata-kata sahabat, "Kamu punya dirimu untuk kamu jaga, dirimu sendiri adalah tempat teraman untuk hatimu, sahabatku." Lalu aku menangis, tersenyum, bersorak... Aku menang...

Kamis, 31 Mei 2012

Intermezzo :)

To fall in love is a decision
then to you I've got the reason
The reason to decide
The reason to always hold you tight
red, like crimson.
well, it's you to rely on.


*I wrote this in the 5th semester when I was bored in Mr. Sugi's class, poetry class, hahaha

Sabtu, 12 Mei 2012

Sampah

Aku tdk pernah tau apa yg sedang aku tulis hari ini, malam ini.
mungkin sampai di akhir tulisan sekalipun.
berceritapun mungkin bukan, hanya seperti orang gila yang berbicara kicauan yang tak lebih dari racauan gila..
ah, maaf, orang gila pun punya ceritanya, aku? tidak.

aku hanyalah perempuan gila yang terjebak di sebuah tempat bernama masa lalu.
masa lalu yang tak lebih dari sebuah bualan gila yang dihembuskan lelaki gila, pembual cabul !
dan aku? percaya dengan bodohnya.
biarlah, aku pikir
mungkin dengan itu aku mampu belajar untuk lebih tegar, lebih kuat dan mampu, begitu menurutku.

aku pikir aku telah terbang jauh melampaui batas kemampuan wanita biasa,
aku pikir aku telah meninggalkan wanita dan airmata laknatnya,
iya, laknat.
aku benci airmata.
sangat benci,
airmata membuat dadaku sesak dan sakit.
sama sesaknya saat kamu dengan tanpa belas kasih menindihku seperti kuda tunggangan.
sakit, demi Tuhan itu sakit.
dan kinipun, aku meneteskannya lagi, sakit.

saat aku bertemu makhluk-makhluk sejenismu,
aku hanya hinakan mereka
iya, aku pikir mereka sama hina,
tersenyum manis bagaikan dilumuri gula yang... manis
selalu di dalam pikiranku, dibalik gula di bibir itu ada mani sialan yang menunggu dimuncratkan.
gila, mereka semua gila.
meskipun gila, kamu pikir, mereka, kalian pikir aku tidak bisa lebih gila?
kamu pikir, mereka dan kalian pikir aku tidak bisa memainkan dengan hanya diam?
hah?
kamu, mereka dan kalian memang brengsek !
laki-laki brengsek !
tapi aku lebih brengsek !!!
aku diam pun aku bisa melukai, tak perlu aku repot memamerkan apa yang aku punya.
aku wanita, aku diam dan aku bisa mempermainkan, mengerti?
iya? iya kalian semua mengerti.

sampai sekarang, bahkan saat aku mempermainkan,
seakan permainan itu hanyalah sebuah kepura-puraan yang kosong.
tanpa isi, isi apapun, benar-benar tanpa isi.
kamu tau apa? apa? hah? apa?
biarpun aku mampu bermain, aku tetap menangis seperti orang gila saat melihatmu!
aku hanya bayangkan, apa yang kamu lakukan dengan sejenisku itu?
apa? apa yang kamu lakukan? sama? apakah sama dengan yang kamu lakukan dulu?
menyembunyikan mani dibalik gula yang sangat manis? hah?
kamu laknat! kamu gila! bajingan!

aku menangis bukan karena cintaku,
apa itu cinta pun aku mulai tidak mengetahui, apalagi mengerti.
benar-benar aku tidak mengerti, demi Tuhan, demi Tuhan!
Tuhan? apa? Tuhan? masih pantaskah aku menyebut Tuhan?
entahlah, akupun malu berhadapan dengan-Nya

tak berapa lama aku melihat kesalahan gila terjadi.
aku ingin bermain lagi.
aku ingin, aku mau
tapi aku tak mampu.
aku senang, aku dekat.
aku percaya,
tapi aku takut,
takut menyakitinya,
bukan, bukan dengan perasaanya atau perasaanku.
hanya, aku takut kata-kataku masih berasal dari lembaran masa lalu yang baiknya ditutup.
aku takut,
aku menangis,
dan
aku telah membahasakan masa lalu dihadapannya.
di hadapan kebrengsekan itu, iya di hadapannya.
Tuhan, aku takut, dan aku menangis dengan kata-kata di lembaran masa lalu.

Minggu, 15 April 2012

Kamasena


            Gaun saya indah sekali. Warnanya merah hati. Cocok dengan kulit saya yang serupa warna mutiara pesisir. Sepatu saya hitam mengkilat menutupi jari jemari yang berkuku rapi. Betis saya terpampang bagaikan punggung pisang, panjang dan jenjang. Dada saya terhunus ke depan seakan menantang siapa saja untuk menerka, seberapa berat dan kerasnya. Belahannya pun terpajang, membuat geli siapapun untuk bersembunyi di antaranya. Tangan saya bersih mengkilat seperti ditaburi butiran emas berkarat maksimal. Rambut saya panjang berombak dan tergerai bagaikan barisan tirai satin yang siap disibak dan dibelai. Bibir pun merah muda, seperti susu yang tenoda setitik darah, siap pula diteguk. Mata saya bertengger manja di tempatnya, seperti minta dicongkel lalu diremas hingga tak bersisa. Begitu cantik, sepertinya.
            Seseorang di depan saya pun tersenyum, senyumnya pun begitu indah, dan gagah. Jari jemarinya memegang jari jemari saya, saya pun tersenyum pula. Cengkeramannya kuat namun lembut seperti mengharapkan sesuatu lain dari diri saya. Wajahnya pun indah terkena cahaya lampu di antara kami berdua. Dia tersenyum menghiba, agak.
            Telah dua tahun kami bersama. Di dalam satu ikatan perjanjian, ikatan upacara, ikatan keluarga, ikatan rumah tangga dan bahkan ikatan ranjang yang sering kami tumpang untuk berperang. Terkejutnya saya saat diajaknya ke tempat ini. Tempat yang penuh kenangan. Tempat yang sering saya datangi sendirian, sekedar mencari ketenangan, menyegarkan ingatan.
            Dia tersenyum, selalu, menceritakan dengan manis, harapannya akan hadirnya anak manis di antara kami, yang tak kunjung datang. Dia tetap manis pada saya, tidak mungkin tidak, di depan wanita semanis saya. Kata-katanya selalu beraturan, seperti bola-bola Kristal yang berkilapan, indah. Dan di tengah ke tercengangan saya menatap matanya, sakunya berbunyi dan bergetar dan dia pergi sebentar. Sebuah panggilan mungkin, dari kerabat atau atasan atau bawahan.
            Saya pandangi sekeliling tempat ini, mewah. Beberapa pasangan berdansa di samping sana, sepertinya menyenangkan, menari dengan cinta. Saya pindahkan bola mata saya ke arah lain, sedikit sepi. Saya suka. Saya suka melihat sudut sana, di mana saya sering mendapati diri saya sekedar meminum kopi sendirian saja, tanpa barang siapa, seperti dahulu kala hampir setiap senja tiba.
            Saya tundukan kepala saya, membenahi jemari yang lelah merangkai kata. Lama sekali dia tiba. Lalu leher saya dicengkeram paksa oleh pikiran, supaya menoleh ke arah saya menyambut senja, dahulu kala.
Saya ingin melonjak, terkejut. Saya terkejut, Demi Tuhan. Itu apa? Saya tidak percaya kamu di sana ! Sosok itu lagikah? Sosok yang kunanti kedatangannya setiap waktu senja sambil merangkai kata?
            Seorang pria, berkaus merah tua, sederhana. Duduk dan tiba-tiba melihat ke arah saya. Sama terkejutnya. Saya tak mampu berkata, hanya menoleh saja. Mulut kami tetap terkatup, namun ku lihat mata yang bulat jenaka itu pun semakin membulat. Buyar. Otak saya buyar, ambyar. Tak mungkin saya tahan dengan mata jenaka itu. Hati saya meluap, jiwa saya melayang berhamburan ke arahnya saja, hanya raga ini tak mungkin bergerak. Saya terikat. Terikat entah oleh apa.
            Bibirmu mulai tersenyum, menyembunyikan keterkejutan yang kecut. Saya masih terkatup, mencoba menyimpulkan mulut, mata saling mengenang, berbicara, bergelut. Mengindahkan kerinduan akut. Saya rindu kamu, mas, dan di sini lah aku bertemu kamu, lagi.
            Dia datang kembali, dengan senyum mengembang, sama kembangnya saat dia menggeluti saya di ranjang lalu berhasil membuat diri saya menggelinjang sembari mengerang. Lagi-lagi wajah indahnya memaparkan senyum penuh perhatian dan cinta. Dia ajak saya berdansa, seperti yang lainnya. Saya mau, harus mau, begitu sepertinya. Saya maju, setelah dia tentu saja.
            Dipegangnya tangan saya, dan saya pegang tangan dia. Dilingkarkan tangannya yang satu ke pinggang ramping saya, saya gelantungkan tangan saya yang satu ke pundak dekat dada bidangnya. Mulailah dia menggerakkan kakinya, mulailah saya gerakkan kaki saya. Saya tak mahir berdansa, tapi dia bisa. Dipermainkannya saya dalam dansa itu, putar  ke sana kemari, dan saya tak mampu melakukannya seperti dia. Dalam pelukan hangatnya itu, mataku tercuri oleh kehadiranmu, mas. Saya tengok ke arahmu, selalu saat saya mampu, saat dia putar saya menghadapmu. Kamu diam dan menatapku, tanpa tersipu. Tanpa tersipu. Wajah saya mungkin membiru, beku. Seperti mayat yang baru saja mati dalam salju. Dingin, tubuh saya merasa sangat dingin, dalam kehangatan tariannya.
Ahh !! saya memekik lesu, kaki saya terkilir, tak mampu melanjutkan apapun. Saya tak mampu, memang benar-benar tak mampu jika harus berdansa dengannya, dipermainkannya bagai boneka. Sakit sekali, seperti ditusuki jarum besar dan tumpul. Dia terkejut, tanpa melepaskan pegangannya dari saya, dia papah saya ke tempat semula. Dia berlutut melihat kaki saya, ungu warnanya di pergelangan bawah. Lagi, saya mencuri pandang ke arahmu, malu, saya malu. Tanganmu kudapati menggenggam seakan ingin menahan kaki supaya diam di tempat. Matamu tidak lagi bulat. Tapi menajam seperti pedang. Saya menunduk lagi, ngilu dalam dan luar.
Kami pulang. Kamu tidak. Tapi, hatiku tinggal di sana bersamamu, mas. Saya tak mungkin bertahan hidup tanpa hati saya. Saya akan ambil lagi lain waktu, semoga.
***
Hujan rintik menghantarkan kedatanganku dan dia. Rumah sedemikian mewah dengan tangga menjulang ke atas dan dinding kuning yang mempertegas kehangatan dalam kemewahan ini. Kecantikanku tak pudar, meskipun ribuan memar menerpa tubuhku, katanya. Saat dia memapahku ke ranjang kesukaannya, ah kesukaanku juga? Baiklah. Dia obati memar saya dengan lembutnya. Saya tidak tahan, mana bisa saya menolak kelebutan seindah ini, mana bisa? Selesai itu, dia peluk saya. Saya diam, saya hanya tersenyum. Baginya, itu penyambutan yang wajar dari seorang wanita seperti saya. Iya, penyambutan yang sangat wajar. Penyambutan wanita baik yang dibungkus dalam diam.
Dia belai rambut saya, dipermainkannya pipi saya, lembut, penuh cinta. Lagi, dia berkata, “rumah ini begitu luas, siapa lagi yang akan meramaikannya? Semoga segera datang malaikat cantik kita, ya ma?” dipeluknya lagi saya, lebih kencang dari sebelumnya. Seakan dia lupa, beberapa detik yang lalu saya adalah telur mentah yang rapuh dan mudah pecah. Sekarang saya adalah ikan asin yang harus dikuliti hingga tulang belulangnya, diangkat ke sana kemari. Diputar-putar, dihisap hingga berbunyi, dan diresapi hingga terasa betul asinnya. Tak lebih dari ini, pada akhirnya saya hanya seperti ikan asin yang ditindih oleh senyummya yang mengembang, saat menyaksikan saya menggelinjang sembari mengerang, meski seperti dendangan sumbang.
***
Pagi yang begitu indah. Hanya semangat untuk diri saya saja saya memapah diri untuk bertahan dari luka yang masih bernanah di dalam tubuh, semenjak hatiku tertinggal di tempat itu, mas. Saya ingin mengambilnya lagi, tak lengkap tubuh ini tanpanya mas, tolong kembalikan lagi hatiku itu. Tolong.
***
Butiran obat serupa mutiara mungil pun saya telan. Tentu saja hanya dalam diam, tak satupun yang mengetahui. Tak satupun juga yang ingin tau, bagaimana saya mau dicintai. Benar-benar hanya dicintai, sebagai semata diri saya ini. Bukan semata apa yang mungkin kemudian saya atau kami miliki. Bisakah dia melakukan apa yang saya maui? Tentu tidak. Sepertinya tidak. Bukan hanya dia, tapi juga mereka. Mana mau mereka tau apa yang saya ingini? Yang mereka tau hanya yang mereka mau, dari onggokan batang tubuh dan tulang kecil ini. Mereka tak mau tau saya tak mau. Ya sudah, saya biarkan mereka tidak tau apa yang saya tidak mau. Maka selalu saya telan butiran mutiara mungil untuk penghambat ini.
***
Saya habiskan sore ini dalam diam. Seperti kebanyakan sore yang saya miliki. Oh, tidak, tidak hanya sore. Pagi, siang, malam… semua. Saya hanya diam. Semua waktu yang saya miliki hanya terkulum dalam senyuman kecut tapi manis dari bibir saya. Dan saya pun tak berusaha sedikitpun untuk menyimpulkan bibir saat ini. Saat saya merangkai kata-kata, bagi mereka yang kehausan akan karya saya. Di tempat ini mas. di tempat di mana saya selalu habiskan senja saat dahulu kala. Ah, saya? Kita.
Saya mencoba mengingat semuanaya. Saya tuangkan dalam rangkaian cerita berbalut cinta. Cinta yang indah pada awalnya, tapi binasa hanya karena mereka. Orang-orang gila. Saya tertawa, tiba-tiba, mengingat semuanya. Aneh, nyata. Siapakah sebenarnya yang gila? Saya atau mereka? Oh, bagi mereka saya, bagi saya mereka. Gila.
***
Saat itu saya hanyalah gadis muda biasa. Belajar giat tentang sastra. Menjadi penulis, itu keinginan saya. Saya dianggap cerdas oleh mereka, begitulah penilaiannya. Menjadi ibu dengan suami tercinta sebagai ayahnya, sambil tetap berkarya, itu keinginan saya. Suami tercinta, ingat suami tercinta. Begitu weling saya untuk diri saya sendiri, bukan apa-apa, hanya supaya saya bisa rela. Sebagai wanita di sebuah belantara penuh pria yang bisa dibilang, sebagai “penguasa”nya.
Saya bukan cuma penggemar sastra, saya penggemar musik juga. Kata mereka, suara saya bagus, wajah saya jelita, kurang apa coba? Tidak ada. Dan saat itulah saya bertemu kamu, mas. Aduh klise sekali. Bertemu dengan seseorang yang sama sama menyukai sesuatu, mempelajari sesuatu yang tak lain pula. Kurang apa sih? Tidak ada.
Sejak pertama bertemu tanpa tau namamu pun saya telah jatuh cinta, mas. Mungkin cinta dangkal yang didasari keindahan yang ditangkap indera mata saya yang tanpa cacat. Saya tidak ingin memungkirinya lho. Namanya juga wanita muda, tidak buta, bagaimana bisa mengabaikan pemandangan seindah kamu? Hahaha, saya tertawa.
Ah, mas, saya kagum dengan kamu. Benar-benar kagum. Terutama saat kita bernyanyi bersama. Rambutmu terjatuh ke alis dengan sempurna, tertunduk matamu mengarah ke dawai gitar yang kamu petik dengan indahnya, mengiringi suara alto saya. Saya tersenyum menahan geli, bukan apa-apa, saya terlampau bahagia, meski belum terlalu mengenal kamu. Lalu sesekali kamu melirik saya, dengan mata anak anjing yang bulat dan jenaka. Saya jadi teringat anak anjing yang kakak perempuan saya pelihara, manis dan jenaka. Senyumanmu pun menyimpul dengan sempurna saat saya gagal mencapai nada di oktaf ke-tiga. Hahaha, saya merasa jenaka, menyanyikan lagu kita dengan tidak sempurna, hanya karena suara saya yang kurang mencapai nada. Lalu setiap saya malu karena itu, saya bersembunyi di ketiakmu sembari tersipu. Ah, mas, saya masih ingat. Tidak terlalu harum, tapi saya suka. Mesra, tanpa kata, tanpa ikatan… bebas seperti angin yang bisa lakukan apapun, bisa terbang kemanapun. Bisa mengecup apapun.
***
Mas, saya sayang sekali dengan kamu. Meskipun kamu tidak pernah berdoa dengan cara saya. Meskipun kamu menganggap peliharaan saya sebagai makhluk najis yang bahkan tak boleh tersentuh. Kamu pun sayang dengan saya, sepertinya. Saya tidak berani bilang kalau saya suka, mas. ah, pengecutnya saya. Iya saya pengecut. Pada akhirnya saya diam saja. Benarlah kediaman saya tidak percuma. Karena pada akhirnya, kita bersama. Hanya kita berdua saja yang mengikatnya. Mana sudi Tuhan turut mengakui? Tuhan? Tuhan pastilah sudi. Rumah-Rumah itu yang enggan menolong kami. Menolong? Mana butuh kami ditolong. Kami saling mencintai, itu sudahlah cukup, buat saya dan kamu, bukan begitu, mas?
***
Rumah kuning nan megah ini lagi. Saya tersenyum kecut setiap melangkah di dalamnya. Mengapa harus begini? Mengapa saya harus se kecut ini? Semua ada, semua tersedia. Saya dilayani bak istri raja, meski di malam hari saya tak lebih dari kuda tunggangannya. Tapi, sepertinya, begitu memang keadaan yang seharusnya. Hahaha, lagi-lagi saya tertawa.
Saya mengingat lagi, saat dulu dengan kamu. Di sawah, di kebun, di mana-mana. Tapi, bukan di gedung macam ini, mas. Gedung? Ah, maksudku, rumah. Di sana, saya kamu ajak berkeliaran, melihat petani yang tertawa lepas dan bahagia. Ah, saya juga bahagia melihat mereka. Entah saya bahagia karena mereka, atau karena lengan kirimu yang selalu tertempel di dada kananku setiap kita berlalu? Entahlah, yang jelas saya bahagia dengan keadaan itu, waktu itu.
Saat mengingat hal-hal itu, mas, saya ingin bertukar jiwa dengan para petani yang setiap waktu harus ke sawah-sawah itu. Menggarap tanah-tanah Tuhan lalu menghasilkan biji-biji dan buah-buah bermutu. Mereka semua melakukannya, sembari tertawa, mas. meski kaki kotor dipenuhi tanah. Walaupun begitu, saya percaya, tanah-tanah itu adalah tanah-tanah yang suci, diciptakan untuk kita, manusia. Maka merekalah orang-orang suci pemberi makan kita, sejatinya merekalah orang-orang suci itu, mas. Pembawa pesan dari Tuhan, tanah untuk diolah. Sedangkan kita? Saya? Hanyalah kapitalis serakah dan menyedihkan yang menguras tenaga mereka dengan uang. Saya tau wajah beras-beras itu, dan saya mampu membelinya dengan wajah uang. Ada uang ada barang, begitu mereka bilang. Tapi, di mana nilainya? Mungkin hampir tidak ada. Mana saya tau petani-petani itu makan dengan layak atau tidak? Apakah mampu mereka mendanai anak-anak mereka untuk belajar selayaknya? Berpakaian selayaknya? Mana saya tau? Yang saya tau, tenaga mereka dihargai oleh lembaran kertas dengan gambar orang-orang yang telah tewas. Iya, tenaga orang-orang nan suci itu. Adilkah ini Tuhanku? Beginikah wajah-wajah utusan-Mu di dunia? Yang mengolah titipan-Mu, memberi makan semua dan lalu tidak mampu melakukan semua? Mereka yang mulia itu Tuhan? Meskipun tidak semua tidak mampu, tapi ada. Iya kan Tuhan?
Sedikit banyak saya mencoba menyelami hati mereka. Sendiri, lagi-lagi hanya sendiri tanpa kata. Semata-mata tentang apa yang mereka pikirkan tentang orang yang memiliki kertas dengan gambar orang-orang tewas, yang lebih banyak dari mereka. Mungkinlah mereka berfikir saya ini beruntung. Tanpa perlu berlendhut sudah bisa ongkang-ongkang begitu saja. Tanpa harus menghanguskan punggung, hidup sudah tersambung. Hanya perlu suara sedikit keras, apa-apa sudah tersedia. Mereka pikir saya ini bahagia, karena onggokan kertas cetakan Negara. Sebentar, saya mau tertawa. Hahaha.
Mana mungkin saya menyalahkan pikiran mereka? Tak ada satupun orang yang tidak suka uang, di dunia ini, di dunia di mana orang-orang dihargai dengan gambar-gambar pendahulu mereka yang kini sudah pasti tidak lebih dari bangkai. Dan saya pun berada di rumah kuning ini semata-mata atau tidak semata-mata, karena uang kok. Itu semua, pikiran-pikiran gila, menurut saya. Pikiran gila kaum jelata, menurut saya. Dan, pikiran gila kapitalis tukang ongkang-ongkang, menurut mereka. Tapi, menurut kamu, pikiran-pikiran ini disebut Wang-Sinawang saja. Sederhana. Saya mau tertawa dulu, hahaha.
***
Sebuah surat undangan cantik dihantarkan ke rumah kami. Rupanya, sebuah reuni. Reuni dari tempat saya belajar dulu. Tempatmu belajar juga, mas. ah, benar-benar kebetulan yang bukanlah sebuah celaka. Terdengar seperti cerita murahan yang pernah saya baca. Bagaimana lagi? Ini nyata. Mungkin, saya bisa bertemu denganmu, mas. Di belantara pecinta bahasa dan sastra. Mungkin saya juga bisa melepas sakit rindu yang terbungkus dalam diam juga. Siapa pula yang tau, jikalah kamu masih menyukai warna yang saya suka juga. Merah.
***
Saya rias wajah saya, yang cantik kata mereka. Tak perlu saya tebalkan apapun, sudah lah saya merasa cukup dengan wajah ini. Rambut saya sudah cukup indah dengan digerai saja. Saya belah sedikit ke kanan. Saya lihat pula dada saya terlihat terbelah dengan sempurna, di tengah, bukan di kanan. Ah, mana ada belahan dada ke kanan. Saya pakai gaun ini. Gaun merah, bukan merah hati. Tapi merah yang menyala seperti api. Saya terlihat seperti biasa saja. Ah, berbeda, beda. Tetap berbeda. Kali ini saya lebih sumringah mas. saya tau saya akan bertemu denganmu, meski mungkin hanya sekilas saja. Namun, dia salah kira. Dia kira saya sumringah karena dia. Karena dia tak lagi sibuk bekerja, dan bersedia menemani saya dalam pesta reuni ini. Reuni kita, mas. Ya sudahlah. Saya biarkan dia salah kira. Dan bagaimana jadinya jika dia tidak salah kira? Entahlah. Mudah-mudahan dia tetap selembut ini. Mudah-mudahan, mas.
***
Sebuah ruangan yang dipenuhi oleh meja-meja berisi makanan siap makan. Sedikit saja kursi yang tersedia di sini. Dan dia dengan cepatnya bisa menemukan kursi dan meja buat kami berdua. Saat dia menawarkan lengannya untuk digandeng, saya melirik ke kanan dan tersenyum seperti biasa. Kami berjalan dengan serasi seperti pangeran dan putri, mungkin.
Lalu kami bertemu sahabat-sahabat lamaku yang juga telah membawa suami-suami. Beberapa membawa pula anak mereka. Tangan-tangan kecil mereka pun sering menyentuh jemariku ketika aku menggendongnya. Hatiku pun luluh seketika. Jiwa-jiwa tanpa dosa yang mengetahui asal mereka pun tidak. Mana mereka tau kalau dahulu mereka adalah kecebong dan telur dari selangkang masing-masing orang tua mereka? Yang mereka tau hanyalah menghisap puting susu, menangis saat tak mampu, dan tertawa di saat ada yang lucu. Tapi justru itu, mereka memanglah lucu. Pantaslah dia ingin sekali memiliki satu saja dari mereka. Mungkin karena itu, karena mereka memang lucu. Atau mungkin tidak? Entahlah. Namun, yang saya mau berbeda. Saya mau memiliki mereka, hanya dengan orang yang saya cinta. Itu saja. Mengapa? Salah? Biarlah.
Lalu sesekali ada yang bertanya, dimanakah putra saya. Mana saya bisa jawab? Bisa sebenarnya, namun sulit. Sedikit aneh bahwa kami sudah bertahun bersama dan tidak segera memiliki pemenang dalam pertandingan kecebong yang berenang-renang ke arah telur itu. Pasti mereka berfikir, yang mana yang payah? Kecebongnya atau telurnya? Begitu. Ah, menyebalkan. Tidak ada yang payah, percayalah. Tapi, si telur dikendalikan oleh butiran mutiara mungil dari si empunya tubuh. Biarlah, tubuh ini tubuh saya. Kenapa seakan jadi urusan mereka, mas? kenapa? Tak bolehkah saya memilih, barang sekali saja dalam hidup ini setelah kepatuhan-kepatuhan yang memuakkan di dunia yang saya huni? Sedikit banyak, pertemuan-pertemuan kami dengan mereka hanya menimbulkan kemuakkan yang merupakan sebuah niscaya untuk muncul di kerongkongan saya setelah pertanyaan menyebalkan itu.
Saat saya kelabakan dengan pertanyaan-pertanyaan memuakkan itu, kamu datang, mas. bukan sekedar datang. Kamu mendatangi kami, dengan berani. Kakimu tidak lagi terhalang oleh genggaman tangan manapun dan siapapun. Saat kamu datang, saya tidak melihat ada yang mengikuti, barang seorang istri, ataupun bayi. Kamu benar-benar hanya sendiri. Penampilanmu masih sama, tidak rapi. Dengan celana jeans sobek di lutut, kemeja hitam seadanya, rokok yang masih terselip di mulut yang buru-buru kamu matikan, rambut mengombak yang terlalu panjang untuk ukuran rambut laki-laki, dan sedikit banyak acak-acakan. Tidak lupa mata bulat dan jenakamu yang menggemaskan, yang saat menatapnya, mampu melemahkan lututku, dan di saat yang sama memberi kekuatan aneh untuk memerahkan pipi ini. Saya lihat jarimu, tidak ada bongkahan besi apapun yang kamu pakai, mas. apakah ini artinya kamu menepati janjimu? Mungkin.
Ramai suasana di meja ini mas, di meja di mana kita bertemu kembali, meskipun saya tidak lagi sendiri. Dan kamu berbicara seakan tanpa arti. Bukan, bukan tanpa arti saja. Tapi… seakan pertemuan kita waktu itu hanyalah tanpa arti. Pertemuan di tempat kita menghabiskan senja, dahulu kala, mas. Di mana saya tersipu malu dengan memar di kaki.
Tidak hanya di meja, mas, di tengah sana pun orang-orang ramai berdansa, menari dengan sangat gembira. Ada yang menari dengan pasangannya, ada yang menari dengan anak-anaknya juga. Menyenangkan sekali melihatnya. Saya pun mau, sebenarnya, menari, dengan kamu, tapi, seseorang merangkul saya dari belakang, mengajak saya berjalan ke tengah, ke arah mereka menari, mas. Saya pun mau, pada akhirnya.
Dia tersenyum padaku, mas. Lalu bersama kami melangkah ke tengah, ke arah mereka yang juga menjajakan langkah. Dia pegang tangan saya, saya pegang tangan dia. Dia lingkarkan tangannya ke pinggang saya, saya gelantungkan lenganku ke pundaknya. Dia dekatkan kepalaku ke dadanya, saya terkejut. Mengapa harus menari seperti ini, mas? mana bisa saya mencuri pandang ke arahmu jika begini? Belum selesai saya terkejut, dia mulai melangkah ke samping, sembari menunduk ke arah pundak kiri atasku. Terus menerus ke kanan ke kiri, sesekali ke belakang dan ke depan. Tarian yang begitu lembut darinya. Seakan dia sedang menari dengan cangkang rapuh yang sangat berharga dan mudah pecah. Nafasnya pun terasa berhembus di telinga kiriku. Saat saya mampu, saya jauhkan kepala saya dari dada kirinya, saya tersenyum padanya. Dan menunduk, lalu melihat ke arahmu. Kulihat rokok yang ber asap-asap mengepul berbentuk awan, putih, bukan kelabu. Kulihat pula mata jenakamu menatap ke arahku, bibirmu tersimpul sempurna, indah, sangat indah. Bagaikan mata air di tengah kegersangan, saya ingin meneguknya mas, senyumanmu memunculkan dahagaku. Saya ingin menyentuhnya lagi, seperti dulu, barang sekali saja, mas.
***
            Dahulu, saat kita bersama, saya dan kamu, mas. semuanya begitu indah. Saya sudah membayangkan banyak cita-cita. Tak lupa pula kita berangan-angan untuk hari depan. Di sebuah taman di atas atap kamarmu, mas. Saya masih ingat peristiwanya. Saya rangkul lengan kananmu, lalu saya sandarkan kepala ini di sana. Rasanya hangat dan sangat mesra. Lalu saya berkicau tentang hari depan, tentang berapa bayi yang kita miliki kelak, tentang rumah yang akan kita huni, tentang nama-nama indah yang akan kita miliki di rumah itu, mas. Saya tertawa-tawa dan riang sekali, kamu juga, iya kan mas? Lagi-lagi setiap waktu kamu tersenyum dan menunduk ke arahku, saya malu mas, tapi kutarik lenganmu bermaksud mempercandai saja. Tapi terlalu kuat, dan matamu menelan mataku, bulat-bulat. Jari jemariku tidak lagi kuat menggenggam lenganmu, lemas aku menatap mata indahmu, mas. Lututku pun mulai lemas olehnya, perasaan apa ini? Untunglah dinding ini kuat menopang punggungku, mas. Untung pula senyumanmu menggugah ku untuk kuat lagi. Mendekat, dan makin mendekat. Tak hanya mendekat, kamu pun mulai mendekap, bibirmu pun mulai melahap ketercenganganku. Dan kitapun melahap kemesraan tiada batas. Buah yang diteguk nenek moyang kita sehingga umat manusia terusir dari surga hingga tiba akhir dunia.
***
Dunia ini bukanlah dunia satu jalur seperti tertulis di awal mula kitab-kitab kita, mas. buah yang diteguk Adam dan Hawa bukan lagi satu-satunya alasan terusir dari surga. Manusia kini memiliki surganya masing-masing, nerakanya masing-masing. Bapak saya bilang kamu akan masuk api penyucian yang kekal, bapak kamu bilang saya kafir dan pantas masuk neraka selamanya.
 Oh, mas, panasnya api neraka pun tak akan menandingi gonjang-ganjingnya dunia saya saat itu. Saat bapakku menamparmu seperti sampah, saat ibumu enggan lagi memberikan senyumnya untukku saat mereka tau siapa saya dan siapa kamu. Saat masing-masing dari mereka merasa memiliki surga terpantas untuk anak-anaknya. Saat itu saya lebih dari sekedar gila, namun saya diam saja. Saya berjanji saya tak mau lagi menemui kamu atau siapapun, sekalipun kamu telah berusaha membawaku pergi jauh dari tempat ini, tempat terkutuk ini dengan kartu-kartu penghambat cinta kita, begitu kamu bilang. Saya tidak mau mas. saya hanya mau menemui Tuhanku, Tuhan kita yang cuma satu. Sudilah kiranya Dia menemui saya melalui jalan ini. Sudilah kiranya Dia menemuiku setelah saya berlutut dan berdoa. Sudilah kiranya Dia menemuiku untuk sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaanku, mas. Meski setelahnya saya harus meleleh dan menjadi debu di neraka, barang sekejap saja sudilah Dia menemuiku, mas. Saya pecahkan kaca yang melindungi gambar kita berdua. Saya iriskan ke tangan kiri saya, lagi, terus menerus, menghujam hingga dalam, tidak hanya satu, mungkin seribu. Tidak sakit mas, sama sekali tak ada bandingannya dengan tamparan bapak saya kepadamu. Tidak ada. Saya tau, matipun saya akan tersenyum. Di nerakapun saya akan bersorak.
***
Tariannya pun mulai dihentikan. Saya menengok ke arahnya, tersenyum… mesra. Lalu kamu ganti mengajak saya, juga berdansa, menari seperti api. Dan dia mengijinkan saja, dia pikir kamu sahabat saya, mas. Iya, kamu memang sahabat saya, sahabat hati saya yang tidak mungkin saya hapuskan.
Mas, perasaan aneh apa ini? Dadaku bergetar dan bergejolak. Senyumku mengembang tanpa dipaksakan. Tubuhku ringan seperti awan yang diterbangkan Tuhan. Genggaman tanganku erat, dan rapat, padamu, mas. Tubuhmu masih sama seperti dulu, tinggi menjulang dan kokoh seperti besi, namun hangat di semua sisi, tanpa terkecuali. Kucium bau rokok di mulutmu, rokok yang sama yang dulu sering kamu hisap. Kuhirup bau ketiakmu yang sangat menenangkan, Kuhirup dalam-dalam, seakan ketiakmu adalah udara terakhir yang mampu saya hirup. Ku tatap matamu, dalam-dalam juga seakan menatap keindahan terakhir yang Tuhan berikan padaku, mas. Oh, mas demi Tuhan, matamu indah sekali, lututku lemas sebentar, lalu kuat lagi. Oh, ternyata perasaanku masih sama denganmu, saya masih menggilaimu mas. Saya gila, detik ini.
Tarian apa ini? Mengapa saya mampu menari sebegini rupa? Saya menari dengan ceria, seperti menghirup kegembiraan tertinggi dalam hidup saya. Saya berputar dan bersandar dalam naungan lenganmu. Lalu sebentar sebentar saya angkat kaki saya, seperti penari yang mahir menggerakkan tubuhnya. Tanpa ragu saya tertawa, lepas, sangat lepas di depan mereka. Saya tidak lagi peduli dengan dia. Bilapun setelah ini saya harus mati dibunuhnya, saya rela. Lalu di gerakkan terakhir, saya tersenyum dan memegang jari jemarimu. Namun tubuh ini terus terseret mundur menjauhi kamu, berakhir? Tarian ini berakhir begitu sajakah? Genggaman jemarimupun kian menghilang. Dan matamu tak lagi dekat denganku, tubuhmu pun menjauh, dadamu tak lagi bisa disandari oleh pipi ini. Oh mas, kamu membuatku gila lagi. Kegilaan kedua setelah tarian ceria tadi. Mas, kamu canduku, mengapa kamu muncul lagi, tak bisa lagi saya ambil hati yang tertinggal di dadamu. Saya akan tinggalkan di sana dengan sengaja. Saya mau kamu mas, hanya kamu.
***
Ranjang ini kini sepi. Tak ada lagi suara berdencitan seperti tertindih beban. Rumah ini pun semakin sunyi, seperti tanpa penghuni. Penghuninya cuma saya mas. Dan saya hanya suka berdiam. Tak ada kicauan, teriakan maupun lenguhan apapun lagi. Dia sering pergi. Dia sering tidak tersenyum. Dia sering hanya pulang dengan kelelahan. Dia tidak pernah menindih saya lagi. Dia tidak juga bertanya apapun kepada saya, tentang apapun. Mulai di sini saya sedikit bingung. Oh, tidak, saya tidak bingung, hanya pura-pura bingung. Saya tau dia cemburu. Saya tau dia tidak bisa menerima. Terakhir dia berkata dengan nada bertanya, “ternyata kau mahir berdansa”. Dia berkata sembari tersenyum, tapi tanpa memeluk ataupun menindih seperti yang biasa.
Oh Tuhan, saya lega. Tak perlu lagi saya rajin-rajin mengingat kapan saya harus menelan butiran mutiara. Dia tak lagi sudi menyentuh saya. Tapi, mengapa hanya begini saja? Ayo usir saya, ayo pukul saya, bunuh kalau perlu. Kenapa dia tidak melakukannya? Kenapa, mas?
***
Lukisan di dinding sebelah kanan itu seakan menghakimi saya. Seakan saya sedang melakukan sesuatu hal yang salah. Salah dari mana? Tanyaku. Ini bukan salah, ini benar namun sedikit gila, saya memprotes lukisan yang tetap kukuh dalam diam dan dakwa. Ya memang gila, bertanya pada lukisan saja sudah gila, apalagi memprotes dakwaannya.
Tak lama kemudian kamu muncul mas. Tak usah aku menunggu menaun seperti dulu. Kamu selalu saja menatapku seperti itu. Dari dulu hingga kini. Saya hanya bisa tersipu seperti gadis lugu. Ini saja sudah gila, iya gila, saya masih menggilaimu.
Sekarang kamu tetap sendiri, seperti apa yang kamu mau waktu itu. Benar-benar tak ada wanita lain selain saya, mas. Saya menangis di hadapanmu, tiba-tiba. Gila. Saya benar-benar rindu dengan kamu mas, ingin saya menyeretmu ke pelukanku, menciumimu hingga tak lagi saya mampu dan bernafsu.
Lalu kamu datang ke kursiku, berlutut di bawahku, dan menatap mataku. Kamu pegangi pipi saya yang entah kini berwarna apa. Bibirmu tersenyum tanpa menghiba, senyuman kuat namun tak mampu. Senyuman kuat yang dikuat-kuatkan saat tak bisa mencapai sesuatu. Setengah berdiri kamu peluk saya. Saya hanya mampu pejamkan mata sembari terisak. Memelukmu.
***
Suara tetesan air terdengar samar-samar di telinga kiri saya. Tubuh saya terlentang di ranjang yang sepertinya beda dari yang biasa. Saya coba gerak-gerakkan tangan saya, namun tidak bisa. Saya coba sedikit berdamai dengan tubuh ini dahulu, sejauh yang saya mampu. Mula-mula saya gerakkan jemari di kedua tangan. Berat, seperti ada lapisan kedua di tangan kiri. Dengan susah payah, saya gerakkan leher saya, mencoba menerka apa yang terjadi. Mata ini telah terbuka, namun sulit untuk mengikuti suasana aneh ini. Sekeliling ruangan ini berwarna biru sangat muda, mendekati putih. Di telunjuk kanan saya dipasang penjepit entah apalah itu. Di tangan kiri saya tertancap selang yang membuat ngilu. Lalu pergelangan kiri saya terbalut pembalut luka yang berlebihan tebalnya. Ah ! saya mengumpat dalam hati. Mana Tuhan? Mana? Saya ingin menemui-Mu. Kenapa saya malah berada di tempat macam ini?
Mulai dari sini saya diam setiap waktu. Meskipun tanganku sudah tak halus bagai kulit bayi, tapi wajah saya memang jelita. Mau apa saya dengan kejelitaan ini kalau tanpa kamu, mas? Ah, saya tau. Saya akan dijual, sebentar lagi. Melawan? Jangan mimpi Kama! Jangan mimpi! Sudah Kama kamu diam saja! Mereka pikir kamu hidup saja sudah untung! Mau melawan? Manusia mana yang sudi berfikir bahwa kamu wanita baik kemudian kalau kamu melawan? Kataku pada diriku sendiri. Lalu bagaimana dengan Seno? Bukankah kamu mencintainya Kama? Iya! Ah aku mencintainya, sampai gila dan putus urat-uratku! Tapi saya muak! Mau berapa lagi manusia yang harus saya atau kami lawan di atas perbedaan yang hampir terkutuk ini? Haha, seakan ada juga gunanya melawan, kalau melawan, berarti saya dan dia ini terkutuk! Terkutuk karena dikutuk! Dikutuk oleh anak cucu Adam Hawa yang terusir dari surga itu! Mengerti Kama? Iya, mengerti? Sudah! Lupakan Seno! Siapa dia? Dia akan masuk api penyucian yang kekal! Kau tidak! Mengerti Kama? Ah! Tapi bagi Seno dan mereka sayalah yang kekal di neraka! Ah!
Lalu tiba-tiba semuanya terang, sangat menyilaukan, lalu gelap seketika.
***
            Saya buka mata saya. Saya coba menerka apa yang terjadi semalaman, ah, dua tiga malaman. Terasa ada yang aneh dan berat di dadaku. Saya tengok ke kanan, ah ternyata kamu, mas. Ternyata bukan hanya di dadaku, ada yang mengganjal di punggung atasku, ah, kamu juga mas. Jadi, kami gila selama ini. Melepas rindu sampai tak mau lepas dari kamu, seperti kutu yang menempel dan membuat gatal. Saya singkirkan lenganmu yang berat dan keras seperti batu itu perlahan, demi tak ingin membangunkan. Lalu saya cari potongan-potongan kain yang masih mungkin ditemukan. Ah, seluruh sudut rumahmu ini penuh dengan kain-kainku, mas. Ternyata yang gila bukan cuma saya. Kamu juga.
            Lalu kamu bangun, demi mendengar saya merangkak-rangkak memberesi kegilaanmu. Kamu tersenyum menatapku, mau bagaimana, saya juga tersenyum menatapmu, dan matamu tetap saja indah seperti berlian, bergemerlapan, tidak membosankan. Sembari menutupi tubuh telanjang ini saya menyeret diri ke kamar mandi, membersihkan diri. Sedikit lemas.
Ah, iya ! Lalu bagaimana dengan rumah besar itu? Entahlah, mungkin dia juga tidak sudi terlalu sering pulang demi mendapati saya tetap terdiam walaupun dia telah merayu-rayu saya dengan kicauannya. Tapi entahlah, saya akan coba kembali, ah, saya harus kembali ke sana. Supaya tidak dianggap gila, meskipun jelas-jelas saya gila.
***
Ramah sekali lelaki tua ini kepada calon pembeli yang kaya raya itu, konon. Tak ada sepatahpun jawaban yang saya berikan saat saya hendak dijual. Dijual dalam sebuah kemapanan yang kaku dan tanpa perasaan. Sekaku dan se-tanpa perasaan itu pulalah aku menanggapi pembeli ini. Mengapa harus berperasaan? Toh dia membeli “barang” bagus. Hal itulah yang sepertinya diisyaratkan oleh pria tua itu saat memuji-muji saya, mas. Di mataku, pembeli itu sepertinya memanglah kaya raya. Tampan juga dia. Tapi matanya tak pernah seindah matamu. Sudahlah, walaupun gila dan dipaksa, saya hanya akan pasrah dan berserah. Sudahlah mas, saya tak ingin memperjuangkan diri-diri kita yang namanya pun saling mengutuk. Biarlah saya mengutuki diri karena ketidakmampuan melawan, biarlah, bersenanglah, mas. Meskipun kamu tidak tau, setiap malam, saya menggaruk diri seperti orang gila di bawah pancuran air rumah ini. Setiap selesai dia tindihi saya. Mas, ingin saya keluar, namun tidak bisa. Pria tua yang harusnya melindungiku itu pun menjualku, mas. Begitu juga wanita setengah baya yang merias dagangannya ini sehingga menimbulkan birahi siapapun yang melihatnya, termasuk pembeli itu, mas. Saya hanya mampu diam dan berserah, pasrah, sembari belajar tersenyum seakan suka.
***
Saya buka pintu istana kuning ini, sedikit berderik suaranya. Tak ada seorangpun saya temui di ruang depan, begitu juga di ruang tengah. Saya pukul-pukulkan tangan ke pundak, pertanda lelah tak terkirakan. Lalu saya berjalan menyelusuri tangga dengan rambut setengah kering dan berantakan. Kancing baju saya pun lepas satu, sedikit repot menutupinya. Ah, sebentar lagi sampailah saya ke ruang kamar itu. Saya sudah membayangkan bisa beristirahat setelahnya, saya lelah, mas.
Saat saya buka pintu kamar, ternyata dia sudah duduk di pinggiran ranjang luas itu. Tanpa menoleh, seakan dia tau saya telah datang di istananya. Rambutnya berantakan, begitu juga bajunya. Dia menyuruh saya duduk di sampingnya. Saya tidak mau, saya ingin ke kamar mandi dulu, sekedar mengganti baju. Tiba-tiba dia membentak saya, memaksa saya duduk, mendorong saya ke sudut ruangan. Saya terkejut, menatap matanya dengan tidak percaya. Tubuh saya terjatuh dengan sempurna ke sudut ruangan ini. Kaki saya terkilir karena tidak siap menahan serangannya. Tubuh sebesar itu mendorongku dengan sangat kuat, masih untung tulang-tulangku tidak hancur, mas.
Dia bentak saya, bertanya darimana. Saya diam. Dia bentak sembari menampar saya. Saya hanya mampu menjerit. Sakit, mas. Saya lelah. Mengapa dia jadi segila ini, tidak pernah sekalipun dia kasar pada saya. Lalu dia lempari saya dengan cangkang butiran mutiara beserta isinya yang biasa saya telan mas. Dia marah, dia temukan itu mas, itulah yang membuat dia marah. Walaupun saya sudah tak lagi menelannya. Dia cengkeram leher saya, sakit. Saya sudah merintih-rintih memohon ampun padanya, tapi dia malah tertawa seperti anjing gila. Makin kuat dia mencengkeram leher saya mas. Lalu dia pandangi wajah dan tubuh saya dengan pandangan birahi berlebih sekaligus rasa muak. Mas, saya takut. Tidakkah dia berbelas kasih dengan memar di wajah dan tubuh saya?
Dengan mata merah, dia buka seluruh bajunya. Sebelum saya mampu bangkit dia sudah mencengkeram saya mas. Dilahapnya bibir saya seakan dia kelaparan. Saya kelabakan, tak mampu melawan dan kehabisan napas. Diraihnya seluruh tubuh saya bagai membuka bungkusan hadiah yang patut dirobek. Untuk meronta pun saya sudah tak mampu. Dia pegangi tubuh saya terlampau kencang seakan tulang saya ini tak mampu retak. Lalu dia pukul wajah saya, dia tampar saya terus menerus seperti orang gila. Disetubuhinya saya dengan kasar. Saya menjerit, sekencang-kencangnya. Dan makin kencang pula bumi ini berguncang. Saya tak lagi kuat, tubuh saya sangat sakit, sakit sekali, saya lelah, mas. Saya menyesal pulang ke rumah kuning ini. Di mana kamu mas? Tolong saya mas, sakit. Lalu saat bumi makin kencang terguncang segalanya menjadi gelap, seperti tanpa pelita.
***
Saya duduk diam di ruangan luas ini. Saya pegangi perut yang membuncit ini, mas. Saya akan memiliki anak mas. Anak yang sangat amat diinginkannya mas. Saya selalu bayangkan wajahmu seakan ini adalah anakmu, berharap anak ini akan menjadi seperti rupamu. Walaupun jabang ini adalah hasil perbuatan gilanya mas. gilakah perbuatannya? Atau patutkah yang dia lakukan padaku mas? Yang mana mas yang benar? Mas, datanglah kemari, saya ingin bersandar di pundakmu dan menangis, mas. Saya rindu kamu.
Tiba-tiba saya ingin menari, berdansa seperti saat kita dulu berdansa. Siapa tau kamu merasakannya. Siapa tau kamu akan hadir kemari. Ah, saya harus cantik. Ah, buncit saya tidak terlalu terlihat, kamu tak akan tau, mas. Saya berjalan ke ruang tengah, ruangan yang luas dan memiliki banyak meja. Saya mulai menggerakkan kaki dan tangan saya seakan ada kamu di hadapan saya.
Lalu, saya dengar kamu memanggil namaku, mas. Kama, Kama! Begitu kamu berseru. Lalu, saya datangi kamu. Bajumu hitam seperti biasanya, dengan tubuh tegap dan mata menggemaskan kamu mendatangiku. Lalu kamu datang menyentuh pipiku. Kamu tersenyum. Kamu bertanya, tentang perutku yang besar. Lalu saya berusaha menyembungikannya mas. Ah, saya bilang padamu saya tidak apa-apa. Tapi kenapa perut ini tidak mau disembunyikan. Saya mau berdansa dengan orang yang saya cinta. Ah, tubuh tidak tau diri. Saya pukul-pukulkan tangan saya ke perut besar menyebalkan ini. Lalu, sepertinya perut ini mulai mengecil. Saya merasakan ada tetesan air menjatuhi kaki saya. Sepertinya sudah. Sudah tersembunyi.
Lalu kamu bertanya lagi tentang apa yang saya lakukan. Saya bilang tidak apa-apa mas. Lalu kamu ajak saya berdansa. Saya berdansa, tertawa-tawa senang. Oh, bahagianya saya berdansa dengan kamu. Kamu tertawa juga. Sesekali kamu cium bibir saya. Saya pun merasa sangat bahagia. Kamu tetap peluk saya, saya juga. Sesekali saya angkat kaki saya bagaikan penari mahir. Kamu tertawa-tawa bahagia, seperti tadi, masih sama.
Tiba-tiba, kamu mundur dengan teratur, tapi bibirmu tetap tersenyum dengan indahnya. Matamu tetap berkilapan bagaikan berlian, menggemaskan dan indah. Kamu mulai lepaskan genggaman tanganmu atasku mas. Saya telah teriak dan memanggil namamu, namun kamu seakan tak mendengar, dan tetap tersenyum lalu melangkah pergi. Ragamu memudar mas, seperti api yang ditiup oleh angin. Mas, kamu di mana! Mas, bawa aku denganmu mas! Aku butuh kamu! Lihat mas! Lihat! Aku kini cantik! Perutku sepertinya tidak buncit! Aku tidak bohong mas! Mas, kembali! Berdansa denganku! Menari seperti api, seperti tadi. Saya menjerit terus menerus. Memanggil namamu, kini saya menangis. Meraung-raung seperti macan gila. Ah! Saya memekik! Tiba-tiba tubuh saya menggenjang kesakitan. Gila. Mau dimana saya dibawa oleh kesakitan ini.
***
Ah, hidangan seperti ini lagi, setiap hari. Sangat berbeda saat wanita cantik itu masih ada. Wanita tidak tau diri itu, yang aku nikahi bertahun lalu. Coba kalau dia tidak cantik, sudah aku buang jauh-jauh dari rumah ini.
Saat hari pertama aku dengannya, wajahnya datar tanpa memiliki guratan apapun. Biarlah, dia, wanita cantik ini milikku kini, pikirku waktu itu. Saat aku menyentuhnya pun, dia seakan tanpa reaksi, namun kurasakan tubuhnya bergetar seperti ketakutan. Aku maklumi, mungkin baru pertama kali. Saat aku mulai menyerangnya, aku rasai tak ada apapun yang menghalangi. Ah, wanita ini tak lagi utuh! Saat itu aku marah, namun sekaligus bernafsu menggaulinya. Tak mungkin aku hentikan. Maka aku gencarkan serangan-seranganku pada tubuhnya. Dia sering mengerang saperti kesakitan. Namun siapa peduli. Dia milikku. Aku berfikir, sekalipun dia tak lagi utuh, tapi dia cantik, dan dia bisa menghasilkan anak-anak untukku. Tapi sepertinya aku salah.
Wanita yang kabarnya cerdas ini ternyata tak lebih dari wanita gila tidak tau diri. Masih untung ku maafkan dia yang jebol itu. Sedari dulu hingga sekarang, tak pernah ku ketahui alasan tolol apa yang membuatnya meneguk butiran terkutuk itu. Saat aku tau, aku marah. Untunglah dia tidak mati! Tubuh kecil dan lemah menyebalkan itu bisa hancur dengan mudah dengan tanganku ini! Dengan tragisnya dia mati bersimbah darah di ruang tengah! Bukan ditanganku, entah di tangan siapa. Tak ada jejak apapun yang menunjukkan dia tidak sendiri. Dia sendiri! Dan dia mati! Gila, benar-benar gila wanita cantik dan legit itu!
Sekarang ini aku sedang duduk di ruang makan dengan anak perempuanku, yang selamat dari simbahan darah ibunya. Dia lahir atau dipaksa lahir sebelum waktunya. Saat lahir, dia sudah cacat. Kaki kirinya tak mampu menopang tubuhnya yang juga kecil itu. Wajahnya cantik seperti ibu kurang ajarnya itu. Aku sangat menyayanginya. Aku tak pernah sekalipun berkata bahwa ibunya hanyalah wanita kurang ajar dan tak tau diri. Saat itu, dia memamerkan padaku, buku yang didapatnya dari temannya. Ada gambar seorang penari yang menunjukkan kaki sempurnanya. Lalu, gadis kecil di hadapanku itu berkata, “Papa, seandainya kakiku tidak cacat seperti ini, dan sempurna seperti milik mama, mungkin aku bisa menari dengan bebas ya pa, benar-benar bebas dan cantik, seperti penari ini, iya bebas pa.”